Hidayatullah.com– Kejadian ini bisa jadi contoh potret menyedihkan kondisi pendidikan di negeri ini. Jumat (30/10/2015) lalu, para pelajar SMP 2 di Dusun Lempong Pucung tercebur di laguna Segara Anakan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah.
Pagi jelang siang itu, sebelumnya tampak 56 lebih pelajar sedang pulang dari sekolah. Secara bergantian dan berkelompok, mereka hendak menyeberangi laguna selebar sekitar 50 meter untuk pulang ke rumah.
Kejadiaan malang menimpa kelompok penyeberangan pertama. Perahu tradisional yang mereka tumpangi tenggelam perlahan, sekitar 1 meter sebelum buritannya merapat ke dermaga Dusun Mutean.
Berdasarkan pengamatan langsung hidayatullah.com tenggelamnya perahu itu bermula karena ketidakseimbangannya. Akibatnya, para penumpang yang hanya bisa berdiri tampak panik dan berupaya menyeimbangkan.
Namun, sekitar pukul 10.34 WIB, sejumlah murid di bagian depan perahu tercebur, disusul kemudian murid-murid lainnya di buritan. Ada pula yang sepertinya sengaja menceburkan diri.
Saat kejadian, pengemudi perahu tampak langsung menyelamatkan mesin perahunya. Sementara para pelajar berupaya saling menyelamatkan diri dan kawan-kawan mereka.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Mungkin karena dasar air yang dangkal, para murid yang tercebur tidak sampai tenggelam.
Namun cukup banyak dari mereka yang sempat tertelan air laguna. Tampak di antaranya yang berupaya memuntahkan air dari perutnya begitu naik ke dermaga.
“Kapalnya bocor,” ujar seorang pria kepada media ini usai ia berupaya membantu sejumlah pelajar yang tercebur.
Sejumlah warga setempat mengakui, kejadian serupa itu sering menimpa para pelajar SMP 2. “Biasa itu terjadi,” ujar seorang ibu tanpa menyebut namanya saat ditemui hidayatullah.com usai kejadian.
Menurut wanita itu, setiap pelajar membayar jasa penyeberangan seharga Rp 500 untuk sekali bolak-balik. “Murah sih, tapi kalau begitu pelayanannya…,” keluhnya.
Peristiwa ini tidak menyedot reaksi dan perhatian berlebihan dari warga sekitar yang menyaksikannya.
Sejumlah siswi yang ikut tercebur mengeluhkan, saat penyeberangan itu terlalu banyak penumpangnya.
“Saya nggak apa-apa,” ujar seorang siswi yang tengah berupaya memuntahkan air dari perutnya, saat ditanya kondisinya oleh media ini.
Moda transportasi penyeberangan itu hasil modifikasi antara dua unit perahu, biasa disebut compreng, dengan sebuah rakit bambu.
Saat kejadian itu, sejumlah pelajar tampak tertawa dan tersenyum dalam suasana kepanikan. Mungkin karena mereka sudah begitu terbiasa.
Sebagian pelajar yang saat itu masih tertahan di dermaga Dusung Lempong Pucung tampak menyeberang menggunakan perahu lain.*