Hidayatullah.com- Ajal siapa yang tahu kecuali Allah semata. Begitulah senantiasa pelajaran yang terus hadir menghampiri. Baru-baru ini, wafatnya salah seorang ulama kharismatik viral di media sosial.
Sebagaimana diketahui, almarhum KH Edi Junaidi Nawawi meninggal dunia saat menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang.
Dalam video amatir yang beredar, pantauan hidayatullah.com pada Sabtu (18/09/2021), tampak sang kiai mengikuti Rakerda tersebut yang berlangsung dengan protokol kesehatan di sebuah tempat.
Ketika sedang mendengarkan penyampaian salah seorang peserta rapat, sang kiai yang duduk di kursi di balik meja, tampak memegang-megang bagian sekitar dadanya beberapa detik. Sesaat kemudian, kamera mengarah ke peserta rapat. Tak berapa lama, tiba-tiba suasana jadi berubah. Kamera mengarah ke meja rapat dan tampak badan sang kiai tersebut sudah rebah ke belakang merapat ke sandaran kursi.
Sontak rapat dihentikan dan sebagian peserta rapat langsung menghampiri sang kiai. Setelah memeriksa kondisinya, sang kiai langsung dipapah keluar gedung. Terdengar suara tangisan dan ucapan kalimat “La ilaha illallah…”.
“Rumah sakit langsung telepon rumah sakitnya,” terdengar suara seorang wanita. “Rumah sakitnya Sari Asih paling,” tambahnya saat ditanya RS mana akan dituju.
Diketahui, almarhum KH Edi Junaidi Nawawi menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang. Video viral tersebut antara lain diunggah di Instagram.
“Inna lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’un
Detik-detik wafatnya Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang KH Edi Junaedi Nawawi saat menghadiri rapat kerja MUI Kota Tangerang Rabu pagi (15/09/21).
Video diambil oleh salah seorang peserta rapat dan tidak sengaja, merekam Almarhum sudah tidak sadarkan diri di meja depan.
Rapat Kerja Daerah MUI Kota Tangerang rencananya akan di laksanakan 2 hari yaitu hari Rabu dan Kamis ini,” tulis akun @jabodetabekcom, Kamis (16/09/2021).
Ketua Wantim MUI Kota Tangerang periode 2021-2025 KH Edi Junaidi Nawawi itu meninggal dunia beberapa saat usai menyampaikan nasihat pada Rakerda tersebut di Gedung MUI Kota Tangerang, Banten.
Acara pembukaan Rakeras I MUI itu menjadi haru penuh duka. Isak tangis putra almarhum dan pengurus MUI pecah tatkala sang kiai dipapah dari kursi tempat duduknya untuk dilarikan menuju RS. Menurut pihak RS, sang kiai sudah tiada sebelum sampai ke RS.
Rakerda I MUI Kota Tangerang tersebut dihadiri dan dibuka Wakil Wali Kota Tangerang H Sachrudin. Didampingi Ketua MUI, KH Ahmad Baijuri Khatib, Dewan Pertimbangan dan pengurus Harian serta ketua-ketua Komisi MUI Kota Tangerang.
Sebelum wafat, tak ada tanda-tanda almarhum akan dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala. Saat memberikan pengarahan, KH Edi Junaidi Nawawi berbicara lancar, stabil, dan tetap bersemangat. Wakil Wali Kota Tangerang menyimak wejangan dan amanat sang kiai secara seksama.
Lewat pengarahan sekaligus bisa dibilang amanat itu, sangat banyak catatan penting yang harus terus dilaksanakan MUI, para kiai, ustadz dan ustadzah serta Pemerintah Kota Tangerang.
“Hanya MUI Kota Tangerang yang boleh dikatakan konsisten dalam menjalankan program-programnya, termasuk dalam menerbitkan naskah naskah khutbah Jumat,” ujar Kiai Edi dikutip dari website resmi MUI Pusat pada Sabtu (18/09/2021).
Kepada pengurus MUI Kota Tangerang, Kiai Edi mengamanatkan agar terus istiqamah dalam menjalankan amanat. Dalam penerbitan khutbah Jumat tersebut, almarhum beberapa kali menekankan agar tetap diteruskan, tidak setop. Sebab, jelasnya, khutbah jumat itu ditunggu dan dibaca oleh hampir semua jamaah masjid di Kota Tangerang dan sekitarnya.
Sebagai informasi, kata Kia Edi saat itu, lebih dari setengah dari 620 masjid yang ada di Kota Tangerang menggunakan khutbah Jumat itu. “Kelihatannya program itu tidak terlalu signifikan, tetapi justru itu merupakan bagian dari syiar Islam yang paling efektif dalam membina karakter umat menjadi manusia manusia ihsan,” tegas sang kiai.
Kiai Edi pun menyinggung tentang anggaran yang dibutuhkan MUI serta pertisipasi pemerintah dalam hal itu. Ia menilai, anggaran dan fasilitas yang dialokasikan untuk MUI Kota Tangerang jauh berbeda dengan anggaran yang dialokasikan untuk guru sekolah umum yang begitu besar.
“Tugas MUI itu sangat berat dan multikompleks. Namun, sering kurang terperhatikan. Dalam sejarah, baru satu kali MUI menerima anggaran sebesar Rp 2 miliar (untuk setahun) di bawah kepemimpinannya yang selama tiga periode. Anggaran itu terus menurun hingga Rp 750 juta saat ini. Beda dengan gaji guru yang mencapai belasan juta per bulan. Yang mencapai miliaran per tahun,” sebutnya.
Baca juga: Innalillahi… Istri Pendiri Hidayatullah Ustadzah Aida Chered Berpulang ke Rahmatullah
Almarhum lantas mengingatkan semua pihak bahwa tampaknya tugas MUI itu ringan, “hanya” dakwah dan fatwa. Akan tetapi, dalam implementasinya sangat berat. Tak hanya butuh perjuangan, ilmu dan kesabaran, tetapi butuh anggaran juga, sebutnya.
Meski demikian, Kiai Edi meminta para pengurus MUI agar tidak berkecil hati. Ketua Umum yang baru harus terus mengembangkan organisasi MUI menjadi profesional dengan konsekuensi MUI harus membuat job description yang matang, supaya MUI bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
Kiai Edi terakhir berpesan bahwa program yang telah dijalankan oleh MUI seperti Buletin Khutbah Jumat yang selalu dibuat setiap pekan oleh Infokom, agar dilanjutkan.
“Saya mohon kepada pengurus, kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan jangan sampai terputus, harus dilanjutkan,” ujarnya memungkas.
Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menilai almarhum sebagai pejuang. “Beliau adalah sebagai syuhada pejuang yang terus menekankan kalimat Tauhid di Kota Tangerang Kota Ahlakul Karimah, semoga Allah Subhanahu Wata’la lapangkan kuburnya, ditempatkan yang terbaik di sisi-Nya dan keluarga diberikan keshalehan,” ujar Wali Kota lewat keterangannya pada Rabu di hari kedukaan itu.
Pemkot Tangerang, kata Wali Kota, menyampaikan turut berbelasungkawa atas wafatnya mantan Ketua Umum MUI Kota Tangerang itu.*