Hidayatullah.com– Salah satu kandidat calon Gubernur DKI Jakarta, Adhyaksa Dault, mengkritisi sejumlah sikap dan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI yang cenderung menciptakan kegaduhan dan konflik.
“Kalau seperti ini terus (sikapnya), kapan bisa membangun dengan baik. Yang dicari itu pemimpin, bukan penguasa. Kalau cari penguasa ya seperti itu, semua main hajar dan habisi,” ujarnya di depan wartawan termasuk hidayatullah.com di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat, 12 Ramadhan 1437 (17/06/2016).
Adhyaksa menjelaskan, bedanya dengan penguasa, pemimpin akan lebih melibatkan hati nurani dalam kebijakannya.
Ia mencontohkan penggusuran di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara oleh Pemprov DKI. Sebelum melakukan itu, sebaiknya harus dilihat dulu dampak positif dan negatifnya. Jangan semata karena daerah kumuh, kata dia, lalu main gusur. Apalagi jika itu kawasan cagar budaya.
“Bagaimana menatanya dengan rapi, ambil konsultan, buat rumah deret nelayan seperti di Belanda, misalnya. Tapi kenapa mesti digusur, dipindahkan ke tempat yang bukan habitatnya, dan untuk membangun fasilitas bagi kelas atas pula?” ujarnya seraya mempertanyakan kebijakan itu.
Apalagi, menurut Adhyaksa, penggusuran itu juga disertai dengan bahasa yang provokatif, bernada mengancam, dan sebagainya.
“(Misalnya ungkapan) ‘kalau tidak mau pindah kami gusur paksa dengan aparat’, (atau) ‘mau jadi manusia perahu biarin nanti juga kapok’. Ini bukan bahasa pemimpin, ini bahasa penguasa,” tukas mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini.
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pernah mengatakan, “Manusia perahu itu tunggu kesempatan untuk mau balik lagi, kita biarin aja sampai kapan. Asal jangan ke darat untuk menduduki di situ lagi.”
“Manusia perahu” yang dimaksud adalah warga di Pasar Ikan, Penjaringan, yang telah bermukim di sana dari generasi ke generasi sampai akhirnya digusur Ahok. [Baca: Tiga Bulan Sebelum Digusur, Pasokan Air ke Pasar Ikan Sudah Disetop]
Kembali ke “Teguh Beriman”
Menurut Adhyaksa, pembangunan dan kepemimpinan di Jakarta harus dikembalikan kepada tagline kota itu, “Teguh Beriman”. Sehingga yang dicari adalah pemimpin, bukan penguasa.
“Program-program yang dicanangkan harus mengacu pada “Teguh Beriman”. Orang Islam menjadi Muslim yang kuat, orang Kristen, Hindu, dan sebagainya juga demikian,” katanya.
“Ke-bhinneka-an ini dijaga. Tapi kalau bahasanya provokatif seorang penguasa, ini akan menimbulkan perlawanan terus dari masyarakat. Apa jadinya kalau semua diselesaikan dengan kekerasan dan bentrokan,” pungkas Adhyaksa. [Baca juga: Tokoh-tokoh Muslim Sepakat Dukung 1 Kandidat Cagub DKI]*