Hidayatullah.com—Penjajah Israel akhirnya setuju menghentikan penggunaan alat detektor logam di pintu masuk Masjid Al-Aqsha, tindakan yang memicu protes umat Islam dan masyarakat internasional serta menyebabkan perlawanan berdarah sejak beberapa hari yang lalu.
Kantor Perdana Menteri Israel melalui pernyataan mengatakan kabinet menerima proposal untuk menggantikan penggunaan detektor logam dengan alternatif lain, termasuk penggunaan peralatan berteknologi tinggi untuk tujuan pemeriksaan keamanan.
Baca: Al-Aqsha Ditutup, Menag: PBB dan OKI Harus Segera Sidang Hentikan Tindakan Israel
Menurut pernyataan itu lagi, polisi Israel akan menambah anggotanya untuk mengontrol Masjid Al-Aqsa yang dikenal sebagai Al Haram al Syarif, serta mengambil tindakan yang ‘tepat’ dalam memastikan keamanan di tempat suci itu, lapor kantor berita China, Xinhua.
Keputusan tersebut diumumkan rezim Zionis setelah pertemuan kabinet yang berlangsung beberapa jam.
Sebelumnya, pihak penjajah memasang detektor logam setelah kasus heroik Bela Masjidil Aqsha oleh pemuda-pemuda Palestina pada 14 Juli 2017 lalu yang menyebabkan anggota polisnya terbunuh.
Baca: Tiga Pemuda Palestina Syahid Pasca Baku Tembak dalam Aksi Bela Masjidil Aqsha
Pemasangan alat detektor logam ini bagaimanapun menimbulkan protes dan kemudian berubah menjadi kerusuhan berdarah yang menyebabkan sekitar 10 tewas.
Masjid Al-Aqsha menjadi sumbu konflik Israel-Palestina sejak penjajahan Israel di Kota Lama Jerusalem pada 1967.
Penduduk Palestina menganggap tindakan memasang detektor logam itu sebagai trik penjajah untuk meningkatkan penguasaan Yahudi terhadap masjid ketiga paling suci bagi umat Islam sedunia. *