Hidayatullah.com– Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, menjelaskan, pola tawuran antar pelajar akhir-akhir ini kerap dipicu oleh masalah sepele seperti saling ejek dan bully di media sosial.
Mereka sering janjian tempat dan waktu tawuran melalui media sosial. Untuk menghindari pihak polisi, tawuran dilakukan pada dinihari ketika situasi jalan masih sepi.
“Biasanya, para remaja ini tergabung dalam ‘genk’ yang melibatkan tidak hanya teman satu sekolah tetapi juga teman beda sekolah. Jika beda sekolah, biasanya ketika di jenjang sekolah sebelumnya mereka satu sekolah, misalnya saat SMP, namun pisah sekolah saat mereka SMA,” ungkapnya kepada hidayatullah.com Jakarta, Senin (17/09/2018).
KPAI mendorong penyelesaian kasus tawuran pelajar harus melibatkan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta para kepala sekolah yang lokasi sekolahnya berdekatan.
Ia menekankan, penyelesaian harus fokus menemukan akar masalahnya dan dilakukan pendekatan mediasi yang melibatkan orangtua siswa.
“Para orangtua dan guru harus memiliki media sosial dan mengetahui media sosial anak-anak yang berpotensi melakukan tawuran, sehingga bisa melakukan upaya preventif,” sarannya.
Retno menambahkan, berbagai kegiatan pentas seni maupun olahraga bersama antar sekolah yang kerap tawuran harus digelar secara rutin agar energi negatif bisa dihilangkan, dan saat melakukan aktivitas bersama bisa saling mengenal lebih dalam, sehingga meminimalkan konflik.
“Asian Games 2018 adalah contoh positif ketika ribuan pelajar dari berbagai sekolah menyatu berlatih menari selama beberapa bulan, sehingga menghasilkan tarian indah yang kita saksikan saat pembukaan Asian Games 2018 lalu di GBK Jakarta,” pungkasnya.* Andi