Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Kiai Miftachul Akhyar: Ketergantungan Berlebih Pada Dunia Menyebabkan Ibadah Tidak Khusyuk

Bambang S
Terakhir diupdate: 14 Oktober 2021 16:32 4:32 pm
Bambang S
Dipublikasikan 14 Oktober 2021 17:30
Bagikan
MUI Fatwa Investasi Miras Miftachul Akhyar
Bagikan

Hidayatullah.com — Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa manusia dalam melakukan amal di dunia ada dua macam, yaitu amal untuk hidup di dunia dan amal untuk bekal di akhirat kelak.

Menurut Kiai Miftach, amal untuk dunia harus dilakukan dengan santai, jangan terlalu berambisi, sementara amal untuk bekal akhirat harus dengan sesegera mungkin. “Jadi, kalau soal akhirat, seperti lari maraton. Tapi urusan dunia, seperti hidup selamanya, ya tenang,” kata Kiai Miftach saat ngaji kitab Al-Hikam yang disiarkan TVNU, seperti dilansir situs NU Online, Kamis (14/10/2021).

Menurut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini, prinsip itu berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi i’mal li duniâka ka annaka ta’îsyu abadan wa’mal li âkhirataka ka annaka tamûtu ghadan (bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi).

Kiai Miftachul Akhyar menjelaskan, maksud ‘bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya’ adalah dalam persoalan pekerjaan duniawi, harus dilakukan pelan-pelan, tidak usah terburu. Seolah-olah akan hidup selamanya. Karena seakan hidup selamanya, maka masih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan duniawi.

“Artinya tidak ngoyo (terlalu berambisi). Sekarang ada (masih hidup), besok masih ada (masih hidup), satu tahun, dua tahun, sepuluh tahun masih ada (masih hidup). Nggak ngoyo. Kalau belum hasil tahun sekarang, ya tahun depannya,” paparnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Sementara yang dimaksud ‘bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi’ adalah agar dalam beramal untuk bekal akhirat, dikerjakan dengan sesegera mungkin. Ibarat orang akan mati esok hari, maka sebelum ajalnya menjemput, secepat mungkin melakukan amal untuk bekal di akhirat.

“Kalau saya mati besok, wah, bagaimana (nasib) anak-anakku, bagaimana tinggalanku, nggak cukup. Akhirnya dia semangat, tidak menunda-nunda amal wajibnya. Karena dia telah menganggap seakan-akan dia mati,” jelas ulama kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu.

Kiai Miftach melanjutkan, prinsip ini diperkuat oleh Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77, yaitu wa lâ tansa nashîbaka minadduniâ wa aḫsin kamâ aḫsanallâh. Dan janganlah kamu melupakan bagian dari (kenikmatan) duniamu dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. “(Kata) ‘jangan lupa’ (lâ tansa) di sini berarti dunia bukanlah pokok. Yang pokok itu akhirat. Karena kita itu makhluk proyeksi akhirat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Pada kesempatan itu, Kiai Miftach juga menjelaskan, jika seseorang sudah mampu mengamalkan prinsip bekerja seperti itu, yaitu tidak berambisi dalam pekerjaan dunia dan mampu menyegerakan amal untuk bekal akhirat, maka bisa menjalani hidup dengan istikamah dalam bekerja mencari rizki. Jika sudah istikamah, maka hasil rizkinya berkah dan tidak disangka-sangka.

“Karena istikamah inilah yang akan datang keberkahan hidup. Rizkinya datang tanpa disangka-sangka. Orang paling senang itu kalau dapat rizki yang tidak disangka-sangka,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Miftahus Sunnah, Surabaya itu.

Hanya saja, lanjut Kiai Miftach untuk mendapatan rizki yang tidak disangka-sangka, seseorang tidak boleh terlalu terikat oleh dunia. “Hati kita ini masih ada hubungan kuat dengan dunia, makannya rizki min ḫaitsu la yaḫtasib (tidak disangka-sangka) nggak datang-datang,” jelasnya.

Selain mempersulit rizki, lanjut Kiai Miftach ketergantungan berlebih pada dunia juga menyebabkan ibadah tidak khusyuk. Alasannya, dunia itu isinya kesenangan, sementara kesenangan itu ibarat anaknya setan. “Kalau yang disenangi setan itu kamu ganggu, setan tidak akan membiarkan (untuk mengganggu kekhusyukan ibadah),” pungkasnya.*

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hadits NabiKH Miftachul AkhyarMajelis Ulama Indonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uskup Prancis Meralat: Perlindungan Anak Prioritas Dibanding Kerahasiaan Pengakuan Dosa
Tulisan selanjutnya Kemenag Optimis Haji 2022 Bisa Diselenggarakan Dengan Kuota Normal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?