Hidayatullah.com– Tiga bulan sebelum turun Surat Peringatan (SP) 1 perihal penggusuran kawasan Pasar Ikan pada 30 Maret lalu, pasokan air untuk warga Pasar Ikan dan Kampung Aquarium berhenti.
Demikian di antara sekian banyak keluhan warga korban penggusuran yang disampaikan kepada Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di lokasi penggusuran Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (10/05/2016) lalu.
“Air sudah disetop sejak tiga bulan sebelum penggusuran, padahal ketika dicek ke PDAM katanya tidak ada masalah. Sejak itu yang masuk ke sini air asin, Pak,” tutur Catur, salah seorang warga korban penggusuran. [Baca: Ada Kepentingan Kapitalis dalam Penggusuran Pasar Ikan?]
Sementara itu, Bachtiar Nasir, yang menjadi perwakilan warga, membenarkan hal tersebut. Bahkan, menurut ulama yang besar di kampung Luar Batang, Penjaringan ini, setelah warga digusur dan tinggal di tenda pengungsian, untuk mendapatkan air juga masih dipersulit.
“Ketika mereka beli air beberapa tangki dari Bogor (Jawa Barat), tiga kali masih bisa dapat. Yang keempatnya perusahaan (air) itu ditekan oleh oknum, katanya tidak boleh menjual kepada masyarakat Pasar Ikan atau pengungsi,” terang Bachtiar sesuai acara pertemuan dengan MUI itu.
Akhirnya, kata dia, warga Pasar Ikan meminta bantuan air dan aliran listrik dari Luar Batang yang belum terkena penggusuran.
“Akhirnya terpaksa, karena juga tidak dikasih penerangan, narik (aliran listrik untuk) lampu dari Luar Batang, dan sedikit-sedikit juga dapat air dari Muara Baru,” paparnya.
“Tapi sejak tiga hari belakangan kembali sulit dapat air, akhirnya kami dengan beberapa LSM dan lembaga zakat memberikan bantuan air ke sini,” tambah Bachtiar. [Baca: Mushalla Dirobohkan Pemprov DKI, Warga Membangunnya Lagi dengan Nama “Al-Jihad”]
Lebih Mahal 10 Kali Lipat
Bachtiar yang juga Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia pun mengungkap, harga air di Luar Batang jauh lebih mahal ketimbang di kawasan elit Pluit.
“Kehidupan kami damai sebelum Pluit ada. Pluit itu tempat saya main (sepak)bola waktu kecil. Kami tidak cemburu, walaupun harga air di sini lebih mahal 10 kali lipat dari Pluit sekarang (Rp 25 ribu per 10 galon),” tukasnya.
Namun, menurut Bachtiar, akan berbeda reaksi warga jika Luar Batang tetap direncanakan untuk digusur.
“Kita sudah sabar selama ini, tidak ada masalah (dengan pembangunan kawasan elit Pluit, Pantai Mutiara, dan Pantai Indah Kapuk). Eh, sekarang mau digusur, siap mati kalau kayak begini,” pungkasnya. [Baca juga: Bocah 1 Tahun Terterjang Aparat dan Terinjak Saat Penggusuran Kampung Aquarium]*