Hidayatullah.com–Saat seorang ibu sudah tidak lagi berfungsi sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka tatanan sosial akan rusak.
Meningkatnya kasus sodomi, lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), diangtara akibat pemahaman kesetaraan gender yang salah. Demikian disampaikan penulis novel “Balada Si Roy” yang popule dipanggil Gol A Gong.
“Keluarga sekarang tampaknya bekerja keras. Belum merasa sejahtera kalau belum ada magic jar, belum ada kulkas, belum ada motor, belum ada laptop. Fungsi Ibu sebagai perpustakaan pertama bagi anak-anaknya berubah karena banyak ibu-ibu pekerja. Sehingga anak-anak dititipkan ke pembantu atau didik oleh televisi,”ulasnya ketika ditemui hidayatullah.com di kediamannya, Serang, Banten, Sabtu pekan lalu.
Keprihatinan seperti itu sudah lama dipendamnya sejak ia masih bekerja di sebuah stasiun televisi di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta.
Menurutnya, setiap sore, ia berada dalam satu bis bersama para wanita pekerja di Jakarta yang juga akan pulang ke rumah mereka di Serang. Ia bertanya-tanya, jika ibunya bekerja, siapa yang mendidik anak-anak mereka?
Pada isterinya ia pernah bertanya mengenai emansipasi.
“Dia bilang, kesetaraan itu bukan berarti bekerja di luar rumah, meninggalkan anak-anak. Kesetaraan itu sebetulnya bagaimana suami menghargai apa yang dilakukan isterinya. Bahwa mengurus anak, memasak, sama saja dengan bekerja kantoran,”demikian ujar pria bernama asli Heri Hendrayana Harris menirukan sang istri, Tias Tatanka.
Dukungan suami pada isteri untuk bekerja di rumah, kata Gong, bisa berupa penyediaan fasilitas seperti laptop dan internet. Dari rumah si isteri bisa mengaktualisasikan dirinya.
“Tinggal milih aja, mau ngantor di luar rumah atau kantor ada di rumah. Itu pilihan,” tukas pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, 15 Agustus 1963 itu.
Pendiri komunitas menulis Rumah Dunia (RD) ini menngaku ngeri saat membayangkan anak-anak di bawah umur sudah bisa mengakses internet. Berbagai kasus pornografi yang sudah dilakukan anak di usia sekolah.
“Saya saja yang bekerja di rumah harus melakukan pengawasan terhadap penggunaan internet. Walaupun di rumah, tidak serta merta selalu di samping anak-anak saya. Kadang saya di lantai dua, isteri di ruangan lainnya,”ucap pria yang dimasa mudanya berkelana ke penjuru nusantara itu.
Bagaimanapun, menurutnya, bekal agama dan nilai-nilai sosial sangat berguna membentengi anak dari ancaman pornografi.
Pengamalan ini pernah dialami anaknya yang mengadu pada sang istri karena di rumah tetangga sang anak disuguhi film porno.
“Anak saya nangis, datang ke isteri saya. Dia kasih tahu kalau di rumah temannya disetel film porno,”cerita Gong tentang anaknya yang saat itu berusia 6 tahun.
Oleh isterinya, tetangga itu langsung didatangi dan diultimatum untuk tidak lagi berbuat hal tersebut.*