Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Jabal Nur, Masjid Eksotis di Lereng Semeru

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Mei 2010 13:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Jarum jam menunjukkan pukul 11.40 ketika azan Zuhur berkumandang. Tak begitu lama, satu per satu jamaah berdatangan. Rata-rata mereka mengenakan sarung yang diselempangkan di badan.

“Dingin mas,” ujar salah satu mereka. Hal itu dilakukan hampir setiap saat, tak terkecuali waktu salat.Tradisi seperti itu untuk menghilangkan hawa dingin. Maklum, mereka adalah suku Tengger yang tinggal di Dusun Puncak, Desa Argosari, Kec. Senduro, Kab. Lumajang, Jawa Timur.

Dusun ini paling tinggi di antara dusun-dusun lainnya di Argosari. Tak pelak, hawa dingin pun sangat menusuk.

Siang itu, Selasa (3/5), mereka salat di masjid yang baru saja dibangun, setelah beberapa tahun lamanya mereka memimpikan masjid itu. Dulu hanya berupa musala berukuran 5 x 5 m berdinding papan dan beratap karung. Bahkan, terkadang menjadi tempat tidur dan kencing kambing.

Masjid itu bernama Jabal Nur. “Jabal” artinya gunung, sedangkan “Nur” adalah cahaya (Islam). Menurut, Ali Farqu Thoha, tokoh dai yang berjasa atas syiar Islam di sana, nama itu sengaja dibuat karena ingin Islam menjadi cahaya di puncak tertinggi di Senduro itu.

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

Meski tak terlalu besar, sekitar 10 x 8 m, tapi setidaknya cukup jika menampung lebih dari 50 jamaah. Belum lagi di bagian teras luar masjid.

Desain masjid dibuat minimalis, tapi modern. Dihiasi kubah bundar besar, menambah masjid ini penuh wibawa. Apalagi, di pucuk kubah bertuliskan “Allah”.

Seluruh dinding masjid bercat putih dengan keramik lantai berwarna hijau muda. Yang menambah indah masjid ini, posisinya cukup tinggi dibanding dengan rumah-rumah para penduduk. Bagian tangganya dibikin semacam tangga yang berundak-undak tinggi. Eksotis sekali.

Seperti biasa, siang itu kabut tebal turun. Seperti gerimis, kabut tersebut serasa menitikkan beberapa bulir-bulir air. Rasanya menusuk kulit. Apalagi, ditambah gigitan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Tiga lapis baju terasa masih belum cukup menghangatkan badan. Tak hanya itu, karena kabut pandangan hanya berjarak sekitar 20 m. Kontan saja, sejauh mata memandang, warna putih yang terlihat.

Tapi, tak begitu lama, matahari keluar dari awan dan kembali mengeluarkan panasnya. Perlahan, sejengkal demi sejengkal, kabut tebal pun beringsut menjauh. Kini nampak aslinya Dusun Puncak; sebuah puncak di lereng Semeru yang indah. Dan, akan lebih indah lagi jika berdiri di teras masjid. Panorama mengagumkan akan terlihat jelas. Jurang yang menganga begitu terjal di kanan dan kiri.

Masjid itu betul-betul menjadi berkah bagi warga dusun Puncak. Mengingat, bukan hal mudah untuk mendirikannya. Bukan karena dana, tapi juga lahan yang akan dijadikan masjid. Tapi, itu semua berkah setelah mereka hijrah dari Hindu ke Islam. Allah pun mempermudah pendirian masjid tersebut.

Islam Sempat Redup

Ceritanya, sekitar beberapa dekade lalu, warga Dusun Puncak umumnya beragama Hindu. Sekitar 90 persen jumlahnya. Selebihnya Islam.

Tapi sebenarnya, menurut Warsito, salah satu dai, sebenarnya agama mayoritas warga Puncak adalah Islam. Terbukti dengan adanya sejumlah peninggalan berupa musala dan sebagainya. Tapi, setelah ditinggal juru dakwah, Islam di sana pun redup, bahkan mati.

Setelah ada dai kembali berdakwah, lambat laun gelombang masyarakat yang kembali ke Islam semakin besar. Hingga akhirnya dari sekitar 37 KK atau 250 jiwa, hanya 9 KK yang masih tercacat beragama Hindu.

