HARI itu, kampus tempatku menuntut ilmu sedang merayakan milad ke-55. Berbagai acara digelar untuk meramaikannya. Di antaranya adalah penampilan grup musik yang populer dengan tembang-tembang Jawa yang disebut Islami tersebut. Aku sendiri tidak punya minat sama sekali dengan kegiatan semacam itu.
Terlebih sudah seharian bergelut dengan perkuliahan dan berbagai tugas makalah yang menumpuk.
“Biarlah teman-teman yang lain pergi mencari hiburan. Aku lebih baik istirahat di asrama saja daripada ikutan seperti itu,” batinku beralasan.
Usai shalat Isya, tiba-tiba seorang kawan berkunjung ke asrama. Ironis, ia ternyata ingin mengajakku ke kampus sambil menikmati suasana perayaan milad tersebut. Satu deret alasan yang kusiapkan ternyata tak cukup untuk menahan ajakan kawan tersebut. Jadilah aku dengan perasaan malas ikut membonceng motor menuju kampus kembali malam itu.
Tiba di depan GOR kampus, kakiku kuseret perlahan. Sungguh, sebenarnya aku tak ingin menghadiri acara seperti ini. Cuma apalah daya, aku juga tak sanggup menolak ajakan kawan tersebut. Mungkin imanku yang terlalu lemah. Sambil menyeret langkah, perasaanku terus berkecamuk. Seolah ada pertempuran hebat dalam dadaku.
“Ayo, Mbak silakan. Ini konsumsi ringannya,” seorang panitia menegurku ramah sambil menyodorokan sekotak snack dan minuman. “Iya, makasih ya,” kucoba membalas senyum panitia itu meski gundahku tak juga berlalu. Satu persatu kuperhatikan wajah-wajah pengunjung. Nyaris semuanya terlihat bahagia di hadapanku. Setidaknya itu kesimpulanku setelah melihat gaya duduknya yang terlihat manis dan tenang. “Ah, di sana. Iya di pojok sana,” akhirnya aku menemukan posisi duduk yang kuanggap pas. Yaitu duduk di deretan kursi belakang pengunjung.
Degh! Baru saja lima menit memperbaiki posisi di atas kursi kayu berlipat itu, jantungku langsung berdebar kencang. Suara musik itu benar-benar memekakkan telinga dan mencopotkan jantungku. Speaker raksasa yang bertebaran di setiap sudut panggung itu sukses menjalankan fungsinya dengan baik. Sound effect-nya mampu menembus seluruh persendianku. Kegalauanku kian membuncah. Tekadku makin membulat. Aku harus keluar dari ruangan ini secepatnya.
Aku segera meraih handphone bututku dari balik tas yang biasa kubawa. Entah sudah berapa tahun hape bermerk perusahaan asal Finlandia itu menemani kisah hidupku. Dengan sigap jari-jariku seolah langsung berlomba mengetik satu kalimat “aku ingin pulang duluan!” Ah, mungkin karena suara musik yang terlalu keras, sejak tadi kiriman SMSku belum juga berbalas dari kawan tersebut.
“Mengapa tidak langsung SMS ke Allah saja? Pasti Dia dengar dan langsung balas,” eEntah kenapa, tiba-tiba aku mendapat ide yang kurasa brilian seperti itu. “Ya Allah! ampuni hamba-Mu. Aku berada di sini bukan berarti aku pecinta musik. Sungguh aku tak berrasa nyaman di tempat ini sekarang. Ya Allah! gulirkanlah waktu dengan cepat biar aku bisa segera meninggalkan tempat ini. Ya Allah ampuni hamba.” Pesan singkat tersebut selesai kuketik tepat pukul 19.43.
Tak puas, aku kembali merangkai dua pesan singkat bersama telepon genggamku.
“Ya Allah! hijabilah diri ini dari penglihatan makhluk-Mu! Di sini bukan tempatku ya Allah!” “Ya Allah! apa yang terjadi padaku malam ini? aku berada di tempat yang tidak semestinya. Ampuni hamba ya Rabbi. Dadaku sakit.”
Kedua SMS terakhir itu masing-masing tercatat dalam draft tepat pukul 19.47 dan 19.50. Alhamdulillah, perasaanku jadi lega usai mengirim tiga SMS beruntun kepada Allah saat itu.
Sambil menunggu balasan SMS dari Allah, aku kembali mengirim SMS ke teman yang duduk tak jauh di samping kiriku itu.
“Sampai kapan nih kita di sini?
“Sampai bosan ya,”
“Aku mau pulang aja deh!”
“Baru mulai kok udah mau pulang sih, anti mau pulang sama siapa dan naik apa?”
“Dadaku sakit gara-gara suara musik itu,” aku beralasan yang gampang saja.
“Ya udah, anti tungguin di depan deh, biar diantar,”
“Sip, afwan merepotkan, syukron karena mau ngantar pulang,”
Alhamdulillah, lisanku lirih mengucap kata syukur. Pesan singkatku dibalas Allah dengan kontan. Sambil berjalan ke luar, aku kembali mengetik serangkai kata.
“Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah mengijabah doaku begitu cepat,” pesan itu kusimpan dalam draft tapi tetap kuniatkan mengirimnya kepada Allah sebagaimana tiga SMS ku tadi.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah [2]: 186).*/Sahlah al-Ghumaishaa, penulis aktif di Komunitas Penulis Malika