SYAHARUDDIN baru saja selesai membersihkan sampah di halaman rumahnya, ketika sebuah pesan masuk ke telepon selulernya.
“Ada 13 santri yang terseret ombak di Pantai Selatan Rancabuaya….”
Kabar di grup WhatsApp-nya ini menyentakkan Syahar, panggilannya, Selasa (16/05/2017) itu sekitar pukul 16.20 WIB. Dari Cibinong, Depok, Jawa Barat, ia langsung memerintahkan rekannya, Irwan Haruen, mengecek kebenaran informasi itu dan mencari data dari lapangan.
Syahar adalah Ketua Tim Search and Rescue Nasional Hidayatullah (SARHid). Sedang Irwan pengurus Tim SAR itu Bagian Pendidikan dan Diklat.
Setelah mendapatkan info valid soal kejadian tersebut, Syahar segera mengutus tim advan SARHid, Abbas Usman dan Saiful, untuk turun duluan ke lokasi. Tim advan adalah pencari data yang awal tiba ke lokasi.
Setelah melakukan koordinasi singkat, Tim SarHid membentuk tim khusus. Dari 20 orang anggota yang diterjunkan, sebagian besar diberangkatkan ke Garut, Selasa malam itu. “Jam 20.58 WIB,” ujar Syahar kepada hidayatullah.com, Rabu (17/05/2017). Sementara anggota Tim SARHid lainnya bergerak dari Tasikmalaya.
Di bawah pimpinan Koordinator Lapangan (Korlap) Irwan, Tim SARHid tiba di kawasan Pantai Rancabuaya, Caringin, Kecamatan Purbayani, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu pagi dinihari.
Sementara Syahar, karena kesehatannya masih dalam pemulihan pasca mengalami kecelakaan lalu lintas di Jawa Tengah beberapa waktu lalu, ia belum bisa memimpin langsung timnya ke lokasi kejadian.
Baca: Terkait Santri Terseret Ombak di Garut, Hidayatullah Depok Lakukan Upaya Maksimal
Peristiwa dimaksud adalah terseretnya sejumlah pelajar asal Depok di pantai itu, Selasa sore kemarin.
Diketahui, pasca mengikuti Ujian Nasional (UN) 2017 dan ujian terbuka tasmi’ serta Tahfidzul Qur’an, sebanyak 23 orang siswa SMP Integral Hidayatullah Depok menggelar acara rihlah di Pantai Rancabuaya. Mereka berangkat dari Cilodong, Depok, Senin (15/05/2017) pagi.
Tak disangka-sangka, di tengah-tengah acara tadabbur alam sekaligus liburan itu, sebuah kejadian menimpa sebagian mereka. Sejumlah 13 santri terseret ombak saat sedang bersantai di tepi pantai. Sebagian besar selamat, sedangkan 5 orang lainnya dinyatakan belum ditemukan saat itu.
Sultan, salah seorang korban selamat yang sempat terseret arus itu, menceritakan, saat kejadian ia dan belasan kawannya sedang berdiri-diri di pinggir pantai yang airnya lagi surut. Ia menegaskan mereka tidak sedang berenang.
“(Tiba-tiba) tidak disadari air pasang,” terang Sultan sebagaimana diteruskan Ketua Yayasan Hidayatullah Depok, Lalu Mabrur, Rabu siang, yang berada di lokasi Pantai Rancabuaya.
Saat air laut mendadak pasang itu, ungkapnya, “Ternyata kaki mereka sudah tidak menapak lagi di pasir dan langsung keseret arus.”
Rabu pagi tadi, setibanya di kawasan Pantai Rancabuaya, Tim SARHid segera menemui para korban selamat itu. Mereka antara lain mengumpulkan data dan informasi soal kejadian tersebut.

Tim SARHid lalu melakukan koordinasi dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) serta pihak keamanan setempat dan pihak terkait lainnya. Tak lama kemudian, bersama Tim SAR Gabungan, Tim SARHid melakukan pencarian pertama mereka atas korban terseret ombak tersebut.
Dalam pencarian itu, Tim SAR harus melewati berbagai rintangan dan tantangan, termasuk tingginya gelombang Pantai Garut Selatan itu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun hidayatullah.com dari Tim Terpadu Hidayatullah, di antara unsur dalam Tim SAR Gabungan itu, selain Tim SARHid, ada Basarnas, Polisi SAR, Relawan Nelayan, dan lain-lain.
