Hidayatullah.com–Aynur Akdenis melihat tayangan pertama mengenai penyerangan beringas pasukan Israel terhadap “Armada Kebebasan”. Ia segera mematikan TV, agar kedua anaknya tidak melihat tayangan brutal tersebut. Ayah mereka Mehmet Ali Akdeniz (34) sedang berada di kapal armada kemanusiaan Mavi Marmara tersebut, lansir Hurriyet (1/6)
Setelah menyaksikan berita penyerangan Israel terhadap kapal bantuan kemanusiaan pada dini hari yang menewaskan 19 relawan itu, Akdenis bergegas mendatangi Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH) di distrik Fatih Istanbul, untuk memastikan bagaimana keadaan suaminya.
Sebelumnya, Akdenis berencana untuk ikut serta dalam rombongan kemanusiaan tersebut beserta suaminya, namun mereka memutuskan untuk mengurungkan rencana itu, karena mereka masih memiliki dua anak, yang masih kecil.
“Anak saya berumur 4 dan 6 tahun. Mereka menitipkan sebanyak 300 batang lolipop (permen) kepada ayah mereka, agar dibagikan kepada anak-anak Palestina di Gaza,” katanya sambil menangis. Meskipun kedua anak itu tidak memahami masalahnya, mereka juga khawatir, ucap Akdenis.
Akdenis merasa terkejut setelah mendengar adanya serangan brutal terhadap kapal yang membawa suaminya tersebut, karena suaminya sendiri tidak memiliki pisau saku, karena ada aturan ketat bagi para aktivis untuk tidak mempersenjatai diri.
Namun, ada hal yang bisa melegakan, dari beberapa teman, Akdenis mendapatkan kabar bahwa mereka melihat seorang pria mirip suaminya dalam keadaan hidup pasca serangan.
Sedangkan Sümeyye Sena Tezcan, seorang siswa berumur 15 tahun merasa lega. Ia menyaksikan ibunya, Demet Tezcan, di TV dalam keadaan baik.”Selama serangan, ia membantu orang yang terluka.”
Tezcan juga bercerita, bahwa adik bungsunya telah memberikan boneka bayinya kepada sang ibu, agar nanti diberikan kapada anak-anak Gaza, setelah kapal bantuan sampai di wilayah yang diblokade oleh Zionis-Israel ini.
Hayrünnisa Abdurrahman, seorang ibu dari empat anak, juga mengkawatirkan nasib suaminya, yang juga mengikuti rombongan Freedom Frotilla .”Dia adalah orang yang tidak tahan ketidakadilan. Saya takut bahwa ia mungkin ikut campur selama serangan untuk menyelamatkan orang dari tentara Israel, “Katanya.
Sebelum meninggalkan rumah, Abdurrahman mengatakan kepada istrinya bahwa perjalanan ini berpotensi fatal dan ia meminta doa.
Yang juga mendatangi kantor IHH saat itu adalah Selma Erkal, yang telah menyaksikan adiknya di TV, “Dia pingsan, dan ada orang yang mencoba untuk membantunya,”
“Kami percaya bahwa ia hanya terluka, tapi dia juga bisa mati. Dia memiliki dua orang anak dan kami tidak memberitahu istrinya apa yang kita lihat.” Kata Erkal.
?HH adalah penyelenggara utama pengiriman bantuan dan pusat manajemen krisis, yang terletak di lantai teratas bangunan, sudah sibuk sepanjang hari. Banyak orang yang bergegas ke gedung ?HH pada dini hari pasca serangan brutal Israel terhadap kapal-kapal pembawa bantuan menuju Gaza. Ruang konferensi pers dipenuhi keluarga yang ingin mengatahui nasib orang-orang yang mereka cintai.
Dari 600 penumpang kapal Mavi Marmara, sekitar 400 adalah warga negara Turki. Menurut Wakil Direktur ?HH Yavuz Dede, salah satu penumpang adalah seorang bayi yang berumur 18 bulan. Seperti Aynur Akdenis, semua orang menunggu kepastian suami atau istrinya yang ikut rombongan kemanusiaan yang berniat mulia ini. [Hurriyet/tho/hidayatullah.com]