Hidayatullah.com–Jalur Gaza saat ini tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat pengangguran tertinggi di dunia. Perang dan pengepungan yang dilakukan Zionis Israel membuat banyak keluarga kehilangan mata pencahariannya dan terpaksa membiarkan anak-anak mereka ikut mencari pekerjaan.
Saat ini, banyak anak yang dipekerjakan untuk mencari rongsokan logam, bekas serangan udara ‘Israel di daerah pesisir pantai. Para pekerja anak ini disukai karena lebih berani dan tidak banyak menuntut seperti pekerja dewasa. Mereka juga dibayar dengan upah lebih rendah dibandingkan pekerja dewasa.
Koresponden kantor berita Maan News sempat berbincang dengan seorang pekerja anak bernama Muhammad. Ketika ditemui, Muhammad sedang mengumpulkan besi-besi bekas dari sebuah kantor polisi di Beit Lahiya yang hancur lebur akibat serangan udara ‘Israel’, hari Senin dini hari lalu.
“Ayah saya meminta saya mengumpulkan besi-besi bekas. Saya dan teman saya pergi dari pagi untuk mengumpulkan besi sebanyak yang kami bisa untuk dijual pada pedagang dengan harga 15-20 shekel (USD4-5),” terang Muhammad.
“Yang sangat melelahkan adalah ketika kami harus menarik besi-besi bekas itu dari bawah reruntuhan. Saya dan teman saya berusaha menarik dan kadang saya terjatuh dan akhirnya menjadi kotor,” ia melanjutkan.
Serikat pekerja di Gaza secara tegas melarang penggunaan tenaga kerja anak dan menolak semua lisensi bisnis yang mengeksploitasi anak. Manager eksekutif serikat pekerja industri Palestina di Gaza, Khader Shanyora mengatakan, tidak sedikit anak di bawah umur yang kini menjadi satu-satunya sumber penghasilan di dalam keluarga. Terutama jika ayah mereka telah tewas.
Menurut laporan Biro Statistik Palestina tahun 2010, sedikitnya 38,4% anak-anak di Gaza berada di bawah garis kemiskinan. Besi-besi bekas yang mereka kumpulkan, Shanyora melanjutkan, rata-rata kehilangan kekuatannya hingga 50-60% dalam proses daur ulang. Sehingga sebelum digunakan untuk pembangunan, besi-besi itu harus dites. (MR/ Sahabat al-Aqsha)