Hidayatullah.com– Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persis Dr Jeje Zainuddin yang juga Ketua MUI Pusat berharap, pada usia 100 tahun Persis, ormas tersebut melahirkan sosok-sosok seperti Tuan Ahmad Hasan, Tuan Isa Anshari, dan sebagainya. Keduanya diketahui merupakan tokoh-tokoh nasional dari Persis.
“Kita bukan ingin memperingati dan bukan berarti juga kita boleh melepaskan begitu saja momen-momen penting, betulkah di 100 tahun muncul mujaddid-mujaddid? Sebagaimana dalam Al-Qur’an dikatakan ‘wahai Musa peringatkan kaummu dengan ayyamillah (hari-hari Allah) yang terjadi pada bangsa Israel’,” ujarnya pada dalam sosialisasi Muktamar XVI Persatuan Islam di Subang, Jawa Barat, baru-baru ini.
Mengenai gerakan dakwah, menurutnya, harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Apabila tidak beradaptasi, maka akan selalu ketinggalan.
“Dulu TV (televisi), koran, majalah adalah media canggih dakwah, sekarang sudah beralih ke Youtube, Facebook, dan sebagainya. Maka, gerakan dakwah Persatuan Islam sekarang adalah tatbiq (implementasi) dari gagasan dan ide brilian para pembaharu,” kata Ustadz Jeje, demikian dikenal.
Ia mengatakan, pada abad kedua, Persis masih bisa menerapkan ide-ide brilian, tetapi bagaimana menerapkan gagasan tersebut menjadi miniatur Islam, mulai dari sakhsiyah Islamiyah, usrah Islamiyah, qaryah Islamiyah, hingga baldah thayyibah. “Kenapa harus dalam bingkai NKRI? Karena kita ada di Indonesia, tidak ada Persis Arab Saudi, kecuali perwakilan kita yang kuliah disana,” katanya.
Ia mengatakan, ormas merupakan organisasi sosial dan penyeimbang kebijakan negara. Ormas berbeda dengan aliran sesat yang menisbatkan mazhab menjadi aliran agama.
“Kenapa kita lebih ke NKRI? Karena kita untuk Indonesia bukan untuk luar negeri, berbeda dengan gerakan trans-nasional, mereka membuat gerakan di negaranya dan di transfer ke Indonesia, ini yang tidak membuat stabil negara,” katanya.
Muktamar ke-16 Persis mencanangkan “Transformasi Gerakan Dakwah Persis Mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin dalam Bingkai NKRI” sebagai tema besar kegiatan. Perhelatan lima tahunan di Bandung, Jawa Barat ini akan digelar pada April 2021.
Menurut Dr Jeje, tema itu harus menjadi inspirasi gerakan dakwah jam’iyyah. “Tema ini bukan untuk gagah-gagahan atau keren-kerenan, tetapi bagaimana menjadi spirit jam’iyyah dalam mewujudkan Islam rahmatan lil alamin dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya Ahad dikutip dari IndonesiaInside pada Selasa (29/12/2020).
Menurutnya, pemilihan diksi transformasi lebih menekankan pada perubahan rupa, bentuk, sifat, fungsi, gaya, metode atau pola, bukan isi. Perubahan ini sangat dimungkinkan bahkan menjadi kebutuhan seiring perkembangan zaman dan teknologi.
“Kenapa kita harus transformasi? Karena kita sudah berbeda zaman dan Persatuan Islam telah satu abad secara hijriyah meskipun masehinya 1923, maka bukan lagi menyongsong,” jelasnya.
Ia lantas mengutip tafsir Ibnu Katsir tentang kisah Ashabul Kahfi, di antara tinjauan tafsir kenapa dipisahkan 300 dengan sembilan tahun, ternyata 300 tahun apabila dihitung kalender masehi, sedangkan 309 tahun menurut perhitungan hijriyah. Artinya dalam 100 tahun terdapat perbedaan 3 tahun antara masehi dengan qamariyah.
Begitu pula dalam 100 tahun ada bisyarah dalam hadis Nabi bahwa Allah Subhanahu Wata’ala membangkitkan orang-orang yang memperbaharui agamanya.
Dr Jeje pun berharap tema Muktamar itu menjadi landasan dan inspirasi gerakan dakwah di abad kedua Persis. “Tentu dari tema ini diharapkan ada perbaikan dari tatanan kita mengelola jamiyyah, sehingga ada perbaikan minimal untuk kampung dan negeri kita,” sebutnya.*