Hidayatullah.com–Keempat orang anggota delegasi Indonesia yang ikut serta di konvoi Viva Palestina-5 menuju Gaza, yang kini masih berada di pantai Latakia, Suriah, dalam keadaan baik dan penuh semangat.
Ustadzah Yoyoh Yusroh, anggota Komisi I DPR-RI, yang memimpin rombongan juga dalam keadaan sehat, padahal sebelum meninggalkan tanah air, ibu 13 anak ini sempat dirawat di rumah sakit, karena kadar haemoglobin-nya turun drastis akibat keletihan.
“Ya, inilah hotel ‘bintang lima’ kami…” kata Ustadzah Yoyoh ceria, saat dikunjungi Sahabat Al-Aqsha kemarin di barak militer Tala’a yang untuk sementara dipakai tempat tinggal ratusan anggota konvoi dari puluhan negara itu.
Bangunan yang dimaksud itu berukuran kurang lebih 3×4 meter per segi. Satu jendela besar tidak berdaun, hanya berjeruji. Akibatnya angin laut yang mulai dingin di musim gugur masuk dengan sangat keras. Di dalam bangunan kecil yang biasa dipakai tidur anggota tentara Suriah itu ada 4 ranjang besi tanpa seprai. Kasur kecil berkain hijau kasar seperti jok kursi. Selimutnya tidak tebal. Puluhan rumah mungil seperti itu tersebar di komplek militer tersebut.
Meskipun dalam keadaan begitu sederhana, menurut Silvy, ibu rumah tangga aktivis Persaudaraan Muslimah (Salimah), “Kasurnya enak ya. Saya belum pernah tidur senyenyak ini di luar rumah saya sendiri…” Silvy fasih berbahasa Inggris dan menjadi wakil Indonesia saat berpidato selama 3 menit di depan para delegasi lain.
Pipik Dian Iriawati, istri muballigh Jefri Buchori, menimpali, “Iya, nyenyak sekali…” Dia sibuk dengan iPad menulis laporan untuk sebuah majalah Muslimah di Jakarta.
Ustadzah Yoyoh menyambar, “Itu bukan karena kasurnya enak, tapi kitanya yang capek.”
Sementara Aqil, mahasiswa UGM aktivis Jama’ah Shalahuddin, satu-satunya lelaki di rombongan itu mesem-mesem saja duduk tak jauh dari para ibu itu. “Untung ada Aqil,” kata Ustadzah Yoyoh, “Jadi bisa ada yang bisa dimintai tolong untuk segala hal.”
Mereka baru saja menyelesaikan makan siangnya yang istimewa, karena menurut Ustadzah Yoyoh, biasanya menunya, “Jauh dari rasa masakan Indonesia.” Menu siang kemarin, nasi kuning lemak, bulgur, dan irisan daging kambing yang ditaburi kacang-kacangan.
Delegasi Indonesia sebenarnya berjumlah 10 orang, namun enam orang lainnya tidak mendapatkan visa dari kedutaan Suriah di Jakarta. Akibatnya, keenam orang itu langsung berangkat ke Mesir, dan saat ini sudah beberapa hari menginap di hotel murah di kota pelabuhan Al-Arisy di dekat perbatasan Mesir-Gaza. Diantara mereka yang terpaksa menunggu rombongan besar Viva Palestina-5 itu adalah Muqoddam dari KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina), penulis dan pegiat sastra Helvy Tianar Rosa, dan Dwi Septiawati dari majalah Ummi.
Diakui oleh Ustadzah Yoyoh, misi kemanusiaan yang melibatkan 10 orang relawan Indonesia dari berbagai elemen ini dilakukan cukup mendadak. Pendaftaran resmi mereka ke panitia Viva Palestina-5 baru dilakukan sekitar seminggu sebelum mereka berangkat.
Banyak informasi penting yang mestinya dimiliki tidak mereka terima. Misalnya, bahwa sejak bulan Juni lalu, Zionis Israel mengeluarkan daftar barang yang tidak boleh dibawa masuk oleh misi kemanusiaan manapun ke dalam Gaza, diantaranya mobil jip atau 4×4 yang dikhawatirkan diubah menjadi kendaraan militer.
