Hidayatullah.com– Di antara korban banjir bandang di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengaku telah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Bima.
Namun, salah satu korban, Abdul Harits, menyayangkan Pemkot Bima yang disebutnya sampai wawancara ini tidak memberikan bantuan secara moril.
“Bantuan yang kurang itu secara emosional lambannya persuasif. Sebenarnya kita rasa kurang bantuan moral (moril. Red) dari pemimpin kami.
Cuma saya perhatikan hari pertama, kedua, ketiga, belum ada yang turun memberi semangat, motivasi,” ungkapnya kepada hidayatullah.com di Masjid Ar-Rahman, Senin (09/01/2017) sore.
Masjid ini terletak di Kelurahan Dara, Kecamatan Rasane Barat, Bima. Ini salah satu titik terparah banjir bandang yang melanda sebagian besar Bima, Rabu (21/12/2016) dan Jumat (23/12/2016) lalu.
“Saya heran, yang turun memberikan bantuan itu teman-teman dari luar macam di Kabupaten Sila. Itu kepala desanya umumkan untuk membantu kita,” lanjut Harits yang juga pengurus masjid tersebut.
Di sisi lain, ia mengakui adanya bantuan materil dari Pemkot Bima kepada korban banjir di daerah itu, berupa uang sebesar Rp 500 ribu per kepala keluarga. Bantuan ini, menurutnya, terkait biaya kebersihan.
Shalat Shubuh Berjamaah 7117 di Kupang Dirangkai Penggalangan Dana Peduli Banjir Bima
Bantuan Terkendala Akses Jalan
Selain itu, Harits mengungkapkan, karena akses jalan ke lokasi terdampak banjir itu terhalang sampah, pada awalnya sempat terjadi kesulitan dalam mendistribusikan bantuan.
“Jadi kawan-kawan dari kabupaten Dompu, Sumbawa, tidak bisa ke sini. Paling ke jalan besar, jalan umum sudah disetop,” imbuhnya.
Karenanya, bantuan yang masuk ke Kelurahan Dara hanya melalui relawan yang datang dengan memikul bantuan tersebut.
“Sangat kurang diperhatikan, paling-paling kita dapatkan relawan yang pikul (bantuan sambil) jalan kaki. Bahkan kadang kita jemput bantuan itu,” katanya.
[Foto] Kerusakan Parah Akibat Banjir Bandang Terbesar di Bima
Pantauan hidayatullah.com, di sekitar Masjid Ar-Rahman, selain lumpur, tanah, dan pasir, tumpukan sampah serta kayu yang dibawa arus banjir tampak berserakan karena tertahan di bangunan sekitar.
Sejauh ini, di daerah itu hanya alat berat TNI yang sudah membantu membersihkan tumpukan material tersebut.
Kondisi di kawasan ini masih belum sepenuhnya pulih. Dampaknya, murid-murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ilmi yang berada tepat di belakang Masjid Ar-Rahman tidak bisa masuk sekolah selama seminggu lebih.
Sampai saat ini, pihak Kementerian Agama belum merespon laporan yang disampaikan oleh pihak MI Nurul Ilmi, kata Harits.* Ali Muhtadin