Hidayatullah.com – Sejumlah pakar militer, yang pernah menduduki posisi penting di militer penjajahan ‘Israel’, menegaskan bahwa perang telah memakan banyak korban “melebihi beban yang bisa diemban para tentara Israel.”
Salah satu pakar militer tersebut adalah Noam Tibon, seorang mantan Mayor Jenderal yang pernah menjabat sebagai komandan Korps Utara militer Israel.
“Sayangnya, tentara Israel tidak mengatakan yang sebenarnya. Kami kekurangan 10.000 tentara dalam perang ini, setara dengan satu divisi yang utuh,” ujar Noam melansir Al Mayadeen pada Selasa (05/11/2024).
Noam juga menyebut militer penjajah ‘Israel’ telah kehilangan satu divisi lain, yang terbunuh dan terluka, selama perang genosidanya di Gaza dan Lebanon.
Perlu diketahui, militer ‘Israel’ telah mengalami kekurangan personil serius. Sejumlah mengungkapkan pengurangan besar-besaran tentara akibat berbagai sebab, termasuk menolak bertugas. Sementara entitas ‘Israel’ menyusun rancangan untuk mewajibkan Yahudi Haredi untuk melaksanakan wajib militer.
Departemen Rehabilitasi Kementerian Keamanan Israel baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka telah menerima setidaknya 12.000 tentara pendudukan sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, termasuk mereka yang didiagnosis dan menderita Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD).
Sekitar 43 persen dari 12.000 tentara menderita PTSD, sementara 14 persen mengalami cedera sedang hingga parah, termasuk 23 kasus dengan trauma kepala parah, 60 kasus amputasi, dan 12 orang yang kehilangan penglihatan secara permanen.
Mantan komandan Korps Utara itu sebelumnya mengatakan bahwa lebih dari 800 tentara terbunuh, sekitar 12.000 terluka, dan ribuan lainnya menderita syok sejak awal perang.
Beberapa hari lalu, media ‘Israel’ melaporkan bahwa Kepala Staf Militer Israel Herzi Halevi dan Menteri Keamanan Yoav Gallant meningkatkan tekanan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengamankan kesepakatan gencatan senjata.
Menurut The Jerusalem Post, pasukan penjajah ‘Israel’ sedang berusaha untuk mendekati gencatan senjata di Gaza dan Lebanon, karena mereka percaya bahwa hanya sedikit keuntungan militer yang bisa dicapai di tengah meningkatnya rasa frustasi akibat jumlah korban yang tercatat karena militer menghadapi perlawanan yang kuat di semua lini.
Laporan tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa Halevi dan Gallant telah mendesak Netanyahu untuk mengupayakan gencatan senjata yang akan memfasilitasi kembalinya tawanan ‘Israel’ yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, yang ditahan oleh faksi-faksi Perlawanan Palestina di Gaza.*
Baca juga: Banyak yang Tewas, Militer ‘Israel’ Desak Netanyahu Akhiri Serangan di Lebanon dan Gaza