Hidayatullah.com–Para aktivis asal Malaysia yang membawa bantuan kemanusiaan dengan kapal laut menolak menyerahkan muatan mereka kepada pihak Mesir, karena khawatir akan jatuh ke tangan Zionis-Israel.
Pekan lalu mereka sudah berusaha untuk mendarat di Gaza, tapi terpaksa mengubah haluan karena Angkatan Laut Zionis menembaki kapalnya.
Matthias Chang pimpinan misi Perdana Global Peace Foundation kepada AFP (27/5) mengatakan, tidak tahu kapan pemerintah Malaysia dan Mesir akan berupaya mengakhiri masalah tersebut.
Menurut Chang, Mesir bersikeras agar kargo mereka diturunkan di Mesir dan akan diangkut masuk ke Jalur Gaza lewat pintu perbatasan Kaern Shalom yang dikuasai Zionis.
“Kami tidak yakin kargo ini akan benar-benar dikirim ke Gaza, sebagaimana yang sebelumnya … sebagian besar bantuan kemanusiaan dibuang di Israel,” imbuh Chang.
Aktivis asal Malaysia itu juga mempertanyakan keseriusan Mesir yang berjanji akan membuka pintu perbatasan Rafah, sebab bantuan mereka berupa 4,6 ton pipa saluran pembuangan limbah ditolak masuk ke Gaza lewat perbatasan Rafah yang dikuasai Mesir.
“Kejadian ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah Mesir dan menunjukkan dukungan implisit mereka atas blokade ilegal, padahal mereka secara terang-terangan menyatakan akan membuka perbatasan Rafah secara permanen,” kata Chang.
Penasihat Perdana Foundation Mukhirz Mahathir, salah seorang putra mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Muhammad, menyatakan ketidaksenangannya atas tindakan Mesir.
“Kami kecewa jadinya seperti ini, sebab kami berharap dengan pemerintahan baru akan ada perubahan mendasar dalam cara mereka memperlakukan rakyat Palestina dan Gaza. Tapi ternyata tidak demikian,” kata Mukhriz.
Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman dalam sebuah pernyataan mengatakan, Kairo dan Kuala Lumpur berusaha agar kapal MV Finch yang sudah 10 hari ditolak melempar sauh di Al-Arish bisa berlabuh dan menurunkan muatannya.
MV Finch yang juga ikut dalam Freedom Flotilla pertama tahun lalu, berangkat dari Yunani pada 16 Mei dengan membawa pipa-pipa yang diperlukan untuk perbaikan sistem pembuangan limbah di Jalur Gaza. Pada 16 Mei pasukan AL Zionis-Israel menembaki mereka saat berada di perairan sekitar 400 yard dari pantai Gaza dan memaksa kapal berbelok ke perairan Mesir.*