Hidayatullah.com–Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyatakan Rabu (16/3) bahwa Israel selalu menggebu-gebu menyalahkan Palestina, dan menggebu-gebu juga menyalahkan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan brutal terhadap sebuah keluarga Yahudi di permukiman Itamar, bahkan sebelum kebenarannya terungkap.
Biro Pemberitaan dan Informasi Palestina melaporkan bahwa Abbas membuat komentar ini pada saat sesi pembukaan di Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Abbas menggambarkan pembunuhan terhadap keluarga Yahudi tersebut sebagai “kejahatan tidak manusiawi dan tidak bermoral”, sembari menambahkan bahwa Israel bersikeras menyalahkan Palestina untuk kejahatan ini, sebelum penyelidikan menghasilkan hasil apapun yang dapat menentukan siapa pembunuhnya itu.
“Fakta-fakta masih belum diketahui,” kata Abbas. “Namun, Israel bersikeras pada tuduhannya sebelum fakta-fakta diketahui.”
Lebih jauh Abbas menyatakan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan memberitahukannya bahwa Otoritas Palestina siap untuk bekerja sama dalam upaya untuk mencari para penyerang.
Abbas juga mengatakan bahwa pemukim Yahudi di Tepi Barat melakukan kejahatan terhadap warga Palestina setiap hari, tetapi hal ini tidak dianggap sebagai bentuk penyerangan.
“Tetapi dunia harus tahu bahwa desa kami selalu diserang, pohon kami ditebang, masjid dan rumah kami diserang dan dibakar,” kata Abbas berkata. “Masyarakat Internasional dan masyarakat di Israel harus bicara tentang kejahatan ini, dan mengidentifikasi mereka sebagai bentuk kejahatan juga.”
Presiden Palestina saat ini menunggu hasil penyelidikan Israel tersebut agar penyerang dapat ditangkap dan dituntut.
Sebagaimana diberitakan, lima warga Israel, suami istri dan tiga anak mereka, ditemukan tewas ditikam di pemukiman Tepi Barat, Sabtu pagi. Pelaku disebut-sebut masuk ke rumah korban Jumat larut malam dan menyerang mereka di permukiman Itamar, sekitar 70 km sebelah utara Al Quds.
Angkatan Pertahanan Israel mencari tersangka di sekitar Itamar, suatu wilayah terdapat 100 keluarga Yahudi Ortodoks.*