Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

“Bawalah Putriku ke Surga”[1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Februari 2016 20:42 8:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Februari 2016 20:42
Bagikan
Bagikan

“SAYA terima nikahnya … binti … dengan maskawin … dibayar tunai.”

Demikian salah satu redaksi ucapan qabul pada sebuah acara ijab qabul dalam pernikahan. Sebagaimana jamak diketahui, akad qabul tersebut tentu wajib diucapkan oleh setiap calon mempelai pria (termasuk penulis).

Di hadapan kedua saksi dan seorang penghulu, akad itu adalah jawaban pernyataan ijab dari calon bapak mertua atau wali mempelai wanita.

Alhamdulillah, waktu itu, 1 Safar 1437 Hijriyah bertepatan dengan Sabtu, 14 Nopember 2015 merupakan hari bersejarah bagiku dan perempuan yang kini telah resmi menjadi bidadariku dalam mengarungi mahligai rumah tangga. Dan semoga ia pula yang akan menjadi bidadariku di Surga-Nya, Aamiin.

Di usiaku yang ke dua puluh delapan tahun itu, tentu, zaman sekarang bisa dibilang terlambat untuk menunaikan ibadah separuh agama ini.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Pasalnya, seperti jamak diketahui, saat ini nikah dalam usia dini (muda) sudah banyak sekali terjadi di negeri yang mayoritasnya muslim ini.

Seperti apa yang pernah disampaikan salah satu penghulu dalam khutbah nasehat penikahan yang pernah kuhadiri di Kantor Urusan Agama (KUA),  sebagai salah satu persyaratan dalam proses pernikahan yang harus kupenuhi.

“Di kota ini, angka perceraian cukup tinggi. Salah satu faktor terbesar penyebab kasus itu adalah pernikahan dini, di mana kedua pasangan yang masih tinggi tingkat labilitasnya dalam mengontrol diri. Akibatnya terjadi   percekcokan yang berujung pada perceraian. Dan bahkan, tak sedikit yang menggunggat cerai adalah pihak mempelai wanita,” demikian kurang lebih redaksi tutur sang penghulu.

Tentu, pernikahan di usiaku seperti itu, bukan saja hendak menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk seperti kasus-kasus tersebut. Tetapi, lebih kepada upaya mempersiapkan diri menjemput jodoh sebagaimana memilih kriteria pasangan hidup yang disebutkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa-salam dalam salah satu sabdanya.

Adalah agama (calon pasangan,red) menjadi salah satu kriteria prioritas bagi setiap muslim ketika hendak memilih dan menetukan seorang istri ataupun suami.

Sebagaimana Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata, Nabi Muhammad bersabda, “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara yaitu sebab hartanya, kedudukannya, kecantikannya atau agamanya. Pilihlah yang beragama, maka engkau akan beruntung, (jika tidak, semoga engkau) miskin.”.

Perlu diketahui, agama di sini tidak cukup sekadar memeluk Islam, tetapi lebih dari itu yakni meliputi keluasan ilmu umum dan agama, ketaatan menjalankan segala perintah-Nya, keistiqomahan meninggalkan segala larangan-Nya, baik akhlak serta santun tuturnya dan sebagainya.

Jika kita ingin mendapatkan pasangan hidup yang shaleh dan shalehah dengan kriteria seperti di atas, tentu sangat wajib kiranya kita juga harus mempersiapkan diri untuk menjemput ‘jodoh’ yang demikian itu.

Aku pernah mendengar sebuah pernyataan, “Jodoh (istri atau suami) itu merupakan cerminan dari diri kita sendiri.” Dari pernyataan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa kalau ingin mendapatkan jodoh yang shaleh dan shalehah maka, wajib kiranya untuk menshaleh dan menshalehahkan diri lebih dulu.

Itulah langkah yang bisa kita lakukan untuk menjemput jodoh yang terbaik (mulai dari agama, keturunan, fisik sampai kekayaannya). Aku pun teringat dengan perkataan seorang motivator, “Jemputlah jodoh terbaik Anda dengan mempersiapkan diri aAnda menjadi pribadi yang terbaik juga.”

Dan pastinya, terbaik dalam konteks ini adalah ketaatan dan kepatuhan kepada Sang Khalik yang menciptakan alam semesta yaitu, Allah Azza Wa Jalla.

Baru setelah itu, dianjurkan untuk melihat keturunan, kekayaan serta fisik ataupun parasnya –yang kini justru kebanyakan menjadi prioritas muda-mudi zaman sekarang– dalam memilih dan menentukan pasangan, tanpa mau memperhatikan prioritas utama yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Murah tapi tak mudah

Sebelum ini, aku selalu dibenturkan dengan berbagai pertanyaan yang sama.

“Kapan mau menikah…?”

Apalagi, sebuah pertanyaan sebagaimana yang tertulis tepat di atas satu paragrap ini, seringkali mencuat dari bibir teman, sahabat, saudara bahkan orangtuaku sendiri.

Pernah ada pula yang melontarkan kalimat begini, “Kamu sudah waktunya menikah lho, Rasulullah saja menikah di usianya yang kedua puluh lima. Sementara, kamu sekarang sudah dua puluh delapan tahun…”

Duh…, mendengar pertanyaan itu, sakitnya tuh di sini hehehe! */Obby el-Madina

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:istrijodohmenikahpernikahansurga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ANNAS Bekasi Raya Dideklarasikan
Tulisan selanjutnya Kedutaan Rusia Posting Foto Pemboman oleh Rezim Assad, Tapi Salahkan Turki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?