Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Selamat Datang Makhluk Terlampau Batas! [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Februari 2016 14:18 2:18 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Februari 2016 14:18
Bagikan
ilustrasi: Kaum Nabi Luth yang ditimpa Allah dengan bencana
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

 

DI ERA modern seperti sekarang,  budaya impor yang merusak masih saja terjadi. Belakangan ini terjadi dalam isu Lesbian, Homoseksual, Bisexual dan Transgender (LGBT).

Ironisnya, asalkan impor budaya itu merujuk pada apa yang oleh Barat dinilai baik, pengasong di berbagai dunia pun seolah merasa bangga, cerdas dan terhormat.

Chimamanda Ngozi Adichie misalnya, penulis perempuan asal Nigeria itu dinilai cerdas hanya karena kerap menulis tentang kesetaraan antara cowok dan cewek yang di negerinya. Menurutnya, cewek tidak punya hak maju dan menjadi pemimpin serta amat beresiko bila mengusung feminisme.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Sebelum ini, Majalah Kawanku edisi Februari 2016 di Rubrik Dari Redaksi menulis masalah feminisme.

Majalah bergenre remaja itu mengisi rubrik perlu tahu (halaman 36) dengan tema “Dicari Male Feminist.” Di rubrik tersebut dijelaskan maksud dari male-feminist.

“Setelah feminisme, muncul pemikiran sejenis yaitu male-feminist, yaitu cowok-cowok yang mendukung konsep feminsime. Cowok seperti itu boleh banget masuk daftar wajib gebet.”

Chimamanda yang pernah meraih orange-prize merupakan salah satu novelis muda asal Nigeria  menulis buku feminism berjudul We Should All Be Feminist.

Dengan kata lain, apa yang sah di Barat, di Indonesia pun harus dikamapanyekan dan terus disosialisasikan di tempat kita, yang dikenal budaya dan adab yang tinggi.

Jika feminisme ini berhasil dan juga diterima oleh kalangan muda, tahap berikutnya mungkin LGBT yang akan jadi agenda utama untuk kemudian juga diterima secara luas oleh masyarakat dan bangsa Indonesia.

Apalagi, Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) telah resmi melegalkan perkawinan sejenis (perkawinan homoseksual) di seluruh negara bagian AS (27/6/2015).

Cendekiawan Islam Adian Husaini belum lama ini menulis bukunya “LGBT di Indonesia Perkembangan dan Solusinya”. Dalam buku ini  menjelaskan bahwa kampanye LGBT tergolong sangat cepat dan sukses di Amerika Serikat.

“Kasus di AS menunjukkan, bahwa persepsi bangsa AS bisa diubah dalam waktu begitu singkat. Itu dilakukan dengan kampanye yang sangat massif di media massa, khususnya media ang dikuasai kaum Yahudi.” (halaman 26).

Indonesia, lanjut Adian telah menjadi sasaran kampanye LGBT sejak awal tahun 2000-an. Menurutnya,  cepat atau lambat wabah LGBT ini akan merebak di Indonesia, sejalan dengan liberalisasi pemikiran LGBT.

Terbukti, tahun 2004 mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam di Semarang menerbitkan Jurnal Justisia yang secara terbuka menulis laporan utama berjudul: “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. [baca: “Promosi Lesbi, Hina Nabi, Lecehkan Al-Quran”]

Masih hangat, beberapa waktu lalu, empat huruf itu tiba-tiba (kembali) menjadi pembicaraan di tengah-tengah publik. Pemicunya tak lain adalah sebuah poster yang disebar secara viral melalui media sosial pada Kamis (21/01) pekan lalu.

Dalam poster tersebut tertulis penawaran konseling bagi mereka yang memiliki kecenderungan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Kelompok layanan bimbingan dan konseling ini bernama Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).

Pendek kata, bangsa Indonesia sedang menghadapi gempuran kampanye LGBT yang sangat serius, massif dan sistematis. Berbagai lembaga survei independen dalam dan luar negeri menyebutkan bahwa Indonesia punya tiga persen kaum LGBT dari total penduduknya.

Artinya, dari 250 juta jiwa penduduk kita,  mengindikasikan “virus” LGBT telah bersarang dan darurat di negeri ini.

Angka itu kemungkinan akan terus bertambah mengingat secara global telah ada 11 negara yang melegalkan LGBT, seperti Belanda, Belgia, Spanyol, dan Swedia. Dan, seperti jamak dipahami, asalkan ada negara Barat yang menerapkan suatu gagasan yang bertentangan dengan kemanusiaan dan agama (baca Islam), maka seluruh dunia pun, apalagi Indonesia seperti wajib untuk melakukan hal yang sama. LGBT pun bisa perkasa di negeri ini.

Terlebih, LGBT telah dimasukkan dalam agenda perjuangan HAM global, maka siapa saja atau negara mana saja, yang tidak menerapkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang diskriminatif terhadap kaum LGBT akan dimasukkan dalam kategori “pelanggaran HAM.”

Adian Husaini membuat penjelasan lebih konkret, “Seperti halnya tindakan “rasisme” yang secara internasional dinyatakan sebagai suatu bentuk kejahatan, maka saat ini juga disosialisasikan istilah “homofobia” sebagai suatu bentuk kejahatan, bahkan ditetapkan sebagai suatu penyakit jiwa (mental illness).” (Bersambung)

Penulis pimpinan redaksi MULIA

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratBisexual dan Transgenderfeminismhomoseksualkelainan seksuallgbtNabi luthTerlampau batasulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nasib Keturunan Arab di Iran [1]
Tulisan selanjutnya Nasib Keturunan Arab di Iran [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?