Musmulyadi menghimbau para dai muda tidak takut berdakwah di Wamena, dia hanya resah banyak berita hoaks yang berpotensi memecah-belah dan menimbulkan keresahan juru dakwah
Hidayatullah.com | BANYAK orang bergidik ketika menyebut Wamena, salah satu distrik di Kabupaten Jayawijaya yang sekaligus menjadi ibu kota Propinsi Papua Pegunungan. Daerah tersebut pernah diberitakan oleh media massa dengan sebutan “Wamena berdarah.”
Setidaknya ada dua kerusuhan cukup besar yang menyebabkan sebutan itu muncul dan masyarakat takut mendatangi Wamena. Pertama, kerusuhan tahun 2000, dan kedua tahun 2003.
Akibat kedua kerusuhan itu banyak pendatang yang mengungsi dan takut kembali ke Wamena karena trauma. Banyak rumah yang ditinggalkan. Banyak pula aktivitas dakwah yang terbengkalai, termasuk aktivitas dakwah para dai Hidayatullah.
“Dai-dai Hdayatullah sebenarnya sudah lama berdakwah di Wamena. Tapi setelah kerusuhan di tahun 2000, semua mengungsi, termasuk dai-dai Hidayatullah,” cerita Musmulyadi, dai muda Hidayatullah, ketika ditemui penulis di Sekolah Dai, Posdai Hidayatullah, di Jl. Sam Ratulangi, Mandala, Kecamatan Jayapura Utara, Kota Jayapura, akhir Agustus 2022.
Sebelum pecah kerusuhan itu, dai-dai Hidayatullah memang sering bolak balik ke pedalaman Wamena. Sebuah masjid di daerah Woma mereka jadikan sebagai markas dakwah.
Di sanalah mereka bermalam sebelum terjun ke beberapa daerah lain di Wamena.
Wamena adalah salah satu distrik yang dulu berada di Kabupaten Jaya Wijaya, Propinsi Papua. Kini, setelah wilayah Papua dimekarkan, Wamena menjadi ibukota Propinsi Papua Pegunungan.
Wilayahnya terletak di dataran tinggi. Penduduknya masih jarang. Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayawijaya tahun 2020, jumlah penduduk Wamena hanya sekitar 41 ribu jiwa dengan luas 249 km persegi, atau 168 jiwa per km persegi.
Bandingkan dengan Kota Depok, Jawa Barat, yang jumlah penduduknya sudah mencapai 2,4 juta jiwa padahal luas Kota Depok lebih kecil dibanding Wamena.
Masyarakat Wamena terdiri atas beragam suku. Penduduk yang beragama Islam sangat sedikit. Namun, kata Musmulyadi, masyarakat Wamena menyambut baik dakwah dai-dai Hidayatullah di tempat mereka.
“Siapa pun yang datang dengan akhlak yang baik, pasti mereka sambut dengan baik juga,” jelas Musmulyadi. Tak heran jika setiap pulang dari wilayah dakwah, dai-dai Hidayatullah kerap membawa buah-buahan dan sayuran sebagai oleh-oleh dari penduduk setempat.
Wamena memang dikenal sebagai wilayah yang subur. Buah-buahan segar banyak tumbuh di sana, seperti nanas, markisa, dan alpukat. Tanaman-tanaman itu, tumbuh dengan baik tanpa harus dipupuk.
Musmulyadi sendiri, saat kerusuhan pecah tahun 2000, masih tinggal di kampungnya di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saat itu, ia belum bergabung dengan Hidayatullah.
Namun, ceritanya kepada penulis, ia sudah mengenal baik sepak terjang dai-dai ormas Islam yang didirikan oleh Allahuyarham KH Abdullah Said ini.
“Saya tertarik bergabung dengan Hidayatullah karena dakwah di Hidayatullah bukan untuk mencari musuh. Dakwah di Hidayatullah untuk mengajak orang lain menjadi lebih baik. Dai-dai Hidayatullah tidak pernah memaksa orang lain, apalagi sampai menghina dan merendahkan,” jelas Musmulyadi.
Dai-dai Hidayatullah juga gigih berdakwah di daerah-daerah pedalaman. Musmulyadi sendiri tertantang untuk ikut ambil bagian dalam program ini. Ia bahkan diberi amanah untuk menakhodai PosDai Hidayatullah wilayah Papua, sebuah lembaga yang akan menaungi semua dai Hidayatullah di wilayah tersebut.
Musmulyadi juga tak keberatan ketika tahun 2016 ditugaskan untuk berdakwah di Wamena setelah 15 tahun lamanya wilayah itu tak tersentuh dakwah pasca kerusuhan tahun 2000.
Apalagi ia tahu bahwa para pengungsi yang dulu takut tinggal di Wamena kini sudah banyak yang kembali. Kebanyakan di antara mereka adalah pendatang, terutama dari Bugis (Sulawesi), Padang (Sumatera Barat), dan Toraja (Sulawesi).
Namun, ketika itu, Musmulyadi belum bisa menetap lama di Wamena. Sebab, amanah yang terpanggul di pundaknya mengharuskan ia tetap harus bolak-balik Jayapura Wamena.
