Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Abdullah Said di Mata Pendiri dan Perintis Hidayatullah (3)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2021 09:47 9:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Agustus 2021 11:30
Bagikan
Abdullah Said Pendiri Hidayatullah
Bagikan

Melangkah dengan Sistematis

Hidayatullah.com | APA yang menjadi gagasan, pernyataan, dan tindakan Abdullah Said seringkali sulit ditangkap oleh sebagian sahabat dekatnya. Meskipun demikian, kelak di kemudian hari para pendiri dan perintis Hidayatullah akhirnya memahami bahwa sejatinya apa yang dilakukan itu sistematis dan runtut.

Di awal perkenalan, Hasan Ibrahim, Nazir Hasan, Hasyim HS, dan Kisman sempat menganggap bahwa Kiai Abdullah Said ini mubaligh biasa. Hanya memang dia punya keunggulan dalam hal retorika.

Setelah melewati pergelutan bertahun-tahun, mereka akhirnya memahami bahwa Abdullah Said ini adalah seorang pejuang, mujahid, yang berpikirnya sistematis. Selalu ada arah dan tujuan yang jelas yang hendak dicapai.

Ketika merintis kampus Gunung Tembak, misalnya, semua merasakan begitu beratnya. Para pemuda ini hidup menderita, tidur di bawah pohon, dan tinggal di tempat pembakaran batu bata. Proses tarbiyah terasa amat keras.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Saat itu bisa dikatakan, siapa yang mau tinggal di pesantren ya silakan tinggal, yang mau pergi ya silakan pergi,” kenang Hasyim HS.

Tetapi itu semua ternyata merupakan tahapan dalam proses tarbiyah dan perjuangan yang berpengaruh besar terhadap ketangguhan para kader. Hasilnya terasa di kemudian hari.

Hasan Ibrahim kemudian menghubungkan proses pengkaderan semacam itu dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Ternyata ada banyak kemiripan di berbagai sisinya, baik langkah maupun apa yang dialaminya.

Misalnya bagaimana Nabi mengalami masa-masa sulit ketika menjadi yatim, kemudian menyendiri di Goa Hira’, dan sebagainya. Fase perjuangan seperti itu juga dialami oleh para pendiri dan perintis Hidayatullah.

Nabi kemudian mengirim kader-kadernya ke berbagai wilayah untuk berdakwah. Hal itu juga dilakukan Kiai Abdullah ketika mengirim para da’i ke berbagai pelosok negeri.

Apa yang sering dikatakan oleh Nabi juga melompati zamannya. Misalnya ketika mengatakan bahwa kaum Muslimin akan menaklukkan Konstantinopel dan Roma, negeri yang kala itu menjadi super power. Visinya jauh ke depan dan akhirnya kelak benar-benar terbukti.

Suatu saat Kiai Abdullah Said pernah mengatakan, “Kita akan ratakan dakwah ini di seluruh Balikpapan.”

Para kader heran, bagaimana bisa? Saat itu Abdullah Said dan kawan-kawan belum punya apa-apa. Juga belum ada kader yang bisa diandalkan.

Di masa awal membangun rumah atau tepatnya gubug-gubug di Gunung Tembak, KH Abdullah Said sudah sering mengatakan, “Ini adalah kawasan Indomi (Indonesia Mini). Ada kawasan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.”

Atas izin Allah SWT, apa yang dikatakan di awal perintisan kampus Gunung Tembak itu akhirnya terbukti. Tidak cuma di Balikpapan atau Kalimantan Timur, kini bahkan Hidayatullah telah tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Terjun Bebas

Untuk mewujudkan gagasan besar hingga akhirnya menjadi kenyataan itu Kiai Abdullah Said melakukan berbagai langkah yang sistematis. Sistematika berpikir yang luar biasa itu baru bisa ditangkap ketika para pendiri dan perintis merangkai berbagai tahapan peristiwa sejak awal hingga saat ini.

Salah satu tahapan itu dimulai dengan pembukaan lembaga kursus Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Kursus Dakwah di Karang Rejo. Abdullah Said tidak langsung menyebutnya sebagai pesantren apalagi tempat pengkaderan.

Dari kegiatan ini, datanglah para pelajar yang kemudian “diolah” menjadi kader dan santri. Mereka yang sudah terbina kemudian ditugaskan ke masjid-masjid untuk mengajar mengaji, khutbah, ceramah, dan sejenisnya.

Padahal sejatinya ketika itu para santri belum memiliki bekal yang memadai untuk ceramah. Maju saja. Percaya diri. Lantas apa yang mesti disampaikan?

Mereka cukup menyampaikan materi yang disampaikan olehnya. Bahannya amat banyak karena pembinaan dilakukan tak kenal waktu. Pagi, siang, sore, malam. Bahkan seandainya ada waktu lagi, maka itupun akan dimanfaatkan untuk pengkaderan.

Barangkali karena materi dari Kiai Abdullah itu memang beda, maka ceramah yang disampaikan oleh para santri yang belum memiliki keterampilan memadai itu tetap mampu menggemparkan Balikpapan. Gerakan dakwah Hidayatullah senantiasa menjadi daya tarik dan perbincangan.

Tidak cukup sampai di situ. Berlanjut dengan penugasan para kader ke berbagai wilayah di Kaltim. Dalam waktu relatif singkat, kemudian segera ada cabang pesantren di berbagai daerah di Indonesia.

Lahirlah istilah da’i “terjun bebas”. Para kader yang ditugaskan itu tidak tahu harus menuju ke mana dan ketemu siapa, karena memang belum pernah tahu daerah tujuannya. Pokoknya dikirim saja. Bekalnya cuma keyakinan akan adanya pertolongan Allah SWT. Bismillah.

Salah satu nasihat Kiai Abdullah Said yang amat populer adalah, “Allah di Balikpapan sama dengan Allah yang ada di daerah lain. Jadi tidak usah khawatir karena pertolongan Allah itu ada di mana saja.”

Sekadar menyebut contoh, gambarannya seperti yang dialami oleh Yusuf Suradji, Suwardhany Soekarno, dan Hasan Suradji yang dikirim ke perbatasan Melak, Kutai Barat. Waktu itu belum ada transportasi mobil sehingga para kader harus naik perahu. Satu-satunya mobil yang ada adalah milik bupati.

Karena belum faham medan, maka beberapa hari kemudian Suwardhany hilang kontak dan keberadaannya tidak bisa dilacak. Hasan Ibrahim kemudian ditugaskan oleh Abdullah Said untuk mencari-carinya. Namun karena beratnya medan dakwah, justru akhirnya Hasan Ibrahim “hilang” juga.

Mereka akhirnya bisa bertemu setelah proses pencarian sekian lama. Itulah gambaran medan dakwah para kader yang memang berat, tapi tak menyurutkan langkah.* (bersambung)/Pambudi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:50 Tahun HidayatullahDai Hidayatullahdakwah HidayatullahHidayatullahKH Abdullah SaidMilad Hidayatullahprofil
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Di Tempat Ini, Siapapun Boleh jadi Peternak
Tulisan selanjutnya Perusahaan Inggris Jual Makanan Kucing Halal Pertama di Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?