Masuknya mereka ke Islam, tidak terlepas di antaranya dari sosok dai Ali Farqu Thoha. Dai tulen asli Lumajang ini sudah lebih 20 tahun mengabdikan dirinya sebagai juru dakwah.

Ali mengenalkan Islam dari hal yang paling sederhana; mengucap salam. Setiap ketemu dengan warga, selalu mengucapkan salam. Lambat laun, mereka pun terbiasa dan menerima Ali.

Ali sendiri dengan medan pegunungan seperti itu, sering menempuh dengan jalan kaki. Gelap, hujan, dan jatuh sudah menjadi menu yang menemaninya selama berdakwah.

Pernah suatu ketika, pukul 20.00 malam, Ali pulang dari berdakwah dengan mengendarai sepeda motor. Motornya sudah tak layak pakai. Nah, tiba-tiba, dari arah berlawanan datang truk. Karena jalan sempit dan gelap, Ali panik takut keserempet truk. Motornya lalu diarahkan ke bibir jalan. Naas, motor tersebut justru terpleset dan jatuh ke jurang. Untung tak begitu dalam. Tapi cukup membuat sekujur badannya sakit. Lalu motornya pun ditinggal.

Tapi, meski jalan dakwahnya terjal, tetap dilaluinya dengan ikhlas dan sabar. Hal itulah yang dikagumi para warga. Apalagi pembawaan Ali yang humoris, membuat warga akrab dan senang. Warga pun tertarik dengan pesan dakwah Ali.

Seperti yang dialami Karyo Slamet. Warga Hindu dengan dua anak ini memeluk Islam setelah mendapat dakwah dari Ali. Puncaknya, ketika lebaran Idul Fitri, dia mendengar suara takbir dan terkesan hingga menitikkan air mata. Lalu dia pun masuk Islam.

Begitu juga dengan Sukari. Awalnya, dia adalah pemangku Hindu di Dusun tersebut. Namun setelah mendapat hidayah, agama tersebut dia tinggalkan.

“Saya lebih nyaman dan bahagia dengan menjadi Islam,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Belakangan Sukari yang menjadi ujung tombak dan orang terdepan jika ada masalah dengan orang Hindu, termasuk ketika hendak membangun masjid Jabal Nur.

Waktu itu ada orang Hindu yang sengaja ingin membangun pura pas di depan lahan yang hendak dibangun masjid. Sukari pun tak terima jika mas masjid berhadap-hadapan langsung dengan pura. Untuk itu, Sukari meminta agar orang Hindu mau memindah rencana pembangunan tersebut. Walhasil Hindu pun setuju, namun setelah ditukar dengan sebidang tanah miliknya.

Kini, di sebelah timur masjid, sekitar 500 meter, ada Pura. Tapi hingga kini, pura tersebut belum difungsikan.

Dana pembangunan masjid itu pun tidak sedikit. Sekitar Rp 150 juta lebih. Dananya dari berbagai sumber. Ada dari lembaga amil zakat, LSM, swadaya, dan aghniya.

Dana tersebut memang cukup besar. Pasalnya, membawa material bangunan cukup sulit. Harus digotong sejauh sekitar 3 kilometer. Kontan, ketika masa pembangunan tersebut, para mualaf libur kerja selama lima bulan. Akhir Juni depan, jika tidak ada aral melintang, masjid tersebut akan diresmikan oleh Bupati Lumajang.

Kini dengan adanya masjid, Islam di Dusun Puncak makin bercahaya. Masjid tersebut setiap saat selalu ramai dengan kegiatan; salat wajib lima kali sehari, pengajian majelis taklim, dan Taman Pendidikan AlQuran (TPA).

Menurut Ali Farqu, keberadaan masjid tersebut sangat membantu proses dakwah. “Ya, dengan adanya masjid tersebut, dakwah semakin efektif,” ujarnya. Nah, adakah Anda termasuk yang tergerak untuk membantu dana guna menggerakkan dakwah ini? [Syaiful Anshor/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Buntut Dugaan Pelecehan Nabi, Bupati Jember Didemo
Tulisan selanjutnya Husni Mubarak dan Mahmud Abbas Bahas Perundingan Palestina-Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?