Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Mestikah Kita Takut pada Islam?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2010 09:14 9:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Oktober 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Pada masa ketika bangsa kita menyaksikan meningkatnya perilaku intoleran, yang melintasi batas-batas budaya, entah berdasarkan ras, agama atau orientasi seksual, pada saat yang sama kita terpaku pada berita media nasional yang dipenuhi konflik dan kontroversi padahal kita sangat membutuhkan media yang melaporkan fakta-fakta secara berimbang. Sebuah acara berita nasional baru-baru ini menguatkan keprihatinan ini. Izinkan saya menerangkan apa yang saya maksud.
Bayangkan sebuah acara televisi ternama atau artikel majalah berita dengan judul, Mestikah Orang Amerika Takut pada Orang Kulit Hitam?
Bayangkan musik hip-hop stakato mengawali acara itu, dengan klip-klip yang menampilkan anggota geng kulit hitam yang memikul senjata, berkeliaran di kota, dan tampak menyeramkan. Bayangkan sebuah tato di pundak yang gambarnya diperbesar dan tato itu bertuliskan “Jahat sepanjang Hayat” (Thug for Life).
Begitu pembawa acara (yang namanya cukup terkenal) membuka acara, bayangkan bahwa pakar kulit putih yang hendak menyampaikan pendapat tentang akar penyebab kerusakan kota adalah orang yang dikenal rasis seperti David Duke, mantan perwakilan dari negara bagian Louisiana dan pemimpin Ku Klux Klan – sebuah gerakan supremasi kulit putih yang pernah meluas. Dengan muka polos, dan tanpa perasaan bersalah, pembawa acara meminta pendapat dari Duke, lalu Duke pun menyatakan, “Ketika orang Amerika melihat kerusuhan Los Angeles, mereka melihat masa depan mereka,” yang merujuk pada kerusuhan pada 1992 yang meletus menyusul pembebasan empat polisi kulit putih yang diadili lantaran memukuli Rodney King, seorang pengendara motor beretnis Afrika-Amerika.
Bayangkan kamera-kamera televisi berusaha mencari pendapat orang-orang kulit hitam “yang sebenarnya”. Daerah mana yang para kamerawan itu datangi? Kawasan kumuh tentu! Maksud saya, di mana lagi orang-orang kulit hitam tinggal?
Pembawa acara mengundang orang-orang Amerika biasa untuk meminta para pakar menjelaskan patologi orang kulit hitam: “Mengapa musik rap sangat merendahkan perempuan?” tanya Cynthia dari Wyoming. “Mengapa banyak sekali orang kulit hitam yang berada di lapis ekonomi dan pendidikan paling bawah?” tukas Chuck dari New York.
Apakah permulaan ini tidak mengenakkan? Tentu ya. Tanya saja Don Imus, seorang pembawa acara radio Amerika yang ditembak pada 2007 lantaran melontarkan ucapan rasis dan seksis, tentang “nikmatnya” membuat stereotipe tentang orang-orang kulit hitam. Tambahkan orang-orang Yahudi, Katolik, kaum gay dan yang lain. Bukan ide yang bagus.
Kini gantilah orang kulit hitam dengan Muslim, dan begitulah bagaimana ABC News memperlakukan Islam dan Muslim dalam acara-acaranya, 20/20 dan This Week with Christiane Amanpour.
Ada klip-klip video “wajib” tentang kamp pelatihan teroris, pesawat-pesawat yang terbang menuju Menara Kembar WTC, korban-korban “pembunuhan demi kehormatan”. Para pakar Muslim yang tampil – yang terkesan “islami” karena berjenggot panjang dan berpeci – diantaranya adalah satu orang yang menyatakan bahwa suatu saat bendera Islam akan berkibar di atas Gedung Putih. Para pakar non-Muslim yang tampil – Robert Spencer (dedengkot anti-Muslim dalam kontroversi Park51), Ayaan Hirsi Ali (penulis anti-Muslim yang banyak karyanya) dan Franklin Graham (yang mengatakan Islam “adalah agama yang sangat jahat dan keji “) – dikenal, bahkan kondang, dengan lontaran-lontaran kebencian anti-Muslim.
Tentu, tokoh-tokoh ini dengan tegas “sepakat” dengan orang-orang yang berjenggot panjang dan berpeci putih itu, dan mengulang propaganda bahwa Islam menuntut para pemeluknya untuk menguasai orang lain. Di antara Muslim “biasa” yang diwawancarai adalah seorang perempuan bercadar (kurang dari satu persen Muslimah di Amerika mengenakan cadar), dan orang-orang Muslim di kota-kota yang dipandang banyak Muslimnya seperti Dearborn, Michigan dan Patterson, New Jersey.
Apakah sebagian orang Amerika takut pada orang kulit hitam? Tentu. Tapi kita tidak menguatkan ketakutan-ketakutan itu melalui penggambaran tampang sok polos dalam acara berita terpandang. Tapi mengapa ketakutan pada Muslim diperkuat oleh siaran-siaran televisi?
Adakah penjahat di Amerika yang merupakan orang Afrika Amerika? Lagi-lagi, ya. Tapi mereka tidak ditampilkan sebagai mewakili komunitas mereka dalam acara-acara berita ternama. Mengapa acara-acara serupa mencari-cari orang Muslim yang paling menakutkan dan secara berlebihan menampilkan mereka sebagai juru bicara [semua umat] Muslim?
Tidak ada jurnalis yang akan meminta orang kulit hitam yang membawa tas kerja di jalanan untuk menjelaskan patologi seorang penjahat Afrika-Amerika hanya karena warna kulitnya sama. Tapi para jurnalis meminta Muslim Amerika biasa untuk menerangkan perilaku orang-orang yang senang membunuh dan para ekstremis, dan dengan begitu menghubung-hubungkan antara orang-orang yang “gila” dan komunitas kebanyakan.
Adakah orang-orang yang ingin mengungkapkan teori rasis tentang kejahatan orang kulit hitam, dari masalah dalam gen orang kulit hitam hingga berbagai kekurangan dalam budaya orang kulit hitam? Banyak. Tapi mereka muncul di acara berita hanya sebagai contoh rasisme, bukan sebagai pakar tentang ras.
Kita sedang di tengah perbincangan nasional tentang rasa memiliki. Ancaman pembakaran al-Qur’an di Florida dan kontroversi seputar pusat kegiatan Islam di pinggiran Manhattan adalah contoh dari perbincangan nasional tentang apakah Amerika bisa membentangkan tangan lebar-lebar untuk juga merengkuh kaum Muslim. Penggambaran yang sensasional dan tak bertanggung jawab tentang Muslim dalam media populer memang bukan penyebab Islamofobia, tapi bisa memperparah. Acara berita dan laporan media belakangan tidak turut menerangkan ataupun memahami perbincangan nasional ini; sungguh disayangkan.
Tapi perbincangan ini harus berlanjut. Dan saya harap perbincangan ini berlanjut di masjid-masjid, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan tempat-tempat suci yang lain, dan orang Amerika dari semua agama bicara bertatap muka tentang perbedaan dan tentang kemanusiaan kita bersama – bebas dari stereotipe yang belakangan sangat mencolok dalam acara televisi dan majalah kita. [ditulis Keith Ellison (D-MN) di newsweek.washingtonpost.com, Ellison adalah Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) seizin pengarang]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kemenag Akui Kemungkinan Perbedaan Idul Adha
Tulisan selanjutnya IMZ Latih Kader Pemberdayaan Kurangi Kemiskinan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?