Hidayatullah.com–Hamas dan Fatah sepakat untuk menjadikan seorang pengusaha asal Jalur Gaza, Mamoun Abu Shahla, sebagai calon perdana menteri yang baru. Demikian dilaporkan jaringan berita Palestina PNN, Senin (21/11/2011).
Abu Shahla adalah seorang akuntan dan pengusaha kelahiran kota Akka pada tahun 1943. Ia menyelesaikan pendidikannya di Gaza, Mesir dan Amerika Serikat. Saat ini ia memegang paspor Inggris. Bersama istri dan anak-anaknya, Abu Shahla telah tinggal di Jalur Gaza selama lima tahun.
Perusahaan Abu Shahla bergerak di banyak bidang, termasuk konstruksi, komputer dan teknologi informasi dan suplier peralatan medis.
Selain Palestina, selama 22 tahun Abu Shahla menjalankan usaha di beberapa negara, seperti Yordania, Mesir, Libya dan Amerika Serikat. Ia tercaat sebagai anggota dewan direksi di Bank Palestina, Universitas Al Azhar, Masyarakat Atta Gaza, Palestinian Trade Center dan Palestinian Telecommunications Company.
Kabar tersebut belum mendapat konfirmasi dari Otoritas Palestina.
Perdana menteri sekarang, Sallam Fayyad, beerapa pekan lalu telah menyatakan akan meletakkan jabatan karena tidak ingin terlibat dalam proses rekonsiliasi antara Fatah dengan Hamas. Pada tahun 2009, Hamas menolak penunjukan dirinya sebagai perdana menteri Palestina.
Mendengar kabar rencana rekonsiliasi tersebut, Zionis Israel memperpanjang penangguhan pengiriman uang sebesar lebih dari USD 1 juta, hasil pajak yang ditariknya di rakyat Palestina pada bulan Oktober 2011, sebagai hukuman atas diterimanya Palestina sebagai anggota tetap UNESCO.*