Hidayatullah.com–Tak ada paham yang kini begitu mengancam nasib keharmonisan keluarga kecuali bernama liberalisme. Karena itu, hanya Islam lah satu-satunya peradaban yang bisa menyelamatkan keluarga. Pernyataan ini disampaikan oleh guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Nabilah Lubis.
"Westernisasi (pembaratan) berjubah globalisasi menyeret keluarga kita dalam lingkaran setan liberalisme. Maraklah seks bebas, pernikahan gay dan lesbian, aborsi, bunuh diri, nikah beda agama, nikah kontrak, dan sederet penyakit masyarakat lainnya," kata wanita yang juga Ketua Majlis al A’Lamiyah al ‘Alimat al Islamiyah (Dewan Para Ulama Wanita Islam se-Dunia/MAAI) ini.
Nabilah menyampaikan hal itu ketika menjadi pembicara dalam seminar bertema "Bersama Keluarga Qur`ani Kokohkan Bangsa". Seminar ini digelar di tengah acara Musyawarah Nasional (Munas) II Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta (9/7/2005).
Lebih lanjut Nabilah mengatakan, kemajuan teknologi informasi telah mengubah dunia menjadi sebuah desa kecil. Hak asasi manusia (HAM) dan liberalisme dijadikan kata kunci dalam proses globalisasi itu. "Apapun diglobalisasikan, baik itu nilai-nilai, ideologi, way of life, bahkan budaya yang sebenarnya tidak matching (klop) sekalipun. Dan semua itu ‘harus’ masuk ke dalam ruang privat rumah kita," ujar Nabilah.
Untuk itulah, menurut Nabilah, institusi keluarga membutuhkan sosok manajer rumah tangga yang tangguh, yang senantiasa berpegang kepada Al-Qur`an dan Sunnah. Manajer yang dimaksud adalah kaum perempuan. "Menjadi manajer rumah tangga adalah profesi yang utama dan membanggakan," ujarnya.
Menurut Nabilah, dari keluargalah segala sesuatunya bermula. Kekokohan suatu bangsa dibangun di atas sendi-sendi keluarga yang kuat. "Sebagaimana kehancuran suatu bangsa juga dimulai dari keluarga yang rusak."
Seminar ini juga menghadirkan Dr Marwah Daud Ibrahim (cendekiawan ICMI). Senada dengan Nabilah, Marwah menyebut ibu rumah tangga sebagai sosok yang berperan utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Secara ekstrim politisi senior ini mengatakan, kalau bangsa ini ingin berubah, tak usahlah berharap pada istana negara atau anggota DPR. "Berharaplah pada rumah-rumah tangga yang kokoh dan berpegang teguh pada ajaran agama," katanya.
Agar bisa membangun institusi rumah tangga yang tangguh, kaum wanita harus yakin akan potensi pada dirinya. "Yakinlah bahwa kaum perempuan ini, subhanallah, luar biasa. Kita punya potensi besar yang sudah dirancang secara khusus oleh Sang Pencipta."
Syarat lainnya adalah mampu mengelola waktu dengan baik. Ini perlu sebab dalam waktu yang sama, kaum wanita adalah sosok ibu, istri, sekaligus anggota masyarakat.
Liberalisme tak hanya mengguncam masyarakat Barat semata. Bahkan pihak gereja pun jadi kalang kabut dibuatnya. Tak heran jika di Amerika sendiri sejak beberapa tahun lalu mulai memunculkan gerakan kembali ke rumah (back to family). Kampanye back to family tak lain mengajak para ibu untuk bekerja di dalam rumah, mendidik anak, dan merawat keluarganya.* (pambudi)