Hidayatullah.com—Harakah Muqawwamah Al-Islamiyyah (Hamas) menyampaikan kabar duka pada Jum’at (12/02/2021) atas wafatnya salah satu pendirinya, Dr. Ibrahim Al-Yazour. Dr. Ibrahim Faris Al-Yazour wafat pada Kamis (11/02/2021), pada usia 80.
Ibrahim Al-Yazour telah menghabiskan waktunya untuk berkhidmad dalam perjuangan pembebasan Palestina dan Masjid al-Aqsha. Ia merupakan sosok yang dikenal sebagai sahabat dekat tokoh utama pendiri Hamas, Syeikh Ahmad Yassin.
Dalam ucapan belasungkawanya, Hamas menyebut sosok Dr. Ibrahim sebagai seseorang yang menghibahkan seluruh diri dan waktunya untuk berkhidmat terhadap Islam dan kaum Muslimin.
Dr. Ibrahim Palestina lahir di desa Beit Daras pada tahun 1941, tujuh tahun sebelum Nakba Palestina. Ia menempuh pendidikan sekolah dasar di desanya, dan tidak menyelesaikannya sebagai akibat dari peristiwa perang yang pecah pada tahun 1948.
Ibrahim kemudian pindah dari desanya ke Ashdod, dan tinggal di sana bersama keluarganya selama beberapa hari. Setelah tentara Mesir mundur, ia pindah ke Kota Majdal untuk melarikan diri dari penindasan geng Zionis, kemudian ia dan keluarganya berakhir di kamp Khan Yunis, di mana mereka menetap di sebuah tenda di kamp barat.
Almarhum belajar di sekolah UNRWA pada tahap dasar dan persiapan di kamp Khan Yunis, kemudian menyelesaikan pendidikan menengahnya sebelum pindah ke Universitas Kairo untuk belajar di Fakultas Farmasi pada tahun 1960 M, untuk memulai perjalanannya dengan panggilan tersebut.
Setelah menyelesaikan studi farmasi di Kairo pada tahun 1965, Ibrahim kembali ke Jalur Gaza untuk bekerja di apotek miliknya sendiri.
Dia bergabung dengan jajaran perjuangan dan biasa mengunjungi Divisi Persaudaraan Pertama di Jalan Al-Sikali di Khan Yunis. Syekhnya pada saat itu adalah professor dan pendidik Muhammad Dabour “Abu Osama “, lalu setelah itu Profesor Abdul Badi Sabre.
Saat belajar farmasi di Universitas Kairo, Ibrahim bertemu dengan seorang pendidik Dr. Abd al-Rahman Baroud “Abu Hudhaifa”. Di sana dia bergabung bersamanya dalam sebuah keluarga persaudaraan mahasiswa Palestina.
Pihak berwenang Mesir menangkapnya pada bulan Desember 1965, atas tuduhan menjadi anggota Ikhwanul Muslimin. Ia kemudian dipindahkan ke Penjara Abu Zaabal, kemudian dibebaskan pada 7 Desember 1966.
Dr. Ibrahim al-Yazour kemudian menjadi salah satu pendiri Akademi Islam, dan dia bekerja sebagai wakil untuk Syeikh Ahmad Yassin dalam kepresidenannya di badan administrasi kompleks Islam. Almarhum kemudian turut berpartisipasi bersama Syeikh Ahmed Yassin dalam mendirikan gerakan Hamas pada bulan Desember 1987, gerakan perjuangan paling ditakuti penjajah ‘Israel’.
Pada tahun 1988, pasukan pendudukan menangkap semua pendiri Hamas, kecuali Syeikh Ahmed Yassin. Putranya Moamen, didampingi oleh Syeikh Ahmed Yassin, syahid pada tanggal dua puluh dua Maret 2004 M.
Ibrahim adalah sosok sederhana dan bersahaja. Meski dikenal sebagai pendiri Hamas yang seharunya mendapat pengawalan, namun itu tidak dilakukan. Kemana-mana ia selalu berjalan kaki sendiri dengan kendaraan umum.
Setelah 80 tahun hidup dan lebih dari 50 tahun jihad dan pekerjaan dakwah, ‘apoteker bisu” itu berpulang, setelah melihat apa yang telah dicapai oleh gerakan Hamas, yang ia dirikan bersama Syeikh Ahmed Yassin dan teman-temannya.*