Hidayatullah.com—Aksi pembela Lesbian, Homoseksual, Biseksual dan Transgender (LGBT), Forum LGBTIQ Indonesia yang baru saja melakukan somasi terhadap Harian Umum Republika terkait pemberitaan berjudul “LGBT Ancaman Serius” mulai memancing reaksi kalangan organisasi masyarakat.
Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Rita Hendrawaty Soebagio mengirim pernyataan sikap terkait kejadian itu dengan mengatakan, keberanian kaum LGBT nampaknya sudah mengancam sendi bangsa.
“Bentuk-bentuk somasi yang dilakukan oleh berbagai Forum LGBTIQ pada berbagai tokoh yang menyatakan sikap penolakan terhadap gerakan LGBT adalah bentuk ancaman terhadap kebebasan menyatakan pendapat itu sendiri,” demikian disampaikan Rita pada hidayatullah.com, Kamis (03/02/2016).
Menurut Rita, para tokoh politik, agamawan dan budayawan memiliki hak melindungi berbagai nilai yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia yang sesuai dengan nilai budaya dan agamanya.
“Ini menjadi bukti bahwa gerakan LGBTIQ adalah gerakan yang mengancam pada sendi-sendi berbangsa dan bernegara khususnya pada nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 45.
Walaupun Indonesia bukan negara agama, tapi berkeyakinan berdasarkan pada prinsip aturan Tuhan adalah bagian yang esential. Bahkan negara menjamin semua warganya tanpa terkecuali utk menjalankan agama yang diyakini nya.”
Menurut Rita, sampai dengan saat ini, seluruh agama sepakat homoseksual adalah perilaku yang menyimpang. Bahkan Al Qur’an dengan tegas menyatakan perbuatan kelompok ini adalah perbuatan fahisyah (melampaui batas) dan tidak boleh diperlihatkan (27:54). [Baca: Selamat Datang Makhluk Terlampau Batas! [1] dan [2]]
“Makna memperlihatkan perilaku inilah yang saya kira banyak diungkapkan oleh para tokoh. Karena pada saat ini perilaku ini semakin nyata dipertontonkan oleh mereka secara terbuka.”
Menurutnya, bagi yang memiliki orientasi seksual menyimpang hampir semua tokoh bersikap agar mereka segera melakukan perbaikan dengan menjalani terapi dan lain sebagainya.
“Yang menjadi masalah adalah ketika sebuah kelompok menganggap mereka abnormal dalam perilaku sementara mereka menganggap mereka normal.”
Bagi Rita, nilai budaya timur dan dasar negara sampai saat ini perilaku homoseksual adalah perilaku yang abnormal.
Lebih dari itu, ia juga menyampaikan, bahwa para penggiat LGBT sering berlindung dibalik kajian di bidang gender dan seksualitas hanya sebagai bentuk dukungan langkah mereka agar diakui sebagai perilaku yang normal, padahal tidak.*