Hidayatullah.com– Pengamat Politik Luar Negeri Arya Sandhiyudha mengungkapkan, ada beberapa faktor kemenangan yang diraih Presiden Recep Tayyip Erdogan pada pemilu bersejarah Turki dengan sistem yang baru, yakni presidensial.
Pertama, jelasnya, tidak dipungkiri bahwa pemilu yang dipercepat setahun dari rencana awal membuat sebagian besar pihak oposisi tidak siap.
“Jadi ada efek pendadakan,” ujarnya kepada hidayatullah.com di Jakarta saat ditemui belum lama ini.
Kemudian, faktor selanjutnya, sambung Arya, jika dilihat dari suaranya jauh lebih besar suara yang diraih Erdogan daripada Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) sendiri, yakni selisih sekitar 10 persen.
Menurutnya, hal itu karena suara dari pendukung nasionalis seperti Partai Gerakan Nasionalis (MHP) yang mengklaim sebagai penjaga nilai-nilai ultranasionalis warisan Attaturk juga mendukung Erdogan.
“Dari sini kita melihat pola dukungan terhadap Erdogan tidak lagi berasal dari AKP saja seperti sebelum-sebelumnya,” terangnya.
Ketiga, papar Arya yang merupakan WNI pertama penerima Doktor Bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari kampus di Turki ini, melihat pola koalisi yang tidak hanya dari AKP tapi juga ada MHP, berarti Erdogan secara tidak langsung sudah mengambil legitimasi dari kalangan nasionalis terutama ultranasionalis penjaga warisan Attaturk.
“Erdogan telah mengambil ketokohan Attaturk era baru dengan mendapat dukungan penuh dari MHP. Meskipun CHP (Partai Rakyat Republik) tetap menjadi oposisi. Tapi warnanya itu sudah campur,” tandasnya.*