Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Otoritas Pemerintah dan Politisi sebenarnya di bawah Para Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Januari 2019 11:42 11:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Januari 2019 10:37
Bagikan
Peneliti Senior INSISTS Dr Syamsuddin Arif MA dalam INSISTS Saturday Forum (INSAF) di Jakarta, bertajuk “Ulama dan Politik: Apa Masalahnya?”, (12/01/2019).
Bagikan

Hidayatullah.com– Perhelatan politik di tahun 2019 ini cukup menarik dan berbeda dari perhelatan sebelumnya, sebab melibatkan peran aktif ulama dalam penentuan pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Ada yang maju sebagai calon wakil presiden, ada pula yang membuat Ijtima Ulama untuk menentukan arah atau pilihan sebagian ulama untuk mendukung salah satu paslon.

Sepanjang sejarah, peran ulama memang cukup sentral di dalam pemerintahan umat Islam. Bukan hanya sebagai pemimpin atau pemuka agama, mereka juga mengambil peran yang menyentuh semua lapisan masyarakat.

Di Indonesia khususnya, para ulama cenderung bervariasi dalam menentukan langkah perjuangannya; mendukung secara langsung salah satu paslon atau menempuh jalan lain yaitu menjadi oposisi.

Baca: Al Qaradhawi: Ulama Rakyat Awam Lebih Berbahaya dari Ulama Penguasa!

Dalam INSISTS Saturday Forum (INSAF) pertengahan bulan ini (12/01/2019) di Jakarta, bertajuk “Ulama dan Politik: Apa Masalahnya?”, Peneliti Senior INSISTS Dr Syamsuddin Arif MA menunjukkan sumber normatif sekaligus historis tentang pandangan dan keterlibatan ulama di bidang politik.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Dijelaskan, istilah ulama dalam Al-Qur’an disebut sebanyak dua kali, yakni pada Surat Al-Fathir (28) dan Asy-Syua’ra (197). Secara harfiah, ulama berarti orang yang berilmu. Berakar dari kata ‘a-li-ma, jika tunggal maka ‘aliimun (sangat mengetahui) yang merupakan superlatif dari ‘aalimun (mengetahui).

Dalam berbagai tafsir, diartikan bahwa ulama (al-‘ulama’u) berarti orang yang takut kepada Allah. Ulama dalam pandangan Ibn Taimiyyah memiliki tiga elemen dalam diri, yakni ilmu, iman, dan rasa takut hanya kepada Allah. Tidak semua orang yang berilmu takut kepada Allah, namun semua yang takut kepada Allah sudah pasti berilmu.

“Murid beliau, Ibn Qayyim al-Jauziyah, juga mendefinisikan ulama sebagai orang yang berilmu, ahli Hadist dan ahli hukum (fiqh/syariah) serta pemegang otoritas (ulul amri). Dalam Islam, otoritas secara hierarkis dimiliki oleh Allah dan Rasul-Nya, diikuti ulama, dan terakhir umara’ (pemerintah), sehingga otoritas pemerintah dan politisi sebenarnya berada di bawah para ulama,” jelasnya kutip Insists.id, Rabu (16/01/2019).

Baca: Marwah Ulama di Hadapan Penguasa

Namun, lanjutnya, gelar ulama tidak diperoleh dari lembaga, pesantren, atau perguruan tinggi, akan tetapi dari pengakuan dan kesaksian dari sesama ulama lain. Orang yang berilmu sudah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dengan menunjukkan bukti yang kuat. Imam al-Qurtubi mengajukan definisi sejenis bahwa ulama adalah orang yang berilmu dan paham akan Kitab Suci.

“Dari definisi tersebut, kita bisa melihat bahwa peran ulama cukup berat sehingga tak sembarangan orang mampu menanggungnya. Orang yang masih mengikuti hawa nafsu dan mengikut-ikuti orang lain dengan tanpa bukti, tak dapat dikategorikan sebagai ulama. Hal ini juga berkaitan dengan peran besar yang dipegang ulama sebagai pewaris Nabi.

Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, misalnya, berperan sebagai pemberi peringatan di hadapan penguasa yang dzalim. Begitu pun Nabi Muhammad sebagai kepala negara saat di Madinah, dilanjutkan dengan para Sahabatnya, Khulafaur Rasyidin,” paparnya.

Baca: Menjauhi Penguasa Dzalim dan Ulama Penjilat

Imam Ahmad Ibn Hanbal merumuskannya ke dalam lima peran utama, yakni dakwah (yad’uuna), resistensi/sabar (yashbiruuna), revival/menghidupkan (yuhyuuna), membuka mata (yubshiruuna), dan menegasikan/destruktsi atas ekstremisme dalam segala hal (yanfuuna).

Kaitan peran tersebut, masih jelas Syamsuddin, di dalam sejarah politik umat Islam terlihat dalam posisi antara ulama dan penguasa, yang dapat berdiri sebagai oposisi (mengkritik), koalisi (bekerja sama), dewan ahli (penasihat), dan pelaku politik itu sendiri.

Umat Islam sejak awal sejarahnya sudah terlibat di dalam pemerintahan, legislasi (pembuatan kebijakan), dan lain-lain. Mengutip survei pengaruh Islam dalam Politik tahun 2011 oleh Pew Research Center menunjukkan, sebagian besar Muslim Indonesia menerima demokrasi, yakni 91% di samping penolakan sebesar 6%.

“Survei tersebut juga menunjukkan, meski setuju dengan demokrasi, mereka tidak menolak syariat sebagai hukum, sehingga koeksistensi Islam dan syariat memang berjalan beriringan,” pungkasnya.*

Baca: Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:INSISTSINSISTS Saturday Forumoposisipenguasanpewaris nabiPilpres 2019politikSyamsuddin Arifulamaulama dan politik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iman-Taqwa Kunci Utama Keberkahan Suatu Negeri
Tulisan selanjutnya Belajar Worldview Dari Hamid Fahmy Zarkasyi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?