Hidayatullah.com– Kasus pembakaran bendera berlafadz Arab kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, Ahad (21/10/2018) akan dipolisikan. LBH Street Lawyer akan melaporkan tindakan pembakaran bendera itu ke Bareskrim Mabes Polri di Jakarta, besok, Selasa (23/10/2018).
“Sehubungan dengan telah terjadinya pembakaran atas bendera berlafadz tauhid (bendera tauhid), yang bertuliskan kalimat suci, ‘La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah‘, yang diduga dilakukan oleh anggota Banser NU, di Lapangan Alun-Alun Limbangan, Garut, Jawa Barat, pada hari Minggu, 21 Oktober 2018, dalam acara Perayaan Hari Santri Nasional, LBH Street Lawyer menyatakan mengutuk keras atas tragedi tersebut,” ujar Tim LBH itu, Wisnu Rakadita, kepada hidayatullah.com, Senin (22/10/2018) malam.
LBH menilai pembakaran bendera berlafadz kalimat tauhid itu telah melukai hati ratusan juta umat Islam di Indonesia dan miliaran umat Islam di dunia. “Serta mengancam ketertiban umum,” imbuhnya.
LBH akan melaporkan tindakan pembakaran ‘bendera tauhid’ tersebut terkait dugaan tindak pidana Ujaran Kebencian (UU ITE), Penodaan Agama (KUHP), dan pelanggaran atas UU Ormas.
“Insya Allah akan dilaksanakan pada hari/tanggal Selasa, 23 Oktober 2018, pukul 10.30 WIB – selesai. Tempat (di) Bareskrim Mabes Polri, Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jl Merdeka Timur No 16 Jakarta Pusat,” terangnya.
Baca: Dandim 0611 Garut: Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid Sudah Diamankan
Sebagaimana diketahui, hari ini beredar secara viral sebuah video dimana belasan anggota Barisan Ansor Garut sedang membakar bendera bertuliskan lafadz Arab kalimat tauhid “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”.
Berdasarkan video berdurasi 02.04 menit yang diterima hidayatullah.com, Senin (22/10/2018) dan viral di berbagai media sosial, belasan anggota Banser membakar bendera berwarna dasar hitam dan bertuliskan lafadz tauhid berwarna putih yang dituding identik dengan bendera sebuah organisasi yang telah dibubarkan pemerintah. Pembakaran dilakukan sambil menyanyikan mars NU.
Dalam tayangan video tersebut, seorang anggota membawa bendera hitam bertuliskan lafadz tauhid lalu mulai melakukan pembakaran bersama rekan-rekannya. Mereka berkumpul untuk bersama-sama menyulut bendera tersebut dengan api pada suatu lapangan yang diramaikan para santri berpakaian putih-putih.
Baca: Ketua GP Ansor: Tak Boleh Lagi Ada Pembakaran Seperti di Garut
Sebagian dari para pembakar itu mengenakan pakaian loreng khas Banser lengkap dengan baret hitam. Salah seorang diantaranya memakai baju bertuliskan “Diklats… Banser Garut”.
Tak hanya bendera, mereka juga tampak membakar ikat kepala berwarna hitam dengan tulisan lafadz Arab kalimat tauhid senada. Agar kedua benda lebih cepat dilalap api, mereka menggunakan kertas koran bekas yang juga telah disulut.
Pembakaran itu tampak dilakukan dengan penuh semangat terlihat dari gestur dan ekspresi mereka, ditambah mars “Hubbul Wathon Minal Iman” yang kompak mereka lantunkan, sambil mengepal-epalkan tangan.
Baca: Ini Klarifikasi Banser Soal Pembakaran “Bendera Tauhid” di Garut
Sebelumnya, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Soedarmo menyatakan, pemerintah telah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Itu berarti HTI dan logonya juga dilarang, tetapi bukan melarang kalimat tauhid.
“Yang kami larang itu adalah bendera dengan simbol HTI, bukan bendera tauhid. Keduanya berbeda, kalau HTI ini mencantumkan tulisan Hizbut Tahrir Indonesia di bawah kalimat La ilaha illallah,” ujar Soedarmo di Jakarta, kutip Jpnn.com Sabtu, 22 Juli 2017.*