“Saat ini sedang evakuasi menyisir sepanjang bibir pantai dan pencarian menggunakan perahu,” demikian informasi Tim dari lokasi pencarian sekitar pukul 09.57 WIB.
Tim SAR Gabungan pun harus berjibaku melawan ombak yang tinggi. Hingga akhirnya pencarian dihentikan sementara.
“Baik. Sementara (pencarian) dihentikan, menyesuaikan kondisi ombak dan rencananya akan dilakukan penyelaman. Saat ini lagi menunggu alat dari Bandung,” informasi dari Korlap Tim SARHid Irwan sekitar pukul 11.34 WIB.
Saat itu pencarian masih nihil. Akan dilanjutkan menunggu ombak tenang. Beberapa saat selepas zhuhur, pencarian kembali dilanjutkan dengan melakukan penyisiran di pesisir pantai.
“Siang ini dilakukan penyisiran. Untuk penyelaman masih menunggu alat,” terang Harun sekitar pukul 14.14 WIB.
Tak beberapa lama, kabar terbaru datang. Salah seorang santri korban terseret ombak tersebut ditemukan.
“Alhamdulillah baru ditemukan satu orang atas nama Muhammad Faisal Ramadhana (16 tahun). Saat ini langsung dievakuasi ke Puskesmas untuk selanjutnya dibawa ke Depok,” terang Lalu langsung dari lokasi, sekitar pukul 15.30 WIB, dikuatkan pula oleh informasi dari Ketua SARHid Syahar yang memantau perkembangan pencarian oleh anggotanya itu.
Sebagian Tim SAR lainnya pun segera merapat ke lokasi Faisal berada, korban yang kabarnya ditemukan langsung oleh personel SARHid tersebut. Santri kelas 3 SMP ini ditemukan dalam kondisi nyawanya sudah tak terselamatkan.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun…” ucapan belasungkawa ini pun mengalir dari pihak Tim Terpadu Hidayatullah saat mendengar kabar duka tersebut. Pihak keluarga dan sekolah pun mengungkapkan kesedihan tak terbendung.
Baca: Lilitkan Badan Di Galon, Santri Hidayatullah Aceh Hampir Tenggelam Untuk Selamatkan Al-Quran
Sementara itu, di sela-sela rasa lelah dan letih melakukan pencarian, Tim SAR menyempatkan makan siang ala kadarnya. Dua orang anggota Tim SARHid tampak berbagi sebungkus nasi dan lauk pauk di tepi pantai, di bawah terpaan sinar matahari sore.
Perlahan tapi pasti, usaha keras Tim SAR Gabungan itu menuai hasil. Satu per satu korban terseret ombak ditemukan. Setidaknya, hingga berita ini dimuat Rabu sore jelang malam, sudah dua dari lima korban yang telah ditemukan.
“Alhamdulillah, dapat ditemukan satu lagi (korban) atas nama Khalid Abdullah Hasan (16 tahun),” lapor Lalu langsung dari kawasan Pantai Rancabuaya, sekitar pukul 16.19 WIB.

Memang, informasi-informasi terkini perkembangan dari lokasi pencarian itu dilaporkan langsung oleh Tim Terpadu Hidayatullah ke grup Crisis Center Hidayatullah yang dibentuk khusus.
Tim Terpadu Hidayatullah ini, selain oleh Tim SARHid sebagai ujung tombak pencarian, juga terbentuk atas dukungan Tim Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), lembaga kesehatan Islam Islamic Medical Service (IMS), dan unsur lain ormas Islam tersebut.
Pihak Hidayatullah berharap agar kerja keras Tim Terpadu tersebut bersama Tim SAR Gabungan dari berbagai elemen militer, pemerintah, dan masyarakat, membuahkan hasil.
“Kami berharap korban diketemukan dalam keadaan sehat, yang akan dievakuasi dan dikirim di Puskesmas terdekat untuk dicek kesehatannya,” ujar Asih Subagyo, anggota Tim Crisis Center tersebut, berharap.
Selain dalam hal pencarian korban, Tim Terpadu Hidayatullah juga terus melakukan koordinasi dan berbagai upaya lainnya yang diperlukan terkait musibah ini. Termasuk soal pengurusan jenazah, pemberian santunan bagi keluarga korban, penyembuhan trauma, dan lain sebagainya.
“Dukungan doa. Saat ini Tim SARHid persiapan balik ke posko untuk evaluasi,” lapor Irwan pukul 17.50 WIB menjelang datangnya malam.*