Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Musibah Sakit itu juga “Nikmat”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Mei 2010 03:26 3:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Mei 2010 03:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—“Manusia langka”, mungkin, predikat ini pantas kiranya kita sandangkan kepada Sufyan. Karena memang, apa yang menjadi prinsipnya, tidak sembarang orang mampu mengikuti. Menganggap sakit sebuah ujian, adalah sesuatu yang biasa. Namun, akan menjadi luar biasa, apabila ada orang yang ketika tertimpa sakit, ia justru merasa mendapat kenikmatan dan kelezatan, lebih mengagumkan lagi, sakit yang ia terima tergolong ‘kelas berat’, diabetes mellitus, salah satu jenis ‘pembunuh’ nomor satu di dunia.

Tapi Sufyan mampu menikmatinya, bukan menyesalinya.“Ni’mat itu tidak melulu berupa kesehatan”, ungkapnya. Boleh jadi karena sikap ridho dan pasrahnya inilah, ia akhirnya tak jadi diamputasi. Inilah pengakuannya.

***

Bukan Biasa

Pristiwa sakit yang menimpa Sufyan bermula saat ditemukannya luka di telapak kakinya pada pertengan Nevember 2008 silam. Awalnya, dia tidak mengira kalau luka itu akan berakibat fatal bagi kesehatan tubuhnya,”Saya kira itu luka biasa,” terangnya. Sebab itu Sufyan hanya berobat di Puskesmas terdekat.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Namun dua hari setelah peristiwa itu, barulah ia menyadari kalau lukanya itu, bukan luka biasa. Sebab, saat itu kakinya menjadi bengkak, berwarna hitam-hitaman, dan terus mengeluarkan cairan dan nanah. Dengan di dampingi sang istri, Siti Chud Faidah, Sufyan kembali ke Puskesmas untuk melakukan ceck up ulang. Dari pemeriksaan itu, akhirnya diketahui kalau ia mengidap penyakit diabetes. Karena lukanya terus menganga, pihak puskesmas menganjurkan kepadanya untuk melakukan perobatan di rumah sakit.

Meski demikian, Sufyan tidak serta-merta mengiyakan anjuran puskesmas untuk berobat ke rumah sakit, karena terkendala dana, “Sempat ragu untuk berobat. Karena biaya rumah sakit itukan mahal,”’ ujarnya.

Setelah melakukan musyawarah dengan keluarga dan dengan diiringi keyakinan, bahwa Allah tidak akan mungkin menguji hambanya di atas kemampuan yang mereka miliki, maka tekad untuk melakukan perobatan di rumah sakit pun jadi. Sejak itu, Sufyan menjalani rawat jalan.

Amputasi dan Serangan Jantung

Manusia hanya bisa be-rikhtiar, pada akhirnya, Allah jualah yang menentukan segala sesuatu. Begitu pula prihal penyakit Sufyan. Meskipun telah berobat di beberapa rumah sakit, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo, R.S.A.L Dr. Ramlan (Surabaya), dan R.S. Karang Menjangan, Surabaya, penyakitnya tak urung sembuh, yang ada justru sebaliknya, tambah parah.

”Kaki ini tambah bengkak, dan terus mengeluarkan nanah. Karenanya, dokter selalu menyedot nanah yang ada di dalam dengan menggunakan alat suntik,” kenangnya.

“Tidak itu aja, telapak kaki ini tak ubah seperti hati, lembek, warnanya juga seperti perpaduan antara kehitam-hitaman dan kebiru-biruan,” imbuh Sufyan.

Karena terus parah, akhirnya fonis amputasi jatuh pada diri Sufyan. Mendengar kata amputasi, naluri kemanusiaannya tumbuh, ia sempat meneteskan air mata, seraya memegangi kakinya.

