Hidayatullah.com—Banyak orang mulai cemas dan resah dengan maraknya propaganda perilaku seks menyimpang; lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Demikian pernyataan disampaikan Anggota DPD RI terpilih, Fahira Idris.
“Sebagian orang berusaha memberi kesan bahwa hanya saya saja yang memprotes keberadaan buku tersebut. Padahal, yang saya lakukan adalah menyuarakan keluhan masyarakat yang memang sudah sangat resah dengan propaganda semacam ini,” ujar Fahira dalam acara silaturrahim bersama sejumlah perwakilan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia dan IndonesiaTanpaJIL (ITJ) hari Selasa (19/08/2014) di Jakarta.
Pertemuan yang berlangsung di Rumah Damai Indonesia (RDI) sengaja digelar untuk membicarakan maraknya propaganda LGBT yang makin terbuka.
Sebelum ini, Fahira sempat mendatangi Penerbit Elex Media yang menerbitkan buku yang berisi propaganda LGBT pada remaja.
Ia mengaku tak datang dengan tangan kosong, namun dengan membawa lebih dari 500 surat keberatan dari berbagai kalangan masyarakat.
“Propaganda LGBT ini sangat meresahkan, karena sejak dahulu Indonesia adalah negeri yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan atau HAM juga harus ditafsirkan berdasarkan nilai-nilai agama, bukan dengan ideologi sekularisme,” kata Fahira.
Meski demikian, Fahira berharap kaum LGBT tidak menganggapnya sebagai musuh yang akan mengancam keberadaan mereka.
Fahira juga menghimbau semua pihak untuk menghindari cara-cara anarkis dalam menyelesaikan permasalahan.
“Banyak yang merasa saya memusuhi kaum LGBT ini. Sebenarnya tidak. Pada kenyataannya, mereka ada di antara kita, dan kita tidak menganggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Akan tetapi propagandanya harus dicegah, dan kita semua berkepentingan untuk melindungi keluarga kita masing-masing,” ungkapnya.
Pendapat Fahira ini diamini juga oleh Rita Soebagio, psikolog yang aktif di AILA. Menurutnya, penanganan masalah LGBT ini memang harus dilakukan secara berhati-hati.
“Jika kita menekan kaum LGBT ini, mereka justru akan bersikap defensif dan mencari pembenaran,” ungkapnya.
Sementara Tetraswari, seorang penggiat AILA, juga berpendapat bahwa penolakan terhadap LGBT tidak perlu dipandang sebagai sikap ofensif kepada mereka.
“Kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka bisa sembuh dari kecenderungan ini, dan kita ingin mereka sembuh justru karena kita menyayangi mereka,” ujarnya.
Fahira menyayangkan sebagian pihak yang justru bersikap arogan dengan mempertanyakan motifnya. “Ada yang mempertanyakan mengapa saya mau repot-repot menyampaikan keluhan masyarakat? Saya memang sudah terpilih sebagai anggota DPD, tapi belum dilantik. Yang saya lakukan adalah menyuarakan suara hati masyarakat, termasuk suara hati saya sendiri. Di mana kesalahannya?” pungkas Fahira.
Seperti diketahui, propaganda LGBT belakangan ini dipandang telah sangat masif oleh sebagian masyarakat, terutama melalui opini-opini yang beredar di media massa dan di dunia hiburan. Sejumlah kalangan menilai bahwa propaganda ini merupakan anak kandung dari liberalisme yang jauh dari nilai-nilai agama dan telah mengancam tatanan keluarga di tanah air.*/Akmal (Jakarta)