Sambungan artikel PERTAMA
SEIRING berjalannya waktu, Rini semakin sadar, kedua anaknya hanyalah titipan dari Sang Khalik. Rini juga makin percaya, jika hamba-Nya selalu berusaha sekuat tenaga, pasti Allah juga memberikan yang terbaik. Rini mulai yakin dan bersangka baik kepada Allah.
Dengan bermodalkan husnuzhan pada Allah, perlahan dan pasti Rini mulai bangkit dari putus asa dan mulai tawakal. ”Saya mempunyai keyakinan sangat kuat, Allah pasti akan memberi hadiah bagi orang-orang yang ingin berusaha keras. Keyakinan itulah yang membuat saya tidak pernah menyerah dalam merawat anak-anak,” kata Rini bersemangat.
Peran besar suami dan anak sulungnya dalam membantu Rini setiap hari, membuat ia makin kuat merawat Cahya dan Nelta. Berkat dukungan keduanya itu, Rini bertekad tidak akan pernah menitipkan Cahya dan Nelta ke yayasan walau dalam kondisi sesulit apa pun.
Menurut Rini, kesembuhan bagi Cahya dan Nelta hanya bisa dilakukan dengan sesering mungkin mendampingi keduanya. Lantaran ingin selalu bersama anaknya, Rini menolak tawaran untuk kerja kantoran dengan gaji yang menggiurkan.
Ia lebih memilih mengajar privat dibanding kerja dengan jam kantor. “Karena bagi saya pertumbuhan Cahya dan Nelta lebih penting,” ujar Rini.
Bahkan beberapa bulan lalu, sang suami, Tasik, rela mengambil cuti dua tahun tanpa tanggungan pemerintah. Dengan kata lain, Tasik berhenti bekerja untuk sementara tanpa mendapat gaji.
“Tahun 2010 lalu suami cuti besar tiga bulan. Saat itu, kami merasa perkembangan Cahya dan Nelta mengalami peningkatan. Dari situlah kami berinisiatif, agar suami cuti dua tahun,” kata Rini yang sekarang mengandalkan penghasilan dari mengajar privat matematika.
Kini, Rini dan suaminya bisa merasakan hasil kerja keras mereka. Alhamdulillah, kondisi kedua anaknya berangsur membaik.
Rini tak kenal lelah melatih Cahya dan Nelta dengan cara apa pun. Termasuk melatih anaknya berjalan, bicara, dan bersosialisasi dengan lingkungan. Ia juga tidak peduli dengan intimidasi yang pernah didapatkan dari lingkungannya.
“Cahya dan Nelta saya terapi sendiri untuk bicara dan jalan. Alhamdulillah, umur lima tahun Cahya sudah bisa jalan sedangkan Nelta umur tiga tahun,” kata Rini seraya bertasbih mensucikan Allah. Sejak Cahya dan Nelta mulai bisa berjalan, Rini mempunyai terapi alami yang menurutnya cukup berhasil meningkatkan perkembangan kesehatan kedua buah hatinya. Ia sering mengajak kedua anaknya pergi keluar, ke alam bebas.
Laut, hutan, dan gunung merupakan tempat favorit bagi Cahya dan Nelta. “Kadang seminggu bisa dua kali kami pergi keluar. Mereka butuh sekali ke alam, menghirup udara segar. Itu terapi yang alami dan menyehatkan,” katanya sambil menatap kedua anaknya tersebut.
Jika nantinya Cahya dan Nelta tidak bisa normal seperti anak sehat pada umumya, Rini mengaku tidak akan berkecil hati. Ia berjanji akan selalu bersyukur kepada Allah dengan apa yang terjadi pada kedua anaknya.
Di sisi lain, Rini juga realistis terhadap kesembuhan anak-anaknya. Sejelek apa pun kondisi mereka, ia menganggap itulah keadaan normal yang bisa dicapai. “Cahya sudah bisa jalan saja bagi saya sudah merupakan hal yang luar biasa dan harus saya syukuri. Nelta sekarang sudah sehat pun juga merupakan hadiah besar bagi kami,” pungkasnya.*