Jarak Jayapura ke Wamena jelas tidak dekat. Untuk sampai ke Wamena, ia harus naik pesawat dari bandara Sentani, Jayapura.
Untunglah ia sudah kenal baik dengan aparat TNI Angkatan Udara setempat yang juga secara rutin terbang dengan pesawat Hercules ke sana sehingga tak perlu keluar biaya mahal untuk bisa sampai ke Wamena.
Tiba di kota Wamena, Musmulyadi masih harus berjalan kaki atau menggunakan motor ke beberapa desa binaan yang kebanyakan terletak di lereng Gunung Jayawijaya.
Lama perjalanan menuju desa binaan bisa mencapai 2 sampai 3 jam. Jalannya juga tidak sepenuhnya bagus. Beberapa kali Musmulyadi harus balik badan bila menemukan tanah longsor.
Selama berdakwah di Wamena, Musmulyadi mengaku tak pernah mengalami kesulitan. Ia juga tak pernah diganggu. Malah, ia selalu disambut baik masyarakat setempat.
Beberapa warga Wamena bahkan mengikhlaskan anaknya dibawa oleh Musmulyadi ke sekolah dai yang ia rintis di Jayapura. Kini, sudah ada 8 putra asli Wamena yang belajar di sana.
“Kita harus pandai membawa diri kalau mau diterima oleh masyarakat di Wamena. Hormati mereka, ajak mereka baik-baik. Jangan paksa mereka untuk berubah seperti yang kita inginkan. Kita berdakwah bukan untuk mencari musuh,” kata Musmulyadi.
Tantangan dakwah di Wamena adalah terbatasnya jumlah dai. Meskipun jumlah Muslim tak banyak, namun di beberapa wilayah sudah berdiri masjid. Musmulyadi sendiri sedang membina jamaah di 12 masjid yang kebanyakan terdapat di wilayah pedalaman.
“Ada satu kampung bernama Air Garam. Di sana berdiri dua masjid, namun tak ada dai yang bisa mengajarkan Qur’an,” cerita Musmulyadi. Padahal, penduduk setempat sudah menyediakan satu rumah di dekat masjid untuk tempat tinggal imam.
Mendapati fakta minimnya jumlah dai di sini, muncul gagasan Musmulyadi untuk mendirikan Sekolah Dai di Papua. Sekolah ini kelak akan mencetak dai-dai muda yang berasal dari wilayah Papua sendiri, utamanya Wamena.
Mereka yang sudah lulus akan dikembalikan ke wilayahnya untuk berdakwah di sana.
Qadarallah, Musmulyadi mendapat lahan cukup luas di Kecamatan Jayapura Utara, Kota Jayapura. Di atas lahan tersebut sudah berdiri beberapa rumah dai dan mushola sederhana berbentuk panggung yang terbuat dari kayu.
Di musholla itulah penulis berbincang-bincang dengan Musmulyadi akhir Agustus 2022 lalu, ditemani kopi dan pisang goreng. “Alhamdulillah sekarang kami sudah punya lahan ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami bisa membangun sekolah dai di sini,” kata Musmulyadi.
Meskipun sekolah dai belum berdiri secara utuh, namun belasan santri sudah belajar di sana. Kelak, santri-santri inilah yang bakal mengisi kekosongan dai di semua masjid di Wamena.
Gesekan
Wamena, kata Musmulyadi, sebetulnya tak seseram yang diberitakan media massa. Kalau pun ada pertikaian di sini, kebanyakan bukan karena faktor perbedaan agama, namun karena faktor politik. Hal ini diperparah dengan beredarnya berita-berita hoaks seputar Wamena.
Namun, bukan berarti Musmulyadi tak menemukan gesekan selama berdakwah di Wamena. Pada Oktober 2019, misalnya, Wamena rusuh. Lebih dari 8 ribu warga mengungsi ke Jayapura. Mereka diterbangkan menggunakan pesawat hercules milik TNI AU.
Kerusuhan dipicu oleh aksi demonstrasi yang tak terkendali. Lebih dari 30 orang dikabarkan meninggal dunia. Beberapa bangunan seperti rumah, kantor, kios, dan fasilitas umum, hancur. Ribuan warga mengungsi.
Saat kerusuhan meletus tahun 2019, Musmulyadi ikut menjadi relawan yang membantu menyediakan makanan dan keperluan sehari-hari untuk para pengungsi.
Yang membuat hati menjadi miris, kata Musmulyadi, setelah kerusuhan mulai mereda, beredar kabar hoaks tentang masjid raya yang dibakar massa. Isu ini disusul dengan beredarnya isu lain tentang kedatangan laskar yang siap berjihad di Wamena.
“Berita-berita hoaks yang menyebar di dunia maya seperi ini sangat merepotkan masyarakat, terutama pendatang seperti kami,” kata Musmulyadi.
Padahal, jelas Musmulyadi lagi, masyarakat asli Papua tidak pernah memusuhi pendatang karena agama. Berbagai keributan tersebut lebih disebabkan karena faktor politik.
Karena itu, Musmulyadi mengajak para dai muda di mana pun berada untuk ikut berdakwah di Wamena. “Ayo jangan takut berdakwah di Wamena,“ katanya.*