Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Hubungan Umat Beragama di Aceh Singkil Baik, Gereja Liar dinilai Jadi Persoalan

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2015 07:31 7:31 am
Ahmad
Dipublikasikan 21 Oktober 2015 07:31
Bagikan
Laher Manik, berbaju hitam
Bagikan

Hidayatullah.com- Tak semua warga Kristiani di Aceh Singkil mengungsi keluar Kabupaten, sebagaimana pemberitaan sejumlah media nasional saat terjadi kerusuhan dan pembakaran undung-undung di Kampong Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh – Singkil.

Rupanya, mayoritas penduduk kampung justru memilih bertahan dan tidak mengungsi. Kalaupun ada yang mengungsi hanya sebagian kecil dari golongan lansia dan anak-anak.

Adalah Roka, salah seorang warga Kampong Suka Makmur yang mengaku tidak mengungsi ketika terjadi pembakaran undung-undung HKI (Huria Kristen Indonesia).

“Sebagian warga Kristen di Aceh Singkil memang ada yang mengungsi setelah bentrokan terjadi di Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan. Kami memang tidak diusir, kami hanya ketakutan saja. Ketika itu ada korban luka tembak dari pihak muslim hingga tewas. Kami takut ada pembalasan kepada kami. Karenanya sebagian dari warga Kristen ada yang mengungsi ke wilayah lain,” ungkap Roka, Senin (19/10/2015) kemarin.

Perihal hubungan umat beragama di Kampong Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Roka menjelaskan hubungan umat Islam dan Kristiani selama ini baik-baik saja. Meski peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Yang jelas rumah ibadah ini sudah ada sejak tahun 1962. Saat ini, kami selalu dikunjungi oleh Bapak Pendeta dari luar Aceh Singkil tiga bulan sekali. Kami ingin mendengar firman Tuhan. Karenanya kami minta pendeta mengunjungi kami,” klaim Roka.

Dikatakannya, jumlah jemaat yang beribadah di gereja ini sekitar 200-300 orang. Setiap kali ada kegiatan Natal dan Tahun Baru, Wafat dan Kebangkitan Yesus, gereja ini selalu membludak.

“Kami yang di dalam sampai kesempitan,” kata dia.

Ketika terjadi pembakaran gereja oleh massa, Roka berkilah, warga Kristen di kampung ini tidak melakukan perlawanan. Kaum bapak dan ibu-ibu serta anak-anak menyaksikan sendiri dibakarnya gereja, tempat ibadah mereka.

“Oleh pendeta, kaum ibu dan anak-anak disuruh mingggir. Pendeta juga tidak menyuruh kami untuk melawan,” demikian menurut Roka.

Kendati demikian, di lokasi berbeda, saat warga berupaya membongkar GKPPD di Desa Dangguran Kecamatan Simpang Kanan, sejumlah orang terluka terkena senapan. Salah satunya sampai meninggal di lokasi kejadian.

Persoalan Izin

Sejauh ini, seperti dikatakan Roka, pihak gereja telah berulang kali mengajukan permohonan izin, namun mereka mengaku tidak direspon oleh Pemerintah Daerah. Ia tak menjelaskan apa yang menjadi alasan kenapa gereja sulit mendapat izin untuk mendirikan rumah ibadah.

Senada dengan Laher Manik, warga Katolik di Kampong Suka Makmur mengatakan, hubungan umat beragama di Singkil sebenarnya berlangsung baik. Hanya saja persoalan izin pendirian rumah ibadah Nasrani tidak pernah selesai sejak 1979. Sehingga jika tidak ada izinnya harus dibongkar.

“Itu urusan pemerintah. Yang jelas, aku lahir di sini sejak tahun 1980-an ketika mengungsi dari wilayah lain dengan kasus yang sama. “

Laher Manek juga mengaku tidak ikut mengungsi saat kerusuhan.

“Selama kami umat Kristiani dikawal aparat, kami tidak akan mengungsi ke manapun.  Kami gembira Pemerintah Daerah menjaga kami sebagai umat Kristiani,” ungkap Laher Manik senang.

Hal senada juga terjadi pada umat Kristen di Kampung Dangguran Kecamatan Simpang Kanan, lokasi terbunuhnya Syamsul bin Idal.

Bruto, mengaku mengungsi ke Tapanuli Tengah usai kerusuhan. Ia mengaku takut jika ada serangan balasan dari pihak umat Islam di Aceh Singkil.

Beberapa informasi di lapangan menunjukkan tak ada warga Kristen yang berada di lokasi dibakarnya gereja ikut mengungsi. Kalau ada, itu hanya sebagian kecil saja.

Ternyata efek ketakutan itu justru terjadi di wilayah perbatasan Aceh Singkil, sehingga memutuskan mereka harus mengungsi.

Rusli, Imam mukim di Kampong Siompin yang beragama Islam, mengaku hubungan Muslim-Nasrani sejauh ini hidup berdampingan, tidak ada masalah.

“Ketika menjadi Sekretaris Desa, saya selalu diundang saudara kami yang beragama Kristen untuk merayakan kebahagiaan mereka setiap kali peringatan Natal. Tapi ketika rumah ibadah mereka tak berizin itu dibongkar, mereka legowo, dan hubungan kami tetap baik dan bisa ngopi bareng,” kata Rusli. Jadi siapa ingin memecah Aceh?*/Des

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Acehgerejagereja ilegalmengungsipembakaran gerejasingkil
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemkab Aceh Singkil Robohkan Tiga Gereja Ilegal
Tulisan selanjutnya Pesawat Pengintai Amerika Jatuh di Yaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Berita
14 Juli 2026 21:00
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?