Hidayatullah.com–Populasi jumlah Muslim dunia saat ini lebih diperkirakan dari 1,8 miliar. Di Asia Tenggara dan Timur Tengah sendiri setidaknya ada 500 juta kaum muslimin. Dengan data ini menjadi sangat potensial untuk dikembangkan produk-produk halal berikut turunannya dengan inovasi yang beragam.
Demikian disampaikan Haji Kyoichiro Sugimoto selaku Kepala Departemen Pendidikan Nippon Asia Halal Association (NAHA) Jepang saat menjadi nara sumber dalam acara “The First Padjadjaran International Conference on Halal Innovations” yang yang berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad) Jl. Raya Jatinangor -Sumedang, Kamis (13/10/ 2016) lalu.
Ia menambahkan bertambahnya jumlah populasi kaum muslim di dunia maka hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang khususnya dalam menyediakan konsumsi harian yang halal berikut turunanannya dengan berbagai variasi.
Kyoichiro juga menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini tuntutan kaum muslim di Jepang untuk ketersediaan produk halal semakin tinggi.
“Kekuatan internal kami dari kalangan muslim di Jepang adalah dengan membuat sistem manajemen mutu (trust). Inovasi itu lalu lahirlah “Washoku” sebagai makanan yang sehat dan halal di Jepang dan Alhamdulillah UNESCO telah menetapkan sebagai Warisan Budaya tak benda 2013,”ujarnya.
Kyoichiro juga menyampaikan bahwa dengan meningkatnya populasi Muslim di dunia juga pertumbuhan ekonomi negara-negara Muslim maka juga membuka peluang dalam meningkatkan wisatawan Muslim dan mahasiswa dari Negara-negara muslim ke Jepang. Untuk itu saat ini Jepang sudah mempunyai perguruan tinggi Islam yang diberi nama Arabic Islamic Institute Tokyo.
“Dari lembaga pendidikan inilah nantinya diharapkan akan lahir inovator-inovator handal dalam masalah kehalalan produk-produk di Jepang dalam segala aspek, bukan hanya bahan bakunya melainkan juga kemasannya maupun cara pemasarannya. Terkait wisatawan Muslim yang berkunjung ke Jepang maka kami juga harus melakukan inovasi dalam pelayanan juga seperti hotel, pramusaji maupun pusat perbelanjaan yang tidak mencampur barang halal dengan haram,”imbuhnya.
Minim Dukungan Pemerintah, Belgian dan Jepang Siap Rebut Pasar Pariwisata Halal
Meski demikian menurutnya masih ada sejumlah kelemahan yang harus dibenahi seperti belum adanya halal center yang terpusat untuk bersatunya standar Halal di Jepang . Halal center menurutnya juga sebagai wadah untuk muslim yang ingin bertanya dan belajar.
“Insya Allah kita sedang susun rencana untuk diajukan kepada pemerintah agar muslim Jepang mempunyai wadah seperti di Indonesia ada LPPOM MUI mohon doanya,”ujarnya yang disambut tepuk tangan.*/Abu Luthfi Satrio