Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“MIUMI Himpun Potensi Ulama Muda Lintas Mazhab Ahlus Sunnah”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Maret 2012 10:08 10:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Maret 2012 10:08
Bagikan
Bagikan

SELASA (28/02/2012), bertempat di Hotel Grand Sahid Jakarta dideklarasikan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Acara peluncurannya dihadiri banyak tokoh. Di antaranya ada intelektual muda, Dr Adian Husaini, Budayawan Taufiq Ismail, Dr. Din Syamsuddin, Fadhlan Garamatan, Dr Bambang Wijayanto (KPK), Dr Yunahar Ilyas, MA (Muhammadiyah), KH. Cholil Ridwan (MUI), Dr Mahfudz

MD (MK), Dr Fuad Bawazier, Sekjen FUI, M Khatath juga Farid Ogbah.

Apa dan bagaimana kiprah MIUMI? Belum lama ini, hidayatullah.com mewawancarai Wakil Sekjen MIUMI, Fahmi Salim, MA yang juga penulis buku, “Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal”. Inilah petikan wawancaranya.*

***

Mengapa harus ada MIUMI, Bukankah sudah banyak lembaga Islam, mengapa harus membentuk lembaga baru?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Sejauh pengamatan saya hingga lahirnya MIUMI, belum ada lembaga atau komunitas yang memiliki keunikan seperti MIUMI. Selama ini, saya melihat ormas-ormas Islam sibuk mengurusi internal rumah tangga mereka karena mengelola banyak kader anggota dan asset lembaga pendidikan yang mereka dirikan di seluruh tanah air, belum lagi menjalankan program masing-masing lajnah atau majelis atau divisi organisasi. Ormas seperti NU dan Muhammadiyah itu strukturnya ibarat Negara dalam Negara.

Tentu ini menguras banyak energi, perhatian dan sumber daya. Potensi dan asset ormas Islam itu patut kita syukuri dan apresiasi, dan harus terus dikembangkan sebagai wujud dinamika Islam di Indonesia.

Namun karena postur dan asetnya yang sedemikian besar, dapat memperlambat geraknya dalam merespon tantangan keumatan baik ideologi, pemikiran, dsb. Tentu di atas semua itu ada MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menjadi wadah silaturahim ulama, zuama dan cendekiawan Muslim.

Hampir semua ormas Islam menempatkan wakil kader terbaiknya di dalam struktur pimpinan dan komisi-komisi MUI. Produk fatwa MUI juga telah jadi rujukan para pengambil kebijakan di negeri ini, dan setiap RUU yang akan disahkan DPR bersama Pemerintah yang terkait kehidupan dan kemaslahatan keagamaan, MUI selalu dilibatkan. Ini positif. Tapi disisi lain, fatwa MUI tidak jarang diabaikan dan diacuhkan oleh Pemerintah dan unsur masyarakat lain seperti Fatwa Rokok, Fatwa Ahmadiyah, Fatwa Natal Bersama, Fatwa Doa Bersama Lintas Agama, dan lain-lain sehingga ada kesan “Nu’minu bi ba’dhin wa Nakfuru bi ba’dhin” (kita ambil sebagiannya, dan kita tolak sebagian lainnya). Ada kelompok yang menyatakan lantang “Indonesia bukan Negara Agama” sehingga Negara harus steril dari intervensi agama dan otoritas ulama dalam menciptakan struktur sosial di Indonesia. Di sisi lain, tampak kekuatan Islam terpecah dan tak jarang tak satu suara menyikapi persoalan strategis bangsa dan umat.

Nah, di sinilah, MIUMI menghimpun potensi ulama muda lintas mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk mengisi peran-peran yang telah ataupun yang belum dimainkan oleh ormas-ormas Islam dan MUI.

Apakah perannya akan saling bertabrakan dengan MUI?

