Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Dulu Pegang Buku, Kini Panggul Senjata

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 April 2022 06:31 6:31 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Februari 2010 20:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com — Patrick Logan selalu ingin menjadi tentara, meskipun demikian ia meyakini sepenuhnya bahwa gelar sarjana merupakan tiket sukses bagi warga kelas menengah. Sementara tentang seorang temannya yang masuk tentara selepas sekolah menengah atas, Logan berkata, “Itu karena ia merasa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.”

Logan tidak ingin seperti temannya yang pasrah berkarier di militer. Ia ingin sesuatu yang lebih baik.

Waktu pun terus berjalan, hingga pada tahun 2008 ekonomi Amerika Serikat ambruk. Waktu itu hanya beberapa bulan sebelum Logan lulus menjadi sarjana kriminologi dari Westfield State College.

“Saya melamar kerja, mungkin saya melamar ratusan lowongon. Tapi hanya mendapat 2 atau 3 panggilan untuk intervew,” kata Logan, 23 tahun.

“Awalnya saya mengira pasti karena keliru memilih pekerjaan.Kemudian saya melamar untuk pekerjaan dengan gaji standar minimum. Tapi ternyata tetap saja tidak ada panggilan interview. Itulah yang membawa saya kembali ingin menjadi tentara.”

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Logan mendaftar pada bulan Nopember 2009, ia menjadi bagian dari trend anak kuliahan, laki-laki dan perempuan yang berbondong-bondong melamar masuk dunia militer. Tujuan mereka bukan murni membela negara, melainkan mencari batu loncatan untuk memulai karier, sekaligus membebaskan diri dari deretan daftar pengangguran. Meskipun untuk itu mereka harus mengambil resiko berakhir di medan perang.

Data Pentagon menunjukkan, tahun lalu jumlah tentara baru yang memiliki gelar sarjana jumlahnya meningkat hampir 17%. Dari sekitar 5.400 orang di tahun 2008 menjadi lebih dari 6.400 orang. Jumlah prajurit baru yang berlatar belakang akademi juga meningkat, meskipun tidak terlalu tinggi, dari 2.380 menjadi lebih dari 2.570. Lulusan pendidikan tinggi 2-4 tahun jumlahnya 5,2% dari 168.000 tentara angkatan 2009.

Peningkatan pesat tahun 2009 itu sangat berbeda dengan kondisi 2 tahun sebelumnya. Kala itu Pentagon bahkan harus bekerja keras membujuk pemuda Amerika agar mau mengisi lowongan di militer. Mereka memberi iming-iming lima daftar bonus, dan pelamar yang tidak lulus diperbolehkan mengajukan protes atau bertanya jika dinyatakan gagal.

“Saya menyebutnya tahun promosi rekruitmen,” kata Dr. Curtis Gilroy, Direktur Kebijakan Rekruitmen Pentagon mengenai situasi 2 tahun lalu.

Para pengamat mencatat, ada beberapa faktor penyebab meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang ingin bergabung dengan militer. Peran AS di Iraq, bisa jadi menimbulkan sentimen positif masyarakat terhadap militer. Namun, kebanyakan pengamat setuju bahwa ekonomilah yang menjadi alasan terbesar para lulusan perguruan tinggi itu mendaftar masuk militer.

Beth Asch, seorang analis militer dari RAND Corporation, mengatakan bahwa militer mendapat keuntungan dari kondisi ekonomi yang buruk dan tingginya angka pengangggurn. Ketika tingkat pengangguran meningkat hampir dua kali dari 5,8 persen di tahun 2008 menjadi lebih dari 10 persen di tahun 2009, orang yang mendaftar militer juga meningkat.

Meskipun militer menjadi jalur karier yang biasa dipilih lulusan SMA dari masyarakat kelas pekerja, menurut Asch, lulusan perguruan tinggi juga bisa menjadikan militer sebagai pilihan di masa ekonomi sulit. Selain berkarier mereka juga bisa mendapatkan seperti apa yang didapat pegawai swasta. Misalnya perawatan kesehatan gratis, perumahan, dan tunjangan pendidikan formal.

Selain itu kata Asch, masalah waktu juga menentukan. Bagi mereka yang bisa menunggu krisis ekonomi lewat 1-2 tahun mendatang, mungkin mereka bisa bertahan. Tapi bagi yang tidak punya pilihan lain, maka mereka harus segera mendapat kerja untuk membayar berbagai macam tagihan.

Hal penting yang perlu dicatat, kata Asch, Logan dan yang lainnya memilih menjadi tentara bintara, dan bukan perwira–sebuah jalur karir yang secara tradisi menjadi pilihan lulusan perguruan tinggi.

Logan yang diinterview baru-baru ini di sebuah mall mengatakan, ia mendaftar dengan ijazah sarjananya, dan ia akan mendapatkan bayaran yang lebih tinggi daripada lulusan diploma.

“Saya tidak akan menukar latar belakang pendidikan saya dengan hal kosong. Saya yakin telah membuat keputusan yang tepat.”

Baginya tidak masalah jika ia nantinya dikirim ke Iraq atau Afghanistan. “Saya yakin memilih yang tepat. Saya punya ijazah sarjana dan akan bergabung dengan militer. Ini adalah pilihan saya.”

Nicole Feeney, 19, seorang teknsi medis dari Wilmington, lulusan diploma Middlesex Community College, menjadikan kondisi perekonomian yang buruk dan daftar tunggu yang panjang untuk masuk sekolah kedokteran yang mahal, sebagai alasannya mau menjadi tentara. Dulu ia pernah bekerja di toko permen. Setelah toko itu tutup, ia lantas bekerja di salon kecantikan kulit, sampai akhirnya memutuskan berhenti dan masuk tentara.

Ia mengatakan, beberapa orang yang dikenalnya–termasuk pacarnya yang seorang ahli listrik–memilih untuk bergabung dengan militer daripada menunggu pulihnya kondisi ekonomi.

“Ngeri rasanya membayangkan satu hari Anda punya pekerjaan, tapi besoknya Anda harus mencari pekerjaan tambahan juga, karena tidak punya uang yang cukup atau usahamu bangkrut. Sekarang ini banyak orang yang ketakutan, dan menurut saya militer merupakan sesuatu yang bisa diandalkan.”

Colin Fitzpatrick adalah pemuda yang selalu tertarik dengan militer. Meski demikian, kondisi ekonomi adalah hal yang memicunya untuk segera bergabung dengan militer AS.

Seperti halnya Feeney dan Logan, ia tidak keberatan jika harus dikirim ke medan perang. “Saya tidak berpikir tentang kemungkinan celaka. Saya tidak berpikir seperti itu. Saya melihatnya sebagai pekerjaan.” [di/tbog/hidayatullah.com]

images: boston.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berke Khan dan Golden Horde
Tulisan selanjutnya Mengapa Amerika Ingin ‘Menyuap’ Taliban?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Berita
31 Agustus 2026 22:46
Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?