Hidayatullah.com- Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) dengan nama pena Gegge Mappangewa berharap pemerintah memudahkan dan memurahkan biaya cetak. Tujuannya, supaya produksi buku semakin banyak dan penyebarannya merata serta terjangkau.
“Jika minat baca tinggi, maka perpustakaan dan taman baca di kota mana pun akan kewalahan melayani pengunjung. Itu jika melihat literasi dari minat baca-tulis ya,” ujar pria bernama asli Sabir ini dalam keterangan tertulis FLP kepada hidayatullah.com (22/11/2021).
Sebagai ketua umum dari komunitas literasi dan telah mempengaruhi tren buku bacaan di Indonesia, Gegge lewat FLP berencana ke depan akan semakin memperbanyak karya, baik cetak maupun digital.
Hal ini katanya merupakan penyesuaian diri sebagai organisasi literasi dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Jika dulu FLP sangat identik dengan karya fiksi, dari tahun ke tahun FLP semakin banyak penulis di genre mana pun. Penulis cerita anak, remaja, fiksi dan nonfiksi, bahkan penulis jurnal pun ada di FLP. Intinya, FLP harus menyesuaikan perkembangan literasi agar bisa tetap eksis sebagai organisasi literasi yang mencerahkan. Kami akan tetap mendesain konsep agar karya-karya FLP bisa tetap eksis,” ujarnya.
Budaya literasi terkait erat dengan perbukuan. Gegge menilai, buku saat ini bukan hanya tak terjangkau dari segi harga, melainkan juga benar-benar tak terjangkau oleh tangan, karena masih minimnya perpustakaan dan rumah baca di Indonesia. Untuk taman baca, meski jumlahnya dinilai meningkat, tapi itu masih jauh dari kata banyak.
Masalah lain soal literasi juga terkait bergantinya tren membaca. Dari majalah, berganti buku, kemudian digital. Pergantian tren itu dinilai wajar, sebab semua ada zamannya.
“Misalnya di segmen bacaan. Ada peralihan dari zaman majalah yang tadinya menjadi tren, berganti dengan membaca buku, terutama majalah buat remaja. Dulu, buku-buku best seller jarang terdengar ketika zaman majalah menjadi raja bacaan para remaja. Namun setelah berpindah ke digital, majalah gulung tikar, pembaca beralih ke dunia buku cetak dan digital. Semua ada zamannya,” katanya.
FLP menilai, untuk saat ini, tingkat literasi di Indonesia masih rendah. Apalagi di awal-awal terjadinya pandemi Covid-19, tren membaca sempat tiarap. Namun demikian, pada satu sisi sekarang ini tren membaca semakin giat.
“Hanya di awal-awal saja benar-benar tiarap. Dibuktikan dengan terbukanya keran-keran diskusi meskipun melalui dunia maya. Di mana-mana kelas menulis daring terlaksana. Event-event sastra pun semua tetap terhelat,” ujar peraih Islamic Book Fair Award 2013 ini.
Baca juga: Gegge Mappangewa Ketum FLP, Habiburrahman El Shirazy Ketua Dewan Pertimbangan
Ia menilai, masalah ini cukup teratasi dengan adanya Gerakan Literasi Nasional yang diinisiasi oleh Kemendibud Ristek dengan menyediakan buku-buku digital. Meski masih sebatas buku bacaan anak SD.
“Sekolah-sekolah juga menyediakan pokok baca setiap kelas meski di pandemi semua kegiatan Gerakan Literasi Sekolah nyaris terhenti total bahkan menyebabkan learning loss pada anak-anak,” ujar pemenang Sayembara Bahan Bacaan Anak Kemendikbud 2017 ini.
Gegge berpendapat, sebetulnya rendahnya literasi di Indonesia karena membaca belum menjadi tren. “Tren membaca buku best seller memang ada, tapi lagi-lagi itu hanya di ranah orang-orang yang mampu membeli dan mengoleksi buku,” kata pria yang terpilih menjadi Ketua Umum dalam Munas ke-5 FLP di Malang, Jawa Timur (19-21/11/2021) ini.*