Peran kita lebih kepada penguatan wibawa dan otoritas ulama di mata public dengan memberikan solusi ilmiah dan syar’iah terhadap segala permasalahan bangsa, termasuk MUI. Selain itu kita tidak ingin menjadi ormas yang mencari dan merekrut anggota atau massa, sebab ke depan sudah pasti akan memberatkan langkah dan dinamika MIUMI yang bergerak pada level wacana dan aksi sekaligus. MIUMI akan membentuk komunitas-komunitas ilmiah di seluruh daerah Indonesia sebagai tempat berhimpunnya ulama dan intelektual muda lintas mazhab Sunni, sesuai dengan komitmen awal. MIUMI lebih tepatnya menggalakkan masyarakat ilmu sehingga public Indonesia dapat menghargai produk-produk keilmuan ulama sebagai solusi bangsa.

Juga penting dicatat, konsepsi Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang diterima sebagai rumusan MIUMI adalah mencakup seluruh ormas Islam yang ada di Indonesia. Paling tidak persatuan akidah ini penting dan menjadi acuan bersama seluruh komponen yang bergabung di MIUMI. Sebab umat juga merindukan tokoh-tokoh Islam yang berbeda mazhab Sunni bergandeng tangan dan bersatu seperti dahulu Dr. Mohamad Natsir (DDII) dan KH. Masykur (NU) mendirikan Forum Ukhuwah Islamiah. Dengan framework ideology dan pemikiran yang jelas dan baku, kita dapat lebih tepat sasaran memberikan solusi Islam bagi permasalahan bangsa.

Mengapa MIUMI baru terbentuk?

Betul sekali, komunitas MIUMI ini memerlukan waktu dan kesamaan visi dan proyeksi dakwah yang strategis di Negara sebesar dan sekompleks Indonesia. Kalau kita membentuknya asal-asalan dan premature, atau asal comot orang yang tidak faham dan menjiwai dakwah dan keilmuan tentu akan sulit sekali menggerakkan dakwah berbasis riset di Indonesia ini. Kita ingin menjadikan MIUMI sebagai lembaga dakwah sekaligus lembaga think tank yang dapat mempengaruhi opini public dan para pengambil kebijakan secara maksimal di Indonesia ini. Dakwah kita bukan dakwah biasa dan rutinitas, tapi dakwah yang mengawinkan aktivisme dai dan intelektualisme ulama yang sophisticated, karena memang lahan dakwah Indonesia ini sudah banyak yang mengisi namun lemah di sisi riset dan wacana ilmiah. Cita-cita kita besar yaitu membangun peradaban Islam dengan segala struktur sosialnya di tengah umat. Dan ini tidak bisa tidak, harus dengan fondasi ilmu yang kuat.

Apakah Anda yakin MIUMI bisa bekerja dengan baik di masa depan?

Saya optimis, dengan ghirah dakwah dan kepakaran disiplin ilmu yang dimiliki oleh para pengasasnya, MIUMI akan berkiprah maksimal. Tentunya ini harus didukung oleh dana dan tim kerja yang solid. Dana ini soal dapur dan bensin organisasi untuk memaksimalkan gerak dan penetrasi ilmiah ke public secara luas. Para pengasas MIUMI tentu tidak mengharap gaji tetap, tapi kinerja organisasi pasti harus didukung dana yang cukup. Oleh sebab itu, saya mengimbau kepada umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala rejeki untuk menyisihkan harta untuk perjuangan Islam melalui MIUMI ini.

Di sisi lain, agar peran MIUMI maksimal, perlu didukung oleh tim kerja dan media yang solid. Abad kita saat ini adalah abad tekonologi informasi. Jika dahulu di abad ke-15 Sultan Usmani Muhammad Al-Fatih sanggup menaklukkan Konstantinopel –yang sekarang menjadi Istanbul Turki- dengan logistik dan pasukan militer yang kuat, maka tak mustahil, sesuai tren zaman yang terus berkembang, umat Islam akan menaklukkan Ruum, seperti prediksi Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam, dengan kekuatan ilmu, argumentasi dan media informasi sehingga Islam masuk diterima oleh seluruh rumah di bumi ini yang terjangkau sinar matahari. Insya Allah.

