Hidayatullah.com – Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya mempertanyakan pernyataan pihak Polri belum lama ini yang mengatakan bahwa terduga teroris Siyono adalah orang penting di jaringan Jamaah Islamiyah (JI).
“Jika Siyono dianggap orang penting dan petinggi Jamaah Islamiyyah kenapa penanganannya sembrono?” ujar Harits dalam rilisnya soal ‘Logika Cacat Atas Kematian Siyono’ kepada hidayatullah.com, Jum’at (08/04/2016).
Ia juga mengaku heran, jika orang yang dianggap penting seperti Siyono justru tewas saat proses penangkapan, yang menurutnya, akan menghilangkan kunci untuk mengungkap jaringan terorisme, serta gudang persenjataan Jamaah Islamiyah sebagaimana yang dikatakan kepolisian.
“Kenapa malah disiksa hingga tak bernyawa? Kenapa tidak “dirayu” dan “diperalat” saja?” ungkap Harits.
“Bukankah Polisi punya “rayuan maut”? Nasir Abbas yang punya reputasi terorisme internasional saja bisa takluk, kenapa tidak dengan Siyono?” tambahnya.
Apapun argumentasi Polri, terang Harits, fakta empiriknya jelas bahwa Siyono telah tewas dan tidak bisa dihidupkan lagi. Maka, kata dia, menjadi hak keluarga untuk menuntut kebenaran dan keadilan atas musibah yang menimpa pihak keluarga.
Sebelumnya, Siyono, warga Brengkungan Cawas Klaten ditangkap Densus 88 pada Selasa (09/03/2016) dan tewas saat proses pemeriksaan. Mabes Polri menyatakan Siyono meninggal akibat kelelahan usai berkelahi dengan petugas.*