Hidayatullah.com – Deputi II Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen. Arif Darmawan SH mengaku prihatin program deradikalisasi dianggap sebagai proyek.
“Jujur saja saya prihatin kalau deradikalisasi dianggap proyek,” ujarnya di sela-sela acara pengajian bulanan Pengurus Pusat Muhammadiyah bertema “Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif” di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jum’at malam, (08/04/2016).
Walaupun, terang Arif, setiap kali ada pertemuan dengan asing saat membahas terorisme, Indonesia selalu ditawari bantuan terutama berupa dana.
“Saya termasuk yang berapa kali diajak oleh negara lain untuk bertemu dan diskusi membahas penanggulangan terorisme, dan mereka selalu menawarkan bantuan,” ungkapnya.
Namun, ia berkilah, tidak pernah mau untuk menerima tawaran bantuan tersebut.
“Lalu saya berfikir, no free lunch, tidak ada makan siang gratis, maka saya tolak. Indonesia punya cara sendiri berdasarkan karakteristiknya,” tukasnya.
Din Syamsudin Yakin Program Deradikalisasi adalah Proyek Amerika Serikat
Ditanya mengenai lembaga atau satuan lain perihal bantuan dari asing, Arif menjawab tidak tahu menahu.
“Kalau Densus saya tidak tahu ya, kalau kami enggak,” pungkasnya.
Sebelumnya, banyak kalangan menilai bahwa program deradikalisai yang dicanangkan oleh BNPT merupakan proyek dari kepentingan asing yang bertujuan menyudutkan suatu kelompok agama tertentu.
Pernyataan ini disampaikan mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr Din Syamsudin, dimana dirinya yakin bahwa program deradikalisasi yang dicanangkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merupakan proyek dari kepentingan asing.
“Saya sampai saat ini masih meyakini program deradikalisasi adalah proyek Amerika Serikat,” ujarnya dalam pengajian bulanan Pengurus Pusat Muhammadiyah bertema “Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif”di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jum’at malam, (08/04/2016).*