Hidayatullah.com–Pemerhati Politik Internasional, Arya Sandhiyudha menyampaikan, beberapa hal tentang isu politik internasional masih harus menjadi evaluasi dan perhatian pemerintah khususnya pada momen 2 tahun Jokowi-JK memimpin.
Salah satunya tentang penyelesaian kolonialisasi Palestina dan Al-Quds Asy-Syarif. Menurutnya, pemerintahan Jokowi-JK harus kreatif menawarkan pola baru diplomasi internasional untuk membantu penyelesaian peramalahan tersebut.
Meski pemerintah telah sukses menyelenggaraan KTT Luar Biasa ke-5 OKI. Akan tetapi, menurut Arya, untuk dapat lebih mengoptimalkan implementasi segala resolusi kegiatan tersebut, Indonesia perlu mencermati perkembangan dinamika normalisasi Turki Mesir yang keduanya merupakan anggota OKI.
“Israel saat ini tengah berusaha untuk mengembalikan pola lama pada kebijakan terhadap Palestina. Yaitu menghidupkan kembali peran Mesir sebagai perantara dengan Otoritas Palestina di Tepi Barat. Akan tetapi, untuk tema Gaza sepertinya akan tertunda lebih lama kesepakatannya,” ujarnya dalam keterangannya kepada hidayatullah.com, Kamis (20/10/2016).
Ia mengungkapkan, Indonesia secara geografis sangat jauh, namun dapat memainkan peran sekaligus menawarkan pola baru sebagai mediator ataupun komunikator dengan Otoritas Palestina di Tepi Barat, pemerintahan Gaza, ataupun mendorong rekonsiliasi nasional terhadap konflik dan krisis berkepanjangan di Mesir.
“Netanyahu berasumsi mendapatkan kontrol diplomasi yang lebih besar terhadap Turki dan Mesir. Akan tetapi, bagi Mesir rezim As-Sisi juga membutuhkan negara lain, misalnya seperti Turki dan Indonesia untuk membantunya mengurangi energi konfrontasi marathon dengan Ikhwanul Muslimin (IM) sehingga dapat lebih fokus melakukan recovery ekonomi dan stabilitas politik,” jelasnya.
Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mendorong pola baru pelibatan negara OKI seperti Turki dan Mesir yang lebih besar, karena ketergantungan diplomatik terhadap inisiatif dari Prancis atau Amerika Serikat dalam proses perundingan-perdamaian belum juga membuahkan hal signifikan.
“Diplomasi berbasis peran OKI, seperti Mesir dan Turki juga Indonesia ini juga lebih memiliki harapan untuk meredam gejolak di Gaza,” tandasnya.*