Delegasi Indonesia sudah membeli dua buah jip second hand begitu tiba di Damaskus, dengan bantuan para staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Sebuah jip bermerek Pajero tahun 2007 berwarna putih mulus diputuskan oleh panitia Viva Palestina-5 untuk tidak dibawa. Padahal di kaca belakang jip itu sudah tertempel stiker besar yang berisi beberapa lembaga yang ikut menyumbang, diantaranya BSMI dan PKPU. Menurut Ustadzah Yoyoh, jip akan dipergunakan untuk kepentingan pengungsi Palestina setempat lewat pengaturan panitia Viva Palestina-5.
Sedangkan jip kedua bermerek Land Cruiser bekas milik PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) adalah sebuah ambulan dan dibolehkan untuk dibawa.
Ihwal serba mendadaknya persiapan mereka ini juga disebutkan oleh staf KBRI yang menjemput dan sempat membantu mereka belanja berbagai bantuan di Souq Hamidiyah, Damaskus. “Mestinya beri tahu kami dari jauh-jauh hari Bu,” kata Ustadzah Yoyoh menirukan kata-kata staf kedutaan itu. Termasuk soal pengurusan visa yang mestinya bisa dibantu. “Yah, kita mengambil banyak pelajaran dari kekurangsiapan kita,” kata Ustadzah Yoyoh.
Kemarin lusa ada kejutan manis, hari Jum’at yang merupakan hari libur di Suriah, seorang staf kedutaan bernama Jamal datang membawa istri dan anak-anaknya dari Damaskus yang berjarak sekitar 200 km dari Latakia, mengunjungi delegasi misi kemanusiaan Indonesia.
Ketika ditanya apakah Duta Besar Indonesia sudah mengunjungi mereka, Ustadzah Yoyoh yang baru sebulan lalu dipindah dari Komisi VIII ke Komisi I DPR yang membidangi Politik, Hankam dan Hubungan Luar Negeri, mengaku Duta Besar Indonesia di Damaskus belum menemui mereka sejak ketibaan delegasi kemanusiaan ini hari Ahad lalu.
Meskipun begitu, Ustadzah Yoyoh dan kawan-kawan nampak begitu bersemangat bergabung para relawan dari berbagai negara untuk berangkat ke Gaza. Jalur Gaza selama 4 tahun terakhir ini diembargo secara internasional oleh Zionis Israel, dibantu oleh Amerika Serikat dan kawan-kawan.
Viva Palestina-5 merupakan salah satu gerakan rakyat antarbangsa yang menyerukan dunia untuk melawan kezaliman Israel yang sudah banyak merenggut korban di Gaza dan Palestina. Sampai hari ini jumlah peserta konvoi yang sudah berkumpul di Latakia sekitar 400 orang dari lebih 30 negara, siap membawa lebih dari 150 kendaraan berbagai ukuran. Viva Palestina dipimpin oleh George Galloway, bekas anggota parlemen Inggris.
Kabar yang beredar di kalangan panitia Viva Palestina-5, rombongan konvoi akan berlayar dari pelabuhan Latakia hari Senin atau Selasa ini menuju pelabuhan Al-Arisy di Mesir, untuk selanjutnya menempuh jalur darat masuk ke perbatasan Gaza.
Ustadzah Yoyoh dan kawan-kawan tersenyum-senyum mendengar berita itu. Mereka sudah semakin tangguh melewati hari-hari yang segala jadualnya bisa berubah sewaktu-waktu. Ustadzah Yoyoh berkomentar, menirukan ucapan seorang peserta yang sempat memberikan tausiyah, “Kami ini dalam keadaan ribath, ‘argometer’ (pahala) muter terus…”
Tak lama kemudian azan maghrib yang merdu berkumandang di sela angin pantai Latakia yang keras dan mulai mendingin. Ratusan peserta konvoi lelaki dan perempuan menegakkan shalat di atas rumput lapangan barak militer itu. Mereka menghadap Allah, Sang Pengatur Segala Sesuatu. [sa/hidayatullah.com]
Foto: Sahabat al Aqsha