Hidayatullah.com– Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin yang juga Ketua Umum (non-aktif) Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengenang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas sebagai sosok pemersatu umat.
Kiai Ma’ruf yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengaku, upaya Prof Yunahar untuk menyatukan umat merupakan salah satu dari sekian banyak kesamaan yang dimiliki Kiai Ma’ruf dan Wakil Ketua Umum MUI itu.
Baca: Haedar Nashir: Muhammadiyah Kehilangan Prof Yunahar Sosok Ulama Santun
“Kita banyak kesamaan pandangan terutama dalam membina umat, bagaimana mengawal bangsa dan negara supaya tetap utuh, bagaimana menyatukan umat, bagaimana memberdayakan umat itu, kita bareng lah punya kesamaan pandangan,” ujar Kiai Ma’ruf di Kantor Sekretariat Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (03/01/2020).
Kiai Ma’ruf juga mengenang sosok almarhum Prof Yunahar sebagai orang yang baik dan memiliki visi konstruktif.
“Menurut saya, beliau orang baik, punya visi yang positif, konstruktif dalam membangun kemaslahatan umat,” ujarnya kutip website resmi MUI, Jumat.
Baca: Ribuan Orang Iringi Pemakaman Prof Yunahar di Yogyakarta
Mantan Rais ‘Aam PBNU ini mengaku tak menyangka jika Prof Yunahar kembali ke haribaan Allah Subhanahu Wata’ala secepat ini. Sebab, pada pertemuan terakhirnya dengan Prof Yunahar di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, awal November 2019, Prof Yun masih tampak bersemangat dan bercerita akan menjalani operasi ginjal.
“Beliau menceritakan bahwa beliau akan mengalami operasi dan beliau masih semangat waktu itu saya tidak menduga bahwa ternyata telah berlanjut, ternyata tidak dipanjangkan umurnya,” ungkap Kiai Ma’ruf.
Wapres pun menceritakan kenangan kedekatannya dengan Prof Yunahar terutama dalam hubungan sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum MUI.
“Banyak sekali kenangan saya dengan beliau karena beliau wakil ketua umum dan saya sebagai ketua umum,” tuturnya.
Baca: Anwar Abbas: Buya Yunahar Ulama yang Tegas, Lurus, Tulus
Kiai Ma’ruf lantas berdoa semoga dengan amal ibadah yang telah dilakukan Prof Yunahar semasa hidupnya, Allah Subhanahu Wata’ala menempatkan Prof Yunahar di tempat terbaik.
“Semoga beliau diterima amal ibadahnya, dimaafkan segala kesalahannya, diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah Subhanahu Wata’ala,” ungkapnya.
Prof Yunahar Ilyas meninggal dunia pada hari Jumat, 8 Jumadil Awwal 1441H atau bertepatan hari Kamis (02/01/2020) pukul 23.47 WIB di RS Sarjito Yogyakarta. Prof Yunahar wafat pada usia 63 tahun.
Ribuan orang mengikuti prosesi pemakaman jenazah Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Yunahar Ilyas di Kompleks Pemakaman Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Jumat (03/01/2020).
Dalam kompleks pemakaman itu juga terdapat makam pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan yang lokasinya tidak jauh dari pusara Yunahar.
Diketahui, Prof Yunahar adalah putra Bukittinggi kelahiran 22 September 1956. Ia menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1986. Yunahar menamatkan pendidikan dasar di Padang, dua gelar S1 diperoleh di Fak. Usluhuddin Universitas Ibnu Riyadh (1983) dan Fak. Tarbuyah IAIN Imam Bonjol tahun 1984.
S2 dan S3 diselesaikan di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1996 dan 2004.
Selama ber-Muhammadiyah, Yunahar pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah.
Di luar muhammadiyah, Yunahar tercatat sebagai salah satu unsur ketua di MUI Pusat. Sehari-hari, ia bekerja sebagai dosen/guru besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 1987.*