“Ya Allah, bagaimana mungkin aku hidup tanpa kaki, “ begitu perasaan Sufyan dalam hati. Meskipun vonis amputasi dinilai dokter merupakan keputusan akhir, Sufyan tetap enggan melakukannya. Ia berkeyakinan,

Salah satu pegangannya adalah salah satu hadits Nabi yang berbunyi, “Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti Allah menurunkan obatnya.” [Dalam Shahih Bukhari dan Muslim]

Akibat tak mau melakukan amputasi, tidak beberapa lama, ia menderita serangan jantung. Kembali dokter menganjurkan untuk melakukan operasi. Namun ia tetap kukuh menolak. “Saya menolak. Biarlah kalau sudah tiba waktunya mati, ya mati,” tantangnya kala itu pada sang dokter.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, selama menjalani proses perawatan, nyaris tidak ada income yang masuk ke kantong keluarganya. Sufyan terpaksa melakukan cuci gudang. Semua barang-barang layak dijual ia jual. Mobil yang kreditnya belum lunas ikut amblas, sepedah motor, laptop, LCD, TV, kursi tamu, beberapa perabotan rumah tangga adalah diantaranya juga ikut lenyap.

Sementara sakitnya tak juga kunjung sembuh. Hasil roentgen menunjukkan, talapak kakinya sudah mulai membusuk, bahkan, beberapa jarinya sudah tak berfungsi lagi, karena digerogoti oleh bakteri.

Entah karena kesabarannya, suatu hari, Allah berkehendak mempertemukan dirinya dengan seorang sahabat sesama dosen yang memiliki istri seorang dokter.

Atas anjuran sang teman, Sufyan akhirnya melakukan terapi oksigen di salah dokter wanita yang tak lain adalah istri sahabatnya tersebut. Rupanya Allah berkehendak lain, sedikit demi sedikit kakinya mengalami perubahan. Lukanya yang awalnya menganga, kini telah mengering. Kakinya yang sebesar kaki gajah, mulai kempes hingga akhirnya kembali ke bentuk semula.

Istri Sholihah

Sufyan bersyukur, ia yang semua melawan kehendak dokter, akhirnya semakin yakin bahwa janji Allah benar adanya. Selain itu, salah satu yang menyebabkan dirinya termotivasi untuk sembuh adalah peran istri tercintanya yang dinilai sangat sholihah.

Betapa tidak bahagia, ia mengaku memiliki istri yang setia dalam suka maupun duka. Kesabaran istrinya, Siti Chud Faidah, di kala ia menderita, tiada ternilai harganya.

Semenjak ia menderita, Faidah lah yang akhirnya berperan ganda. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia terpaksa harus mengantar kemana-mana kegiatan Sufyan, termasuk saat mengajar kuliah. Faidah lah yang harus menjadi sopir untuk antar jemput kegiatan sang suami.

Bahkan, demi mengfokuskan perhatian dalam melayani sang suami, wanita kelahiran Surabaya tahun 1972 ini, rela menghentikan seluruh aktivitasnya, sebagai kepala sekolah salah satu MI di Sidoarjo dan kuliah pasca sarjana di STAI Al-Khaziny.

“Sebaik-sebaik perhiasan dunia adalah istri shalehah,” ujar Sufyan menukil kandungan hadits.

Kini, akibat kesabaran mereka berdua, Allah berkenan meneteskan “madu” nya berupa nikmat kesembuhan dan nikmat iman yang semakin kokoh.
Pasca perkembangan kesembuhan Sufyan, suami-istri ini yang sabar ini tengah memasang ‘kuda-kuda’ untuk menghadapi ujian akhir kuliah. Sufyan kembali sibuk menyusun disertasinya yang berjudul, “Guru Profesional Dalam Perspertif Filsafat Pendidikan Islam” , sedangkan istrinya mempersiapkan tesis yang mengangkat judul, “Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.”

Mengakhiri ceritanya kepada hidayatullah.com, Sufyan hanya berpesan pendek untuk tak selalu berprasangka buruk pada Allah, bahkan terhadap ujian berupa sakit. “Kadang, sakit itu nikmat,” ujarnya. [Robin Sah/hidayatullah.com]

Kirimkan cerita menarik Anda ke alamat [email protected]. Sekecil apapun cerita Anda, akan tetap bermakna bagi orang lain

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hamas: Amerika Penghalang Rekonsiliasi Nasional
Tulisan selanjutnya Rumahku Adalah Rumah Keledaiku

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?