Sejauh ini, apa yang menjadi kekuatan bagi MIUMI?

Kekuatan kita pertama-tama adalah semangat dakwah dan ilmu (baik ilmu syariah maupun ilmu dunia). Inilah modal awal kita. Kedua, adalah semangat ukhuwah. Di MIUMI seluruh ulama muda lintas mazhab Sunni bisa duduk satu meja membahas dan mencari solusi problematika umat. Ketiga, adalah platform Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan framework pemikiran yang jelas dan konsisten, para aktifis MIUMI adalah sudah pasti anti liberal, anti Syiah, dan anti aliran-aliran sesat. Karena kita semua berkeyakinan, bahwa problematika bangsa ini, dan bahkan dunia, tidak akan bisa selesai dan keluar dari kemelutnya jika solusi yang ditawarkan tidak berlandaskan akidah yang benar dan metodologi pemahaman Islam yang benar dan valid yang telah diwariskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para ulama sepeninggal beliau.

Insya Allah, dengan tiga pilar kekuatan MIUMI itu, kita berharap Allah Subhanahu Wata’ala berkenan memberikan pertolongan-Nya kepada umat ini sehingga dapat segera keluar dari krisis multidimensi. Ingat, pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala ini sangat penting dan faktor kunci, WA MAN NASHRU ILLA MIN ‘INDILLAH, tetapi untuk meraih pertolongan Allah itu tentu saja ada syarat dan ketentuan berlaku! Yang di antaranya adalah akidah yang sahih, ukhuwah dan ittihad yang sejati, dan dakwah yang ikhlas.

Sejauh ini apa yang telah dikerjakan MIUM sejak dikenalkan di publik?

Kami berusaha memetakan potensi yang dimiliki oleh seluruh eksponen MIUMI di pusat dan daerah. Setelah maping ini selesai baru kami akan mensinergikan kekuatan potensi itu sesuai dengan bidang garapan problematika yang dihadapi umat. Karena watak MIUMI adalah komunitas ilmiah dan dakwah, maka, kedepan tak lama lagi, kami akan mengaktifkan dan menggalakkan majelis-majelis ilmiah dan muzkarah ulama muda di pusat dan daerah, setiap pekan sekali. Kita akan me-link and match-kan kajian syariah dengan tuntutan problematika umat kontemporer. Kita akan gelar majelis tafsir, majelis hadis, majelis fiqih dan ushul fiqih, majelis aqidah dan lain-lain. Produk dari muzakarah ulama dan majelis-majelis ilmiah ini lalu akan kita sosialisasikan seluas-luasnya kepada umat dalam bentuk buku, e-book, info website, dan media jejaring sosiall lainnya. Kita juga akan adakan forum jumpa pers dengan media-media Islam dan nasional (cetak, online dan Tv) untuk merespon perkembangan terkini isu-isu strategis keumatan yang bersifat nasional dan sosialisasi hasil-hasil kajian para ulama muda.

Program-program MIUMI sangat membutuhkan pemikiran dan kinerja yang tinggi, sesuai dengan tantangan factual umat di tanah air. Khusus soal peran media, kita akan bekerjasama dengan media untuk sosialisasi sikap dan fatwa serta pembentukan opini public di segala lini kehidupan.

Karena menghimpun potensi bergabai mahzab dalam Ahlus Sunna, apa yang akan menjadi kelemahan MIUMI?

Kita sadari latar belakang dari school of thoughts Sunni yang heterogen, harus diantisipasi jangan sampai perbedaan furu’ agama dapat menciptakan jarak/gap antar para eksponen MIUMI di pusat maupun daerah. Atau bisa jadi imej kalangan awam dan yang fanatis kepada ormas tertentu mungkin akan menilai kita adalah abu-abu dan tidak jelas, ini besar kemungkinan muncul karena kelompok muslim di Indonesia sudah lama terkotak-kotak. Nah kita ingin buktikan bahwa perbedaan antar mazhab Sunni di kalangan kita tidak menjadi halangan untuk berjalan bersama dan bersinergi untuk kemajuan umat.

