Hidayatullah.com — Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat muslim bermuhasabah menemukan titik lemah, mencari solusi dalam kegiatan penguatan ekonomi dan sosial. Pasalnya meski umat muslim di Indonesia sebagai mayoritas, namun dalam beberapa aspek lebih-lebih ekonomi masih jauh tertinggal.
Bahkan penuturan seorang tokoh menyebut, jika ada 100 orang kaya maka yang beragama Islam hanya 10. Namun jika ada 100 orang miskin, maka 90 kemungkinan muslim dan 10 bukan.
Haedar menuturkan, sektor ekonomi masuk menjadi pilar ketiga dalam amanat Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar. Menurutnya, persoalan ekonomi umat muslim jangan terlalu banyak teori, melainkan selain berteori juga harus banyak praktek.
“Kita majukan umat ini dengan kerja-kerja ekonomi, sosial yang kuat. Sehingga kedepan kita bisa maju, tapi urusan ekonomi, sosial ini jangan terlalu banyak teori,” tutur Haedar seperti dikutip dari web resmi Ormas Muhammadiyah, Kamis (16/12/2021).
Di acara Pengajian Milad ke-109 Muhammadiyah yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) itu Haedar meminta Muhammadiyah melalui berbagai Amal Usaha (AUM) yang dimiliki sebenarnya mendorong ke arah situ, dan lebih luas lagi mendorong supaya umat muslim di Indonesia menjadi khair al ummah (umat terbaik).
Namun untuk meraih hal itu tidak mudah, semua memerlukan tahapan, sembari melakukan muhasabah untuk menemukan titik lemah. Realitas tersebut juga terjadi dalam konteks kebangsaan saat ini, menurut Haedar, bangsa Indonesia perlu untuk melakukan muhasabah supaya melahirkan kesadaran baru.
Haedar mengatakan bahwa di antara titik lemah lain, korupsi adalah yang menjadi paling krusial untuk segera dibenahi. Terkait itu, ia dengan tegas mengingatkan bahwa perilaku korup yang ketahuan akan masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin dan yang tidak ketahuan tetap menjadi dosa.
Perilaku korup yang dimiliki oleh pejabat negeri ini berdampak signifikan kepada semakin jauhnya kesejahteraan bagi masyarakat. Namun disisi lain, Haedar juga mengingatkan supaya perilaku korup pejabat tidak berterus-terusan, maka masyarakat diminta untuk tidak terlalu pragmatis dan transaksional.
Misalnya, suara yang mereka miliki bisa diukur dengan ‘amplop’ para calon. Hal itu menunjukkan bahwa, transaksi politik bukan hanya bisa dilakukan oleh para elite. “Saya pikir ke depan demokrasi kita akan kuat, jika nilai-nilai agama, pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa menjadi pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” imbuh Haedar Nashir.*