GEJOLAK kebangkita pemuda-pemudi Palestina melawan penjajah Israel dalam Intifadah al-Quds atau juga disebut Intifadah ke-3, mengagetkan dunia, termasuk kalangan Israel.
Bagaimana tidak, pemuda-pemuda Tepi Barat dan Jerusalem Timur, wilayah terjajah yang selama ini dikenal bukan potensial melakukan perlawanan layaknya bumi Gaza, yang sangat menakutkan Israel.
Namun awal Oktober 2015 lalu, para pemuda Tepi Barat dan Jerusalem Timur (termasuk kaum perempuan Palestina) di usia 15-30 tahun tiba-tiba bereaksi dengan senjata batu dan pisau melawan Israel. Penikaman terhadap warga Yahudi dan tentara Israel di mana-mana. Di bus, mall, di jalan bahkan pasar. Aksi ini membuat suasana Israel mencekam dan dilanda ketakutan.
Aksi lempar batu dan penikaman bahkan telah mengantarkan warga menjadi Syahid dalam jumlah tak sedikit. Hingga berita ini ditulis, sudah 74 warga syahid (InsyaAllah) dan Sedang total korban luka sebanyak 2355 warga karena terkena tembak timah panas. Namun Hilal Ahmar (relawan Palang Merah Palestina) mencatat, jumlah korban melebihi angka 5000 orang.
Meski angka pemuda yang gugur terus terjadi, aksi ini tak menyurutkan pemuda-pemuda Palestina bangkit melawan Israel.
Akibatnya sektor ekonomi dan pariwisata Israel mengalami kerugian luar biasa, transaksi bursa efek Tel Aviv dikabarkan rontok.
“Hari yang menakutkan di Israel…4 operasi serangan dalam 2 jam,” demikian bunyi Koran Israel Ha’aretz.
Kepanikan juga nampak pada para pemimpin politik negeri penjajah. Hingga Menlu ‘Israel’ Avigdor Lieberman mengusulkan agar membuang jasad pejuang Palestina yang melakukan penikaman ke laut.
Apa yang membuat para pemuda Palestina ini begitu gigih dan berani melawan penjajah dengan senjata-senjata modern dan canggih buatan Amerika?
Kami mewawancarai Syeikh Nidhal Khalil adalah imam dan pengajar al-Quran di Masjid Ibrahimi, di wilayah al-Quds. Sebelumnya, ia adalah seorang mudarris Al Qur’an di Masjid Al-Aqsha, namun dilarang penjajah Israel. Inilah wawancaranya.
Selama bulan Ramadhan 2015, ia sempat berkunjung ke Indonesia dalam program Silaturrahim Ramadhan Imam-imam Palestina & Suriah (SIRAMAN MANIS) yang diselenggarakan lembaga kemanusiaan, Sahabat al-Aqsha.
Selama sebulan, ia bersilaturrahim dengan warga Indonesia, menjadi imam shalat tarawih dan mengajar al-Quran. Inilah petikan wawancaranya dengan M Rizqy.
Bagaimana kabar, Syeikh?
Alhamdulillahi Robbil Alamin. Dengan keutamaan dan kemuliaan dari Allah kami masih bisa bersabar. Ribath (berjaga-jaga) di bumi kami.
Bagimana kabar keluarga di rumah?
Keluarga Alhamdulillah baik. Sekalipun ditekan oleh Zionis. Dikepung dan dibatasi rung gerak kami. Kami bersabar.
Bagaimana kondisi terkini Al-Quds?
Rakyat Al Quds bersabar di negeri mereka. Melawan demi Al-Aqsha mereka. Tidak peduli apapun yang dilakukan oleh Zionis. Zinois begitu congkak membunuhi kami dengan darah dingin. Bukan membunuh yang berusaha menikam mereka saja, bahkan Zionis membunuh para wanita, pemuda, dan anak-anak tanpa alasan. (saat wawancara ini) sudah hamper 80 syahid dan ratusan lainnya terluka.
Zionis membuat pembatas-pembatas dari tembok semen untuk membagi-bagi wilayah Al Quds.
Mereka mempersulit gerak kami. Mengepung warga sehingga tidak dapat berangkat kerja. Bahkan berkat pembatas-pembatas itu, sekolah-sekolah diliburkan selama seminggu karena anak-anak tidak bisa berangkat.
Lebih dari itu Zionis menggeledah Kaum Muslimin di Al-Quds dengan cara yang keji. Kami dipaksa untuk melepaskan pakaian kami. Jika mereka mencurigai seseorang, langsung mereka bunuh. Mereka juga mencaci maki kami dengan ucapan-ucapan yang keji.
Pada hari Jumat, kami dilarang masuk ke dalam Masjid Al-Aqsha.

Apa yang membuat para pemuda Al Quds berani bangkit?
Sebab yang membuat para pemuda itu kuat. Karena mereka berada di pihak yang benar. Mereka lah pemilik Masjid Al-Aqsha. Mereka lah penduduk negeri ini. Sampai kapanpun mereka tidak akan rela dengan penindasan dan penghinaan. Penghinaan Zionis terhadap kesucian Masjid Al-Aqsha. Terhadap kesucian wanita dan anak anak. Mereka tidak pernah rela.
Dari segi senjata saja kalah, korban banyak berjatuhan, mengapa tak menghentikan perlawanan?
Intifada harus berlanjut. Melawan adalah satu-satunya cara mengusir Zionis. Memaksa mereka untuk berhenti menistakan Al-Aqsha dan para wanita. Ketika Zionis melihat kobaran Intifada, mereka akan berfikir ulang untuk menodai Masjid Al-Aqsha.
Lagipula, kami tidak punya pilihan lain. Kami harus melawan. Kami wajib meneruskan Intifada. Para Zionis itu. Kalau kita diam saja tidak bergerak, mereka akan mengambil Masjid Al-Aqsha dan melarang kita mengunjunginya.
Apakah batu-batu itu bisa mengalahkan Zionis?
Intifada sudah berkembang. Dahulu dengan batu sekarang dengan pisau. Maka Intifada kali ini dinamakan Intifada Pisau. Namun tidak jarang kami memakai batu. Karena hanya pisau dan batu itu senjata yang kami punya untuk memerangi Penjajah Yahudi.
Kami masyarakat Indonesia hanya mampu mendoakan kalian?
Ya berdoa. Kalian harus menjadikan masalah Al-Aqsha sebagai prioritas kalian. Taburkan benih-benih cinta Masjid Al-Aqsha di hati anak-anak kalian.
Sampaikan surat dari Al-Aqsha ini kepada keluarga kami, kaum Muslimin di Indonesia. Sertakan untuk mereka gambar-gambar, berita dan jelaskan semuanya terkait peritiswa ini kepada mereka!*