Selain itu manajerial dan financial. Harus kita akui banyak lembaga dakwah dan pemikiran umat yang manajemennya ala ustaz atau ala kadarnya. Oleh sebab itu MIUMI harus digawangi oleh dua komponen utama; thinkers, yaitu para ulama dan intelektual, dan kaum professional yang memenej program dan mencari dana organisasi. Di mana-mana, bahkan sejarah dakwah Islam membuktikan Rasulullah selalu ditopang para pengusaha dan profesional yang dibina oleh beliau seperti Khadijah RA (istri beliau), Abu Bakr, Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf dll. Tapi kita harus optimis, “Man Jadda Wajada, Man Saara ‘ala Darbi Washala.” Jadi kita harus mengelola perbedaan ini dengan hati dan azam yang kuat.

Adakah konsep kaderisasi anggota MIUMI? Siapa saja ulama yg kriterianya bisa masuk menjadi anggota?

Kaderisasi ulama akan menjadi agenda penting MIUMI dalam jangka menengah, 5 tahun pertama. Kita harus membangun struktur ilmu yang benar dulu berdasarkan Islamic-worldview (pandangan alam Islam), lalu kita merumuskan syarat-syarat keulamaan yang bisa diterima dalam komunitas MIUMI yaitu mereka-mereka yang memiliki integritas ilmu, integritas akhlak dan integritas sosial. Integritas ilmu artinya dia harus pakar di bidang tertentu. Integritas akhlak artinya dia harus berakhlak mulia yang menjadi cerminan Islam sehingga dia pantas diteladani. Dan integritas sosiall artinya dia harus berkarya nyata menjadi agen perubahan umat dengan menulis buku, mengajar, berdakwah, dan aktif di tengah masyarakatnya. Sehingga dengan demikian, para ulama muda yang tergabung dalam MIUMI ini kelak akan menjadi pemimpin masa depan bangsa, baik di ormasnya, di struktur sosialnya, di politiknya, di ekonominya dan seterusnya.

Apa harapan Anda dengan lembaga ini ke depan?

Harapan saya, MIUMI harus menjadi lembaga dakwah berbasis riset dan keilmuan. Kita berharap juga MIUMI dapat menjadi think tank yang disegani oleh seluruh umat Islam dan komponen bangsa yang lain. Dan juga menjadi barometer opini public nasional terkait isu keIslaman dan kebangsaan. Untuk membentuk opini calon pemimpin nasional misalnya, MIUMI sudah semestinya kampanyekan pentingnya integritas ilmu dan akhlak kepada lembaga-lembaga survey sebagai criteria calon pemimpin bangsa. Solusi yang ditawarkan oleh MIUMI kepada umat dan bangsa harus fundamental, komprehensif dan solutif. Kita juga punya impian, MIUMI bisa memiliki Islamic Centre (markaz Islami) yang dapat mengorganisir kegiatan dakwah, keilmuan, training, dan pendidikan umat. Itu semua kita lakukan dalam rangka membentuk struktur sosiall umat Islam di Indonesia.

Selain itu, 5-10 tahun mendatang diharapkan kita sudah memantapkan otoritas media dan public sehingga pandangan-pandangan MIUMI dapat menjadi rujukan umat dan bangsa secara keseluruhan. Disamping itu, kita akan fokus menggarap kaderisasi ulama, sehingga pada 5-10 tahun yang akan datang ulama-ulama muda MIUMI diperhitungkan dan berpotensi menjadi pemimpin umat. Itulah cita-cita kita yang mendambakan lahirnya kepemimpinan ilmu dan ulama di tengah-tengah umat Islam. Tanpa solusi ilmu yang radikal, sulit membayangkan terjadinya kebangkitan Islam di Indonesia dan dunia pada umumnya. Wallahu a’lam bil-shawab.*/Thufail al-Ghifary

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Teroris” Sertifikat ‘Halal Membunuh’ Bagi Negara?
Tulisan selanjutnya Perampok pun Tidak Bisa Mencuri Ilmu Lagi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?