“ASSALAMU’ALAIKUM, Muadz, baca al-Qur’an dulu. Aira, bacakan dulu Aki al-Qur’an, Nak.”
Dialog-dialog semacam itu menjadi rutinitas Ustadz Zainuddin Musaddad ketika membuka komunikasi dengan anak-anak dan cucunya. Mereka memang diarahkan menjadi penghafal al-Qur’an.
Zainuddin merupakan inspirator “Rumah Cahaya” yang juga pemerhati pendidikan keluarga. Semua anaknya penghafal Al-Qur’an.
Sulungnya, Baharun Musaddad, sudah hafal 30 juz dengan berbagai riwayat bacaan dan beberapa kali menjuarai lomba tingkat internasional. Adik-adik Baharun juga penghafal al-Qur’an: Rifkah Afifah Musaddad, tiga kembar (Aidah Musaddad, Athifah Musaddad, Afiqah Musaddad), dan si bungsu Dhiyaan Musaddad.
Rupanya suami dari Sulmiati Shaleh (53 tahun) ini punya password khusus sehingga anak-anaknya bisa menjadi hafizh/hafizhah. Maksudnya?
Berikut petikan wawancara Majalah Suara Hidayatullah | hidayatullah.com dengan mubaligh kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat itu, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Apakah Anda memang mengharuskan setiap anak menjadi penghafal al-Qur’an?
Ya ketika sudah melembaga (berpesantren, red), mereka pasti ditarget oleh lembaga. Tapi yang paling penting itu modal dasarnya: mencintai al-Qur’an, keteladanan, dan apresiasi kita sebagai orangtua terhadap apa yang dilakukannya.
Berapapun jumlah hafalannya, kita apresiasi. Tugas kita (orangtua) menjadi sekolah yang lebih besar, bukan pada ruang teknisnya saja.
Biarpun tinggalnya jauh, kami sampaikan, “Assalamu’alaikum, coba bacakan dulu al-Qur’an yang tadi dihafal!”
Kadang-kadang (cucu) baca terbalik-balik, tetap kami apresiasi, “Sudah menghafal al-Qur’an juga ya padahal belum bisa baca, ya Allah.”
Sampai saat ini terus dilakukan?
Masih. (Termasuk) dengan cucu. Kita jadikan password-lah. Setidaknya kita bertanya, “Sudah ngaji al-Qur’an atau belum?” Kita harus istiqamah dengan password itu.
Adapun nanti kita tanya sudah bisa naik sepeda kah, apa mainannya, dan lain-lain, itu urutan kedua, ketiga, keempat. Yang paling penting itu kita konsisten dengan hal yang “kecil”.
Perlu dicatat baik-baik, tidak ada yang kecil kalau sudah berurusan dengan al-Qur’an, kalau anak atau keluarga mencintai al-Qur’an.
Jangan ibunya terus yang disuruh baca Qur’an, kita (bapak) juga. Itu untuk memperlihatkan bahwa ini beban bersama, nikmat bersama, dan bahagia itu sesungguhnya bersama.
Contoh: Saya bersama istri sedang menghafal Surat al-Ma’arij. Ketika dia sedang baca, saya bisa nyambungkan meski sedang tidur-tiduran. Dia baca “Wallażina hum li`amanatihim wa ‘ahdihim ra’un” (ayat 32), lalu terdiam. Saya langsung menyambung, “Wallażina hum bisyahadatihim qa`imun” (ayat 33). “Oh, iya!” timpal istri.
Itu membuatnya bangga. Apa yang sedang dia hafalkan, anak-anak, ternyata kita menghafalnya juga. Atau setidak-tidaknya ketika kita sedang baca lalu ditegur sama dia, “Eh, Abi, kelewatan itu.”
Dialog-dialog seperti inilah yang dikatakan menanam atau menyemai bibit. Yang dibangun adalah perilaku cinta, di dalamnya ada kesetiaan terhadap al-Qur’an.
Apa bentuk kesetiaan pada al-Qur’an?
Bukan mencari waktu kosong, tapi mengosongkan waktu untuk (al-Qur’an). Kita ingin anak-anak juga seperti itu.
“Abi sudah sampai ayat 7 lho!” Atau, “Abi ayat 7, kita sudah 17!” Asyik saya rasakan.
Suatu saat saya minta, “Harun, coba bacakan al-Qur’an ya!” Dia baca, lalu saya tanya, “Itu Surat an-Nur ayat ke-34 ya?” Katanya, “Oh, Abah sudah hafal kalau begitu.”
Dia yang sudah hafal pun kita apresiasi. Ketika saya bisa menyambung bacaannya, menyebutkan ayatnya, atau tadabburnya, dia senang sekali.
Yang terjadi sekarang, ada yang menghendaki anaknya jadi penghafal al-Qur’an, memasukkannya ke lembaga tahfizh, namun anaknya tidak pernah menyaksikan perilaku ini pada orangtuanya. Ini adalah sebuah kegagalan.
Kegagalan bagaimana?
Harapannya tinggi, tapi di saat yang sama tidak ada “tanaman” yang disemai. Akhirnya anak merasa, “Saya bisa menghafal al-Qur’an karena di lembaga tahfizh.” Hampir tidak menyebut nama bapaknya.
Bagaimana caranya agar anak cinta al-Qur’an?
Ya bahasanya harus dalam bentuk menyemai bibit. Kalau di rumah, bibitnya ini bapak. Begitu pun istri. Namun bertumpu di bapak, karena dialah penanggung jawab dunia akhirat dalam persoalan tarbiyah.
Jangan mendelegasikan persoalan tugas-tugas tarbiyah itu selalu hanya kepada istri. Sesekali boleh, tapi tidak boleh mendelegasikan. “Ar–rijalu qawwamuna ‘alan–nisa’” Laki-laki itu mengarahkan, mengayomi, memimpin wanita, supaya nanti wanita menjadi kurikulum.
Betapa pentingnya kita (bapak/suami) menjadi bibit yang disemai kepada anak, kepada istri.
Kenapa tidak dari istri ke suami?
Sehebat-hebatnya istri menghafal al-Qur’an, belum bisa menjadi motivator untuk suaminya agar menghafal juga. Tapi sekurang-kurangnya suami menghafal, maka sudah bisa memberi motivasi bahkan menjadi tindakan.
Apalagi kepada anak-anak…
Apalagi kepada anak. Ditambah lagi anak kan support system-nya ada yang bersifat eksternal dan internal. Kekuatan yang datang dari dalam itu termasuk ibu dan bapak. Sedangkan kondisi di luar menyertainya.
Kita harus menjadi bibit kalau mau menyemainya. Jadi, jangan punya bibit, kemudian mengambil dari tempat lain.
Anak-anak tahu saya bukan penghafal al-Qur’an. Tapi mereka tahu bahwa saya menghafal al-Qur’an. Bedakan ya.
Maksudnya, perilaku ayah menghafal itu adalah bibitnya?
Itu bibit. Misalkan anak saya tanya, “Abah mana?” Umminya menjawab, “Kayaknya masih di masjid, biasanya menghafal al-Qur’an dulu.” Itu tidak rekayasa, tapi faktanya begitu.
Si Harun naik sepeda motor, begitu berhenti, masih ngaji, sambil (jalan) ke rumah. Dia terhenti saat mengucapkan, “Assalamu’alaikum.” Setelah itu melanjutkan (ngaji) lagi.
Baca juga: “Penghafal Qur’an Bisa Jadi Ilmuwan Apapun”
Suatu saat. “Ustadz, endak usah ketemu dengan saya sebelum hafal Surat ash-Shaffat.” Kalimat itu dilontarkan seorang ustadz kepada Zainuddin.
Zainuddin kemudian menghafal dan mendalami surat tersebut. Ternyata banyak berisi tentang relasi suami-istri.
“Misalnya ayat ke-27: Waaqbala ba’duhum ‘ala ba’din yatasaalun. Bagaimana seorang suami di hadapan pengadilan Allah itu ya masih berkelahi,” jelas alumnus Fakultas MIPA IKIP Ujung Pandang (1991) ini.
Pada Surat ath-Thur ayat 25-26 ada kalimat serupa, “Waaqbala ba’duhum ‘ala ba’din yatasaalun. Qalu inna kunna qablu fi ahlina musyfiqin.”
“Kedua ayat terakhir ini malah diartikan suami-istri yang sedang berdiskusi mengapa bisa berada di depan pintu surga. Rupanya, dulu keluarga itu selalu mengingat tentang siksa Allah.”
Alhasil, Zainuddin merasakan bahwa tantangan agar menghafalkan Surat ash-Shaffat itu justru menjadi hadiah bagi dirinya yang memang konsen mendorong ketahanan keluarga.
Pandangan Anda tentang ketahanan keluarga?
Kalau pakai momennya, pertama, orang yang sudah bicara tentang ketahanan keluarga itu kan pilihan hidupnya bukan baik dan buruk. Tapi sudah bicara baik dan baik sekali, berkah dan berkah sekali.
Sudah bukan lagi mau menanam, tapi sudah tertanam. Sudah ada rumahnya. Ini sudah bahagia, tapi ini lebih membahagiakan. Misalkan: “Kalau saya duluan yang ada di rumah sebelum suami, dan saya berpikir itu lebih baik, kenapa bukan itu yang dilakukan?”
Kedua, kokohnya keluarga karena ada kepercayaan yang diberikan kepada pasangan. Itu melebihi kepercayaan kepada seluruh manusia yang ada. Misalnya: berikan kepercayaan yang bersifat finansial, begitu pun terkait dengan anak. Kepercayaan itu artinya berikan kewenangan. Kalau kita mau mengevaluasinya, suasana yang santai.
Beri kepercayaan kepada istri, karena kita percaya bahwa kita sudah menjadi bagian dari tarbiyah mereka. Tarbiyah itu bentuknya memberi kesempatan belajar. Nanti puncaknya, ketangguhan keluarga itu ketika kita memberi kesempatan kepada dia untuk lebih yakin dengan Allah. Artinya, suami harus membantu istri menjadi tambah beriman. Ini ketangguhan (keluarga) paling besar.
Kini banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimana menurut Anda?
(Itu terjadi) karena pondasi rumah tangga tidak dibangun dengan cinta.
Cinta itu bukan ruang transaksi saling menyenangi. Cinta itu bangunan suci yang diberikan oleh Allah kepada mereka yang menata dirinya dengan apa yang dicintai oleh Allah, yaitu kembali ke al-Qur’an, dalam bentuk bacaan maupun ajaran.
Al-Qur’an itu tindakan. SOP (standard operating procedure). Allah menjamin kalau itu dijalankan, nyaman kamu, enak kamu, menenangkan kamu, rahmat.
Al-Qur’an ini sumber cinta. Sumber cinta yang kedua adalah ibadah. Sumber cinta yang ketiga adalah silaturahim. Tentu silaturahim bukan pertemuan biasa, (tapi) bertemu dengan orang shalih.*
- Wawancara lengkap bisa dibaca di Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2020