Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Menuju Totalitas Penyucian Diri [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 November 2011 09:29 9:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 November 2011 09:29
Bagikan
Bagikan

/Tulisan Pertama/

Oleh: Shalih Hasyim

Ketiga: Tazkiyatul Mal (penyucian harta)

Karunia harta yang terbaik adalah ketika berada di tangan laki-laki yang shalih. Ia berpandangan, sekalipun hartanya habis di jalan Allah SWT bukanlah dikategorikan mubadzir. Sedangkan, sedikit saja yang di belanjakan di luar jalan-Nya termasuk mubadzir. Dan sikap mubadzir adalah sekutunya syetan.

Orang beriman memandang bahwa dirinya adalah hamba Allah SWT dan khalifah-Nya di muka bumi ini. Ia bukan hamba jabatan, hamba prestise, hamba mayoritas, hamba minoritas, hamba sain dan teknologi, hamba berhala yang abstrak dan kongkrit, hamba hawa nafsu perut, di bawah perut, hamba dinar dan dirham. Karena semua itu hanya makhluk (ciptaan) belaka.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Bahkan dunia dan seisinya diciptakan sebagai wasilah (sarana) untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Bukan ghoyah (tujuan akhir). Jika ia dititipi kekuasaan digunakan untuk membela yang zhalim, bukan membela si zhalim. Berani membela kebenaran, bukan membela yang membayar (suap). Jika diamanahi ilmu digunakan untuk mencerahkan yang bodoh, bukan membodohinya. Jika dititipi harta dimaksimalkan untuk memberi makan yang sedang kelaparan (muth’imul ji’an).

Justru, harta yang menjadi milik kita adalah modal untuk menuju ridha-Nya. Maka harta yang kita miliki kita sedekahkan. Yang tersisa itu yang kita makan dan kita warislkan. Sedikit sekali. Yang menjadi milik kita yang kita berikan kepada Allah SWT. Karena kita yakin harta yang kita infakkan akan tumbuh dan berkembang dalam kebaikan (barakah). Seorang mukmin lebih sabar dalam kondisi kekurangan, kelaparan daripada menahan jilatan api neraka. Maka, ia berhati-hati dalam mengelola amanah harta. Harta hanya sebagai hak guna, bukan hak milik. Ia menjaga diri dari harta yang syubhat apalagi yang haram. Ia menjauhi segala bentuk praktek riba klasik ataupun riba kontemporer.

Karakter orang yang sumber kehidupannya berasal dari riba, selalu susah sekalipun bunganya bertambah. Dia tidak merasakan kenikmatan di dalam jiwa karena pijakan kehidupannya menghisap darah orang lain. Tertawa di tengah-tengah penderitaan sesama. Ia bagaikan orang yang resah karena ditampar syetan. Jika yang berhutang tidak lancar pembayarannya, ia ingin merampas harta bendanya sebagai jaminan. Bertambah kasar budi pekertinya. Sekalipun ia menampakkan muka yang berseri-seri agar mudah dibayar, tetapi hakikatnya untuk menindas orang lain dengan mengeruk keuntungan yang berlipat-ganda.

Sebaliknya, Allah SWT menyuburkan sedekah. Dia ingin mempertautkan kasih-sayang antara yang memberi dan menerima. Ia yakin dengan memberi akan memperoleh balasan yang berlipat di luar teori dan prinsip-prinsip ekonomi. Bertolak dari sini, terbentuklah masyarakat yang saling berkasih-sayang, saling berwasiat dalam menetapi kebenaran dan kesabaran, bahu-membahu, doa-mendoakan. Orang kaya menjadi dermawan, orang miskin pandai menjaga kehormatan dirinya (‘iffah).

“Barangsiapa yang bersedekah senilai sebutir kurma dari usaha yang halal, dan Allah hanya menerima yang baik-baik, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya bagi pelakunya, sebagaimana salah seorang di antara kamu memelihara anak kuda, hingga sebutir kurma itu menjadi sebesar gunung.” (HR. Bukhari).

Keempat: Tazkiyatus Sulthan (penyucian kekuasaan, posisi dan jabatan)

Islam tidak mempersoalkan kekuasaan yang kita genggam, kekayaan yang melimpah dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Tetapi, Islam menggedor pikiran dan kalbu kita benarkah yang menjadi hak kepemilikan kita menambah kebaikan dalam kehidupan kita (barakah) ?. Yang dilarang adalah mencemari kekuasaan, harta, ilmu untuk membangun egoism (ananiyah), hubbusy syahawat.

Menyucikan kekuasaan berarti mendahulukan kepentingan orang banyak diatas kepentingan diri sendiri. Menyucikan harta berarti menghilangkan kelaparan, kehausan, tidur tidak nyeyak, dan menghindari terbukanya aurat (karena tidak memiliki pakaian) yang dialami sesama. Harta dibelanjakan untuk membuat kaum dhu’afa dan mustadh’afin tersenyum. Menyucikan ilmu berarti menjadikannya sarana untuk memberantas kebodohan.

Ali bin Abi Thalib, ketika ia menjabat sebagai khalifah, ia membagikan harta Baitul Mal hanya kepada yang berhak. Pernah, Aqil saudaranya memohon lebih dari haknya karena anak-anaknya sedang menderita. Kata Ali, Datanglah nanti malam, engkau akan aku beri sesuatu.

Malam itu Aqil datang. Lalu Ali berkata, Hanya ini saja untukmu. Aqil menjulurkan tangannya untuk menerima pembelian Ali. Tiba-tiba ia menjerit, meraung seperti sapi yang dibantai. Rupanya ia memegang besi yang menyala. Dengan tenang Ali berkata, itu besi yang dibakar di dunia. Bagaimana kelak aku dan engkau dibelenggu dengan rantai neraka.

Umar bin Abdul Aziz yang dikenal oleh sejarah sebagai khalifah yang kelima, juga memilih pola kehidupan seperti para pendahulunya. Negara yang dikelolanya benar-benar surplus, sampai utang-utang pribadi dan biaya pernikahan ditanggung oleh negara. Indikator kemakmuran yang tidak akan pernah terulang kembali. Para amil zakat berkeliling ke perkampungan Afrika, tetapi tidak menemukan seorangpun yang menerima zakat. Ketika cucu Umar bin Khatahab itu dilantik menjadi khalifah atas desakan rakyat, beliau menangis di rumahnya dan mengatakan kepada semua anggota keluarganya bahwa kita akan mendapatkan musibah besar. “Jika Anda mendukung kami masuk surga, maka mulai saat ini kita harus siap lapar.” Dalam sejarah dicatat, beliau hanya dua kali mandi junub selama dua tahun masa kepemimpinannya. Beliau juga menolak untuk tinggal di istana. Bertolak dari kesederhanaan pola hidup, mengantarkannya berhasil mengadakan transformasi social secara total di negara. Sekalipun beliau adalah merupakan bagian dari masa kebobrokan Bani Umaiyah.

Inilah tazkiyatus sultan – penyucian kekuasaan dari pencemaran kepentingan-kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan golongan. Dan Ali bin Abi Thalib sebagai penguasa memilih hidup sangat sederhana daripada memanfaatkan kekuasaan untuk membangun satus qua dan memperkaya diri.*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anak-Anak Gaza Kumpulkan Rongsokan Untuk Bertahan Hidup
Tulisan selanjutnya IPM Raih Predikat OKP Terbaik se-Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?