Hidayatullah.com– Fatih Madini (16 tahun) santri PRISTAC PP At-Taqwa Depok, Jawa Barat, mempresentasikan isi bukunya di SMA International Islamic High School (IIHS), Jakarta, Kamis (08/11/2018).
Buku itu berjudul “Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia”, terbitan YPI At-Taqwa Depok tahun 2018, dengan tebal 316 halaman.
PRISTAC (Pesantren for The Study of Islamic Thought and Civilization) adalah pesantren setingkat SMA yang bernaung di bawah Pesantren At-Taqwa Depok.
PRISTAC memiliki dua konsentrasi: yaitu kelas IT (Islamic Thought) dan kelas PRAISE (Pesantren of Adab and Enterpreneurship).
Di hadapan sekitar 100 siswa SMA IIHS, Kepala Sekolah SMA IIHS, dan sejumlah guru, Fatih Madini menguraikan pentingnya adab dalam keilmuan bagi para siswa SMA.
Menurutnya, tujuan belajar yang penting bukan hanya bertambah ilmu, tapi lebih penting lagi, menjadi orang baik. Fatih Madini juga mengajak para siswa untuk bersemangat menulis.
“Orang-orang bodoh yang tidak beradab, itu cuma mencuri sandal. Tetapi, orang pinter yang tidak beradab dan berakhlak, akan membuat kerusakan yang lebih. Bayangkan saja kalau koruptor-koruptor yang pinter-pinter itu naik jadi pemimpin, bagaimana kondisi negara kita ini?” kata Fatih Madini, yang biasa dipanggil Imad dirilis PRISTAC.
Buku Fatih Madini ini memang menekankan pentingnya adab dan akhlak dalam belajar: pentingnya bersemangat dan ikhlas dalam mencari ilmu, beradab kepada guru, pentingnya adab belajar, adab memilih teman, pentingnya menjauhi maksiat, dan sabar dalam mencari ilmu, karena tidak ada yang instan dalam mencari ilmu.
Di samping itu, buku ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana mewujudkan peradaban yang berbasis iman dan taqwa, dan juga pentingnya para santri/pelajar memahami berbagai tantangan pemikiran kontemporer, untuk menjaga iman dan akhlaknya.
Misalnya, tentang pentingnya memahami konsep kemuliaan dan kesuksesan dalam Islam, juga bahaya sekulerisme dan liberalisme, serta bahaya penyakit hati, seperti riya dan dengki.
Menjawab pertanyaan seorang siswi, bagaimana jika ada beda pendapat dengan guru, Fatih Madini mengatakan, “Saya selalu berusaha mentaati nasihat guru. Saya tidak pernah membantah guru di muka umum.“
Fatih Madini juga banyak ditanya kiat-kiatnya dalam menulis.
Dalam kesempatan itu, ia juga mempresentasikan makalahnya, tentang konsep Adab Syeikh Abdul Shamad Al-Falimbani, sebagai solusi problematika internal umat Islam. Makalah itu ditulis dari hasil telaahnya terhadap dua kitab karya Syeikh Abdul Shamad al-Falimbani, yaitu Siyar al-Salikin dan Hidayah al-Salikin.
Mudir PRISTAC Pesantren At-Tawa Depok, Dr Muhammad Ardiansyah, yang mendampingi para santri PRISTAC, menyatakan rasa syukurnya atas sambutan yang sangat baik dari pihak IIHS. Semoga acara itu bermanfaat bagi para siswa IIHS dan juga para santri PRISTAC.
Menurutnya, dalam rangka mensosialisasikan pentingnya penanaman adab dan akhlak di kalangan pelajar dan santri, rencananya akan dilakukan acara bedah buku Fatih Madini di beberapa sekolah atau pesantren lainnya.
Akhir November 2018, insyaAllah buku Fatih Madini juga akan dibedah di Kuala Lumpur, Malaysia. Begitu juga akan dilakukan presentasi makalah para santri PRISTAC lainnya.*