Hidayatullah.com– Pengamat Ekonomi Islam, Agustianto mengatakan bahwa pola hidup komsumtif yang berlebih-lebihan (isyraf, red) itu tidak diperbolehkan. Bahkan, pola hidup komsumtif yang seperti itu harus bisa dihindari oleh umat muslim saat Ramadhan.
“Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan berdakwah untuk sosialisasi melalui khitobah, ceramah atau tausyiah di dalam majelis-majelis taklim, pengajian dan lain sebagainya,” ujar Agustianto kepada hidayatullah.com belum lama ini.
Selain itu, kata Agustianto, juga bisa mensosialisasikannya dengan tulisan melalui media-media massa, seperti media online (medsos), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid, bulletin dan lain sebagainya) bahkan media televisi sekalipun.
“Jika langkah tersebut terus menerus dilakukan, saya berharap pola hidup komsumtif yang berlebih-lebihan selama Ramadhan itu bisa berkurang,” tutur Agustianto.
Sebab, secara psikologis langkah dakwah dan sosisialisasi yang seperti itu menurut Agustianto, bisa mempengaruhi psikologis para pedagang yang setiap Ramadhan menaikkan harga barang kebutuhan masyarakat.
“Langkah seperti itu tentu signifikan untuk dilakukan,” tegas Agustianto.
“Meski mereka belum bisa memastikan apakah harga akan naik karena belum bisa memastikan naiknya permintaan masyarakat saat Ramadhan,” imbuh Agustianto.
Sementara itu, Agustianto menyarankan masyarakat muslim di Indonesia supaya bisa memahami subtansi dan hakikat bulan Ramadhan, ketika Ramadhan dalam Islam tidak diajarkan perilaku pola hidup komsumtif yang berlebih-lebihan.*