Hidayatullah.com – Pasukan ‘Israel’ bersenjata lengkap menyerbu kantor biro Al Jazeera di Ramallah, Tepi Barat dan menutup paksa bangunan tersebut. Momen penyerbuan itu disiarkan secara live oleh Al Jazeera pada Ahad (22/09/2024).
Tentara ‘Israel’ mengusir semua orang yang bekerja di kantor biro Al Jazeera pada malam Ahad dan hanya membolehkan mereka membawa barang pribadi.
Setelah kantor biro Al Jazeera di Yerusalem ditutup ‘Israel’, kantor biro Ramallah merupakan pusat pengumpulan berita, tempat Al Jazeera melakukan peliputan tanpa henti selama tiga dekade.
Selama itu, para jurnalis Al Jazeera telah bekerja untuk menghadirkan kisah-kisah tentang pengalaman Palestina kepada masyarakat dunia tentang realita dan keadaan yang dialami rakyat Palestina.
Mulai dari penghancuran rumah hingga serangan udara, penggerebekan dan pembunuhan, pembangunan penghalang pemisah, dan absurditas pendudukan di abad ke-21.
Perluasan pemukiman ilegal dan teror kekerasan pemukim. Penderitaan ribuan warga Palestina yang dipenjara dan dampaknya terhadap keluarga mereka. Kepedihan dan kemarahan rakyat yang disebut oleh para pejabat PBB, hidup di bawah apartheid.
‘Israel’ sering mengincar Al Jazeera dan para jurnalisnya, bahkan terkadang sampai membunuh mereka – seperti yang terjadi pada Shireen Abu Akleh, Samer Abudaqa, Ismail al-Ghoul dan Rami al-Rifi.
“Hal ini sangat sesuai dengan kebijakan negara Israel sejak 1948 … untuk mencegah berita yang sebenarnya tentang warga Palestina atau tentang apa yang dilakukan negara Israel terhadap warga Palestina … menjajah mereka dan menangkap serta menyiksa mereka,” kata Rami Khouri, dosen di American University di Beirut, kepada Al Jazeera.
Dalih ‘Israel’
Perintah penutupan itu menuduh Al Jazeera melakukan penghasutan dan mendukung “terorisme”.
Khouri mengatakan bahwa Al Jazeera adalah “instrumen utama untuk menginformasikan kepada dunia tentang” pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel di wilayah Palestina.
Penutupan paksa
Seluruh tim yang bekerja di biro semalam diperintahkan untuk pergi.
Awalnya, mereka diberitahu di depan kamera bahwa mereka harus pergi dengan membawa barang-barang pribadi dan kamera. Namun, pada akhirnya mereka harus meninggalkan kamera di kantor.
Jivara Budeiri dari Al Jazeera, yang sedang bekerja saat penyerbuan terjadi, mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa tentara ‘Israel’ yang menyerbu kantor tersebut juga menyertakan para teknisi. Kehadiran mereka menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan arsip-arsip yang Al Jazeera miliki.
Kini, kantor biro Al Jazeera tidak dapat diakses oleh para jurnalis lantaran disegel dengan dua lempengan logam besar yang dilas di atas